2). Puisi sawer tingkeban/kandungan
Sawer kandungan dilaksanakan pada selamatan kandungan tujuh bulan. Sawer ini pun sudah jarang dilaksanakan, ternyata teks/tuturannya pun sudah sukar didapatkan.
3) Puisi sawer bayi
Puisi sawer bayi digunakan waktu anak telah 40 hari, yaitu sawer lepas tali pusat, turun tanah, mencukur rambut. Di kota-kota besar sawer semacam ini sudah jarang dilaksanakan, atau bila masih dilaksanakan upacaranya tanpa menuturkan puisi sawer. Sawer bayi disertai penuturan puisinya masih ditemukan di Tasikmalaya (syair), Majalengka (papantunan, enam seuntai, Sb3; Syair dan pupuh, Sb4), Purwakarta (syair, Sb5).
4) Puisi sawer khitan/gusar
Sawernya lebih banyak dilakukan dari pada sawer bayi. Puisi sawer yang ditemukan masih cukup banyak. Tururannya ada yang mempergunakan bentuk syair, pupuh, papantunan dan kawih. Dari 11 buah teks puisi khitan/ bentuk syair yang terbanyak dipergunakan.
5) Puisi sawer pengantin
Puisi sawer pengantin adalah yang terbanyak ditemukan dalam pupuan. Upacara sawernya masih dilaksanakan di semua daerah penelitian. Dari sejumlah 80 teks/tuturan puisi sawer terdapat 55 buah teks yang dapat disajikan. Jumlah yang dapat dikumpulkan sebenarnya lebih banyak, tetapi karena teks yang dipergunakan oleh para penutur itu banyak yang sama, jadi tidak dimasukkan ke dalam jumlah yang dideskripsikan.
6) Puisi sawer ruatan
Masih terdapat di daerah Serang, Banten. Puisi sawer yang digunakannya seperti contoh pada no. Sk 9.
7) Puisi sawer ganti nama
Rupanya upacara sawer ganti nama sekarang ini tidak biasa dilaksanakan lagi, karena itu puisi sawernya pun tidak didapatkan dari para penutur. Sebuah puisi sawer didapat dari penelitian pustaka, yakni dari majalah parahiangan terbitan tahun 1929.
8) Puisi sawer pelantikan
(telah diuraikan dengan jelas pada bab III).