Dua hari kemudian sejak pagi-pagi sekali orang banyak dari tempat-tempat yang jauh datang ke kota. Pusat kota sesak sebab hampir semua orang sudah tahu bahwa hari itu pasukan kebanggaan seluruh isi negeri akan berperang ke Madialaya.
Sejak lewat tengah malam gong keramat dipukul orang sebagai tanda perang hampir tak henti-hentinya. Tabuh-tabuhan berbunyi serempak sehingga tak keruan kedengarannya. Tapi meskipun keadaan demikian ramainya kebanyakan orang tak begitu cerah. Semuanya mengkhawatirkan mereka yang akan berebut nyawa. Namanya juga perang, baik kalah maupun menang pasti merugi. Apa lagi melakukan serangan ke Madialaya karena Jayadipati ditolak lamarannya ojch Dewi Sondari. Adapun Jayadipati bagi orang Sumedanglarang bukan termasuk kerabat. Sebenarnya tak usah mengirimkan pasukan Sumedanglarang.
Antara pukul tujuh dan sembilan pagi orang-orang yang akan berangkat ke medan perang sudah siap di alun-alun. Semua berbaris di atas kuda. Semuanya tegap dan gagah. Senjatanya seragam. Separuhnya memegang tombak. Separuhnya lagi memegang busur. Anak panahnya disandang dalam tabung bambu sebesar betis orang tua. Anak panah cadangan disorenkan pada pinggang kuda kiri kanan berselang dengan perbekalan. Para kepala perangnya dari golongan panewu panatus bergolok panjang, golongan paneket goloknya lebar. Adapun hulubalang pihak Sumedanglarang ialah Pangeran Rangga Malela. Senjatanya pedang yang dibawanya dari Galuh. Pemberian Prabu Wangi sebagai ganjaran ketika beliau melancarkan serangan ke daerah timur.
Orang banyak dan para pembesar tercengang melihat senjata Sang Sunu saat itu. Sebab sarung dan gagangnya dilapisi emas lembaran. Apa lagi ditaburi permata yang berkilau dan berkedip tertimpa sinar matahari yang demikian gemilangnya.
Delapan ratus orang prajurit pilihan Sumedanglarang ditambah dengan lima puluh orang prajurit Jayadipati dari Silalawi memang