Lompat ke isi

Baruang Ka Nu Ngarora/Ringkasan Cerita

Ti Wikipabukon
[ 7 ]

RINGKASAN CERITA

 H. Abdul Raup mempunyai seorang anak perempuan, Nyi Rapiah namanya. Salah seorang anak H. Samsudin, ialah laki-laki yang bernama Ujang Kusen. H. Abdul Raup, maupun H. Samsudin tergolong orang kaya di kampung pasar.
 Kedua keluarga berada itu sepakat untuk mempertemukan anak mereka dalam perkawinan. Karena kecantikannya, Nyi Rapiah (Piah) sering dijuluki bintang pasar. Ujang Kusen pun bukan sembarang orang. Ia adalah pemuda yang cukup tampan, sehingga merupakan pasangan yang serasi bagi nyi Rapiah.
 Dalam pada itu Aom Usman, putera menak kaya yang masih bujangan menaruh hati kepada nyi Rapiah. Sebelum perkawinan dilangsungkan, ia menyuruh nyi Dami, pedagang batik, memberikan potretnya dan cincin berlian kepada nyi Rapiah. Tapi usaha itu gagal, sebab tiba-tiba masuklah ibu nyi Rapiah ke dalam kamarnya.
  Setelah nyi Rapiah kawin, Aom Usman terus menggodanya juga. Ujang Kusen yang akhirnya mengetahui juga, merasa sangat tersinggung, tapi ia menyabarkan dirinya. Untuk menjauhkan isterinya dari godaan, ia membawa pindah nyi Rapiah ke Seke Awi, di mana ayahnya mempunyai pabrik penggilingan gula.
 Di Seke Awi, Ujang Kusen rajin berusaha berdagang batik, dan selang-selang berdagang ia pun membantu mengurus sawah, sehingga selalu sibuk. Ketika buah kopi di kebun sudah cukup masak untuk dipetik, Ujang Kusen membawa nyi Rapiah ke gunung, agar tak usah pulang pergi tiap hari.
 Karena udara sangat dingin, lagi pula sangat sepi dan selalu teringat kepada Aom Usmah, nyi Rapiah merasa tersiksa benar. Pada suatu hari, ketika suaminya masih bekerja di gunung, datanglah si Abdullah, orang kepercayaan Aom Usman. Ia pura-pura berdagang bahan baju, padahal ia disuruh membawa lari nyi Rapi[ 8 ]ah. Dengan mudah saja ia membujuk nyi Rapiah untuk ikut ke kota dengan dokar, yang menanti di tempat yang agak jauh dari dusun. Ia dibawa ke rumah gulang-gulang (penjaga) yang tinggal di belakang kabupaten. Tak lama kemudian datanglah Aom Usman, yang merasa beruntung sekali, karena niatnya terlaksana.
 Dalam pada itu Ujang Kusen dengan susah payah mencari isterinya ke segala peloksok, tapi sia-sia saja. Lalu ia pulang ke kota, dan nyi Rapiah dijumpainya di rumah mertuanya, H. Abdul Raup. Tapi nyi Rapiah teta membangkang, tak mau kembali lagi kepada suaminya. Sejak itu Ujang Kusen terus dirundung malang, karena tak dapat melupakan isterinya. Kesehatannya terganggu, sehingga badannya menjadi kurus. Semangat kerjanya berangsur-angsur lenyap. Untuk melupakan nyi Rapiah, ia kawin dengan perempuan-perempuan pilihan. Tetapi perkawinannya selalu kandas. Perangainya makin merosot, ia sekarang menjadi pelacur dan penjudi. Untuk mendapatkan uang, ia berani merusak harta kekayaan orang tuanya. Akhirnya ia menjadi nekat. Pada suatu hari peti besi ayahnya dibongkarnya dengan paksa, dan uang 5000 rupiah diambilnya.
 Bukan main marahnya H. Samsudin, ketika ia mengetahui perbuatan jahat anaknya. Kalau dibiarkan saja, kekayaanku pasti habis, pikirnya. Maka agar anaknya menjadi jera, ia berniat melaporkan kejadian itu kepada polisi. Kepada mantunya, H. Toyib, ia minta agar uang yang dicuri itu diakui sebagai miliknya pribadi, yang dititipkan pada mertuanya. Demikianlah, maka atas pengaduan H. Toyib, Ujang Kusen ditangkap dan dijatuhi hukum buang selama tiga tahun ke Surabaya. Kejadian itu tentu saja menggemparkan seluruh kota, karena Ujang Kusen anak orang kaya.
 Dalam pada itu sebelum Ujang Kusen ditangkap, nyi Rapiah telah dijatuhi talaq oleh suaminya, dan setelah habis idah ia segera dikawini oleh Aom Usman. Akan tetapi kebahagiaannya tak berlangsung lama. Setelah Juragan Demang tahu, bahwa nyi Rapiah bukan pasangan serasi bagi Aom Usman, ia minta agar Aom meminang calon isteri yang sederajat, yaitu Agan Sariningrat,
[ 9 ]putera wedana Anu yang berpendidikan Sekolah Belanda. Pinangan diterima dan Aom Usman tak lama kemudian nikah dengan resmi. Berhubung dengan itu nyi Rapiah harus pindah ke rumah yang lebih kecil di belakang kabupaten.
 Betapa pedihnya kejadian itu bagi nyi Rapiah tentu mudah dibayangkan, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, selain menerima saja nasibnya.


(Bersambung)