Ustama kepada Kangjeng Dalam, antara lain pernah menyelamatkan Kangjeng Dalam dari bahaya maut di tengah sungai Citarum. Pada waktu itu Kangjeng Dalam sedang menangkap ikan di Citarum.
Beliau dengan pengiring-pengiringnya naik rakit dari bambu. Sekonyong-konyong turun hujan yang sangat lebat, disertai petir yang bersahut-sahutan, disertai pula dengan datangnya air bah yang sekonyong-konyong. Beberapa orang kena disambar petir dan hanyut dibawa air bah. Kangjeng Dalem juga pingsan di atas rakit. Akhirnya Bupati ditolong oleh Raden Ustama yang dengan berenang menyelamatkan rakit Kangjeng Dalem.
Yang menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda pada waktu itu, yalah Gubernur Jendral A.H. Wiese. Beliau tinggal di ibukota Betawi. Sebagian dari Hindia Belanda pada waktu itu di bawah kekuasaan Napoleon Bonaparte, raja Prancis.
Belanda dan Prancis bersama-sama melawan musuhnya, yaitu Inggris. Tapi rupanya Inggris lebih unggul, sebab beberapa daerah jajahan Belanda berpindah tangan ke Inggris, yaitu pada tahun 1907.
Pada tahun 1808, Gubernur Jendral Wiese diganti oleh gubernur Jendral Mr. H.W. Daendels. Daendels memerintahkan membuat jalan raya sepanjang pulau Jawa dari Anyer sampai Panarukan. Dan salah satu perintahnya lagi, yalah bahwa setiap orang yang telah berkeluarga harus menanam pohon kopi berjumlah duaratus batang setiap tahunnya. Baru diizinkan berhenti menanam, kalau sudah mempunyai limaratus pohon kopi yang sudah berbuah.
Pada tahun 1810 negeri Belanda dikuasai sepenuhnya oleh Perancis.
Pada 16 Mei 1811, Daendels diganti oleh J.W. Janssens, tapi hanya sebentar saja, yaitu sampai 18 September 1811, disebabkan Hindia Belanda direbut Inggris dari tangan Belanda.
Kangjeng Dalem Bandung pergi ke Betawi untuk menghadiri pesta besar yang akan diadakan pada tanggal 18 Agustus 1811