Selain itu masih banyak lagi pantangan-pantangan dari masyarakat yang sampai saat ini masih dianggap keramat.
Di samping kepercayaan terhadap akibat dan adanya bahaya terhadap wayang yang telah dikeramatkan itu, ada juga kepercayaan terhadap kebaikan dan kebahagiaan apabila kita menanggap wayang.
Misalnya pertunjukan wayang untuk keperluan perkawinan, sunatan, selamatan dan sebagainya. Adapun ceritera yang disuguhkan tergantung pada jenis upacara apa yang akan dilaksanakan. Misalnya:
- Ceritera yang disuguhkan pada perkawinan adalah Partakrama, yaitu ceritera Arjuna beristerikan Subadra, Jaladara Rabi yaitu Baladewa bersunting dengan Irawati dan sebagainya.
- Pada upacara tujuh bulan, ceritera yang dimainkan adalah suatu ceritera yang menggambarkan lahirnya seorang pahlawan seperti: Jabang-Tutuka yaitu lahirnya Gatotkaca dan sebagainya.
- Pada upacara sunatan biasanya menampilkan ceritera yang isinya suatu sayembara, misalnya Narasoma yaitu Prabu Salya waktu muda mengikuti sayembara di Madura untuk memperebutkan Dewi Kunti.
Dan masih banyak lagi jenis-jenis upacara adat yang sering dilakukan oleh masyarakat dengan mempertunjukkan wayang, apakah itu wayang golek maupun wayang kulit. Dengan memperhatikan adanya berbagai macam pantangan yang berakibat bahaya dan berbagai macam yang membawa kebahagiaan, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang percaya terhadap pantangan-pantangan tersebut.
Seperti telah diuraikan pada bab I, Sunan Kalijaga membuat tabir dan lampu, serta gambar wayangnya oleh Raden Patih dibuat sedemikian rupa sehingga tidak persis menyerupai manusia. Dan hal ini untuk menghindari adanya pemujaan terhadap benda mati, karena akan menyimpang dari ajaran agama Islam.
Sebagai hasil ajaran yang diberikan oleh Sunan Kalijaga