Haralang. Hanya di Genjru seorang yang tak terpengaruh oleh sirep Budak Manjor. Ia sedang menumbuk padi tak henti-hentinya, sedang kakinya diikat dengan rantai, tubuhnya sudah tertutup dengan dedak.
Sangat sedih Budak Manjor melihat keadaan adiknya itu. Segera dihancurkannya rantai yang mengikat adiknya itu. lesung disepaknya, alu dan alat-alat lain yang terdapat di sana dilempar-lemparkannya belaka. Lesung jatuh menjadi Gunung Lisung di desa Cihareula, Cipeundeuy. Alu jatuh di Gunung Halu, sedangkan niru jatuh di tempat yang sekarang terkenal dengan nama Sukanyiru. Dedak menjadi Pasir Huut (Bukit Dedak) dan lain-lain.
Setelah puas mengobrak-abrik negara Kuta Haralang, Budak Manjor mengajak adiknya ke Hahiangan akan menghadap kepada ibunda untuk meminta agar tubuhnya diganti.
Ketika tiba di Kahiangan, ibunda sudah mengetahui keinginan kedua putranda itu. Maka dirundingkannyalah dengan para widadari dan penghuni Kahiangan lainnya akan mengganti tubuh kedua putranda itu. Akhirnya disepakati bahwa kedua anak itu harus dilakot (disepuh) ke dalam godokan timah, jasa, kuningan, perunggu, besi, baja, perak, suasa, emas, dan intan, hingga hancur berpadu intan. Kemudian keduanyapun menjelma menjadi satria dan putri yang tampan jelita. Budak Manjor menjadi satria rupawan, yang kemudian diberi nama Raden Patih Sutra Kalang Penggung Aria Mangku Negara. Sedangkan si Genjru menjadi putri jelita yang kemudian diberi nama Nyimas Aci Wangi Mayang Sunda Purba Ratna Kembang. Setelah selesai, keduanyapun segera mendapat titah pula agar segera turun ke Buana Pancatengah.
Mereka turun di negara Kuta Haralang yang masih nyenyak tidur. Maka segera semua harta kekayaan, termasuk putri Aci Haralang, digulung oleh Sutra Kalang Panggung, lalu diboyongnya ke Kuta Tandingan. Pada kening Gajah malang ditinggalkannya surat tantangan yang menyebut namanya dan berakhir dengan ”... kalau berani, susul aku ke Kuta Tandingan”.
Waktu Sutra Kalang Panggung berdua dengan Aci Wangi tiba di keraton Kuta Tandingan, tak seorangpun mengenalnya lagi. Baginda bertanya dengan hormat: ”Siapakah gerangan Tuan berdua?”
”Hambalah orang yang dahulu disebut Budak Manjor, dan ini si Genjru, adik hamba, yang dahulu disiksa di Kuta Haralang, adik