Lompat ke isi

Kaca:Rangga Malela 3.pdf/18

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

X

"Panewu dipanggil Retnayu!" kata penjaga pintu gerbang ketika Sang Sunu (Pangeran) baru saja tiba dari Kahuripan.

"Darga di mana?" Sang Sunu balik bertanya.

"Tadi sedang duduk-duduk di panggung dalam taman."

"Apakah Gusti Mangkubumi dan orang-orang lainnya sudah datang dari Silalawi?"

"Belum."

Ia memandang arah ke barat. Matahari sudah hampir terbenam, tapi di ufuk barat bulan telah tampak, sebab sudah mendekati waktu bulan purnama. Berpikir beberapa saat lamanya. Kemudian lekas-lekas ke taman. Maksudnya menemui Ratnayu, keduanya Darga. Tapi ketika sampai ke tempat yang ditujunya yang ada hanyalah Nyi Tanjung sendiri. Sedang setengah berbaring di pohon bungur nampaknya seperti tengah mengenangkan masa yang lalu. Maka Rangga Lawe melirik ke kanan kiri sebab tak diduga Darga tidak ada di sana.

"Maafkan hamba!" kata Sang Sunu sambil menyembah.

"Duduklah di sini!" ujar Nyi Tanjung sambil menunjuk ke sampingnya.

Rangga Malela tak ragu-ragu. Lalu duduk di samping Retnayu. Tapi agak jauh, sebab berani duduk seharkat itu karena diperintah. Kalau tak diturut salah, sebab ia sudah mengenal baik sifatnya. Gampang naik darah puteri raja yang ini, lagi pula agak mudah tersinggung. Gampang memaki-maki, tapi murah hati.

"Saudara hamba pergi ke mana?" tanya Rangga Malela membuka percakapan.

"Darga yang anda tanyakan?" ujar Nyi Tanjung.

"Ya, tuanku!" jawab Sang Sunu sambil mengangguk.

"Dipanggil ayahnya. Entah ada keperluan apa tapi seperti penting benar. Malah semestinya kemarin juga ikut, tapi.....ada hal yang akan kuceritakan kepada anda."

"Ada keperluan apa hamba dipanggil ke mari?"

16