CARIOS
RADEN USTAMA
Raden Yudaparaja saudara sepupu Bupati Bandung mempunyai dua orang putra. Yang tertua bernama Raden Yudanegara dan yang bungsu bernama Raden Ustama yang dilahirkan pada tahun 1790. Pada waktu itu ibukota Bandung di Dayeuh Kolot di tepi sungai Citarum.
Pada umur tujuh tahun, Raden Ustama sudah dapat membaca Al Quran dan juga sudah pandai menulis huruf Sunda. Orang tuanya juga mendidiknya dalam tata-krama dan pergaulan yang biasa diajarkan kepada putra-putra menak (bangsawan).
Raden Ustama banyak sekali teman mainnya. Sering main dan mandi-mandi di kali Citarum, bahkan Ustama termasuk anak yang paling pandai berenang. Pada suatu hari ada anak yang hanyut di kali Citarum. Tidak ada yang berani menolongnya karena airnya sangat deras. Anak itu akhirnya diselamatkan oleh Raden Ustama, walaupun Ustama sendiri mempertaruhkan jiwanya, karena derasnya air. Pada waktu itu Bupati Bandung hadir juga.
Raden Ustama dipanggil oleh Bupati dan semenjak itu, Ustama yang pada waktu itu berumur lima belas tahun, diharuskan tinggal di kabupaten dan harus belajar tata-krama dan sopan-santun sebagai layaknya seorang menak, sebab Kangjeng Dalam ingin menjadikan Raden Ustama pembantunya yang utama. Ke mana pun Bupati pergi, ke sana pula Ustama. Bupati sangat senang dan sayang pada Raden Ustama karena tingkah-laku dan budi-pekertinya yang baik.
Karena Bupati suka berburu menjangan, maka Raden Ustama pun belajar berburu dan mengejar menjangan. Ustama pun pandai mengendarai kuda dan juga ahli kuda, Banyak sekali jasa