RINGKASAN JILID I.
I. SEJARAH DAN ASALNYA WAYANG
Pada bab satu dari buku Padalangan ini diceriterakan tentang dari mana asal wayang dan bagaimana sejarahnya wayang itu. Apabila kita bertanya dari mana asal wayang, maka jawabannya ialah dari India. Akan tetapi apabila ditanyakan apa buktinya dan bagaimana keterangannya, maka jawabannya sudah tentu tidak akan menyenangkan malah mungkin akan diperoleh suatu jawaban yang menyimpang dari pertanyaan tersebut.
Menurut tulisan-tulisan yang diketemukan, pada tahun 860 Masehi sudah terdapat "Jurubarata" yaitu orang yang memperlihatkan keahliannya di depan umum untuk mengisahkan tentang sejarah, keturunan atau ceritera yang sekarang ini disebut Jurupantun. Pada tahun 1050 Masehi yaitu pada jaman Raja Erlangga, sudah terdapat pertunjukan yang berupa kulit yang ditatah berbentuk manusia. Sedangkan untuk gamelan pengiring dipergunakan pada abad ke- 12 Masehi yaitu kira-kira tahun 1140 Masehi.
Tahun 939 Masehi waktu Prabu Jayabaya bertahta di Jawa Timur, beliau menggambarkan nenek moyangnya pada daun Lontar untuk bahan ceritera para dalang. Sedangkan pada waktu pemerintahan Raden Panji Kesatrian di wilayah Janggala yaitu mulai abad ke-13 sampai pertengahan abad ke-13 dengan julukan Prabu Surya Amisena, wayang telah mengalami perubahan terutama dalam bentuknya disamakan dengan bentuk manusia. Sedangkan gambarnya tetap dalam daun lontar. Mulai pada jaman Prabu Amisena, wayang itu diiringi gamelan dan mulai saat itulah wayang-wayang tersebut dimasukkan ke dalam kotak yang waktu itu terbuat dari suasa atau emas. Tahun 1244 Masehi, wayang mengalami perubahan lagi yaitu diperbesar dan bentuk disamakan dengan bentuk manusia.
Selain itu, wayang tidak digambarkan pada daun lontar melainkan pada semacam kertas yang tebal.
Pada tahun 1361 Masehi yaitu waktu Raden Jakasusuruh menjadi raja Majapahit dengan gelar Prabu Branata, bentuk wayang