RINGKASAN CERITA
1. Si Aku datang menemui si Dia yang jadi harapan hatinya, mojang — (gadis) Bali. Mengobrol, berdiskusi tentang epos Ramayana, ternyata dua-duanya penggemar sastra lama. Tapi menurut pengakuan si Aku, ia mengobrol sekadar iseng, yang penting dekat dengan dia, tak pernah bosan, katanya.
Selesai diskusi Ramayana, atas pertanyaan si Aku, si Dia terpaksa menerangkan panjang lobar tentang arti sebutan-sebutan di Bali mulai dari Nyoman, Wayan, Made, sampai Ketut. Tentang nama-nama bulan dan hari dan sebagainya.
Waktu si Aku mendapat giliran bercerita, ia mendongeng tentang penglihatannya di Gilimanuk, keluarga bangsawan naik mobil, kemudian naik kapal, rupanya akan pergi jauh. Dalam cerita ini disisipkan perasaan si Aku, merasa heran salah seorang dari yang naik mobil dan kemudian naik kapal, seorang wanita muda tampaknya murung saja. Dan tiba-tiba saja, setelah si Dia mendengar cerita si Aku, ia jadi tidak gembira wajahnya muram seketika. Dia tabu siapa yang diceritakan si Aku, keluarga yang tidak bahagia, melalui perkawinan yang tidak harmonis, karena terpaksa.
Setelah malam baru si Dia berterus terang mengatakan mengapa cerita si Aku, — begitu mempengaruhi dirinya. la takut mengalami nasib yang sama. Ia melanjutkan bahwa orang tuanya sudah lama mendorong supaya mereka menetapkan bila sebenamya akan ber-langsung memasuki gerbang pelaminan, tapi karena si Aku datang terlambat, orang tuanya sudah terlanjut menerima janji (lamaran) orang lain. Satu-satunya jalan si Aku harus berani membawa (lari) si Dia ke Bandung (tempat si Aku).
Si Aku temyata kurang keberanian. Ia terlalu banyak memikir-kan dan mengemukakannya timbangan-timbangan di muka si Dia, dan berakhir dengan putusan: la kembali ke Bandung tanpa membawa (lari) si Dia. Si Aku kemudian menyesal atas tindakan-