yang sekarang dikepalai anda boleh dikata hasil jerth payah Darga, Lagi pula barisan'itu menjadi kebanggaan seluruh rakyat Sume-danglarang. Adapun bagiku hanya merupakan andalan yang tak mungkin bisa diganti begitu saja. Aku selalu merasa aman sebab ada yang dapat dikemukakan bila ada huru-hara. Tentang Darga rasanya tak usah diceritakan dengan panjang lebar lagi. Ia seorang Senapati yang menjadi perisaiku. Tapi karena anda beruntung, sekarang Darga tak bersenjata. Akibatnya aku menjadi was-was. Hidupku tergantung pada rambut.”
”Tuan!” Rangga Malela memotong kalimat. ”Percayalah bahwa hamba dan Darga sudah seperti saudara sekandung saja.”
”Tapi dalam urusan negara tidak ada orang lain dan tidak ada saudara!” jawab Retnayu.
Sesudah berkata demikian Retnayu berdiri. Kemudian melangkah. Lalu berhenti dekat pohon kacapiring yang tak seberapa jauh dari sana. Berbicara sambil berulang-ulang menarik nafas,
”Mulai sekarang anda tak akan ditanyai lagi. Hanya dengarkanlah baik-baik. Tapi entah hari Senin entah esok pada hari Anggara, jadi dua tiga hari lagi anda dan pasukan pilihan akan dikirimkan ke Madialaya.”
”Hamba juga sudah tahu.”
”Mengapa sudah tahu?” Nyi Tanjung heran. ”Sebab setahuku urusan ini agak dirahasiakan bagi orang banyak sejak jauh hari.”
”Sebab sekarang ini di Kutamaya dinding rumah pun bertelinga.”
”Sudah tahukah atau belum apakah sebabnya anda disuruh berperang ke Madialaya?”
”Tahu, sebab lamaran kemenakan Ageng Langkara ditolak oleh adik Sri Prabu Madialaya.”
”Coba pikir, pantas atau tidak pasukan Sumedanglarang dikirimkan ke Madialaya buat kepentingan si Jayadipati?”
”Tentang hal itu hamba tak dapat berkata apa-apa. Sebab bagaimana pun juga hamba hanya salah seorang prajurit yang selamanya harus tunduk kepada darma kesatriaan.”
”Nah, anda membuka rahasia sendiri, Nunggal!” Retnayu tersenyum. Baru saat itu ia berbalik. ”Maka kataku tadi tugas