Lompat ke isi

Kaca:Dongeng Enteng Ti Pasantren.pdf/13

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

wa ajilu bitaubati qoblalmaut .... (lekaslah sembahyang sebelum lupa dan lekaslah bertobat sebelum mati). 'Sembahyang sih jarang lupa, tapi bertaubat umumnya manusia lalai, padahal kita tak tahu kapan ajal datang menjemput', komentar sang penulis.

Kemudian judul-judul menyusul seperti berikut: Tunil (sandiwara), Menabuh Bedug (perlombaan menabuh bedung dalam bulan puasa), Bermain Bola (Ajengan suka ikut juga), Pergi ke Kota (Bertemu dengan kawan-kawan lama ketika sekolah). Dang Engkos anak Camat (sindiran tentang anak yang selalu dimanjakan), Bang Haer, Al Kadzib (Si Pendusta), Man Syabbaala Syaein .... (Siapa yang membiasakan suatu perkara pasti jadi biasa, pepatah lama: ialah bisa karena biasa) Nama (bagaimana harusnya memberi nama yang baik). Ada Setan Pinggir Kolam (sindiran yang percaya kepada setan yang suka menjelma, tak terkecuali orang yang suka mengaji), Cita-cita, Penghulu (mengapa si "aku" ingin jadi penghulu), Utang, .... semua judul dalam leretan terakhir dalam pembicaraan ini, diolah oleh sang penulis (RAF) dengan gaya santai bernada humor dengan prinsip memuji hal-hal yang patut dipuji, mencela tapi dengan sindiran halus) apa-apa yang tak patut dilakukan oleh manusia yang sadar, .... dan jadilah kumpulan cerita ini bacaan segar, menarik, tidak menjemukan.

Dongeng Enteng ti Pasantren, enteng (ringan) dalam penyajiannya, tapi cukup berbobot sastra (modern). Dan kita turut gembira, bila Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (Bandung), menganggap karya RAF ini terbaik dalam terbitan sejenis (kumpulan cerpen) dan memberikan hadiah Sastra untuk tahun 1959/1960.

Dongeng Enteng ti Pasantren, cetakan pertamanya oleh Penerbit Tarate Bandung.

Dalam kota pengantarnya Raf berkata antara lain, "Saya sampaikan Dongeng Enteng ti Pasantren, kepada masyarakat, sumbangsih bagi perpustakaan kampung halaman, tanda kasih kepada persada tumpah darah ...."

Saya kira pernyataan sang penulis ini, masih tetap

11