Lompat ke isi

Kaca:Rangga Malela 3.pdf/28

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

merupakan pasukan yang sangat kuat untuk menyerang kerajaan Madialaya. Kerajaan itu hanya negara kecil yang menurut kabar tak pernah berperang. Adapun bagi Sumedanglarang sejak dikuasai oleh wangsa Silalawi dibawah pengaruh Langkara perang itu merupakan kegemaran.

Pasukan pilihan Kutamaya yang dengan susah payah dibangun oleh Darga seluruhnya berkekuatan seribu orang. Tetapi yang dua ratus orang lagi yang dikepalai oleh panatus Mardi dan Jayeng tidak dikirimkan. Memang agak ganjil Mardi tak disuruh pergi itu sebab semua orang sudah tahu bahwa kepala perang setengah umur itu adalah perwira pengawal Darga. Pada waktunya perang tidak teratur Mardi memang pemberi nasehat dan petunjuk kepada Darga. Adapun Jayeng tidak termasuk hitungan sebab jadinya kepala perang karena menjadi salah seorang pengawal Gati. Sedangkan Gati adalah satu-satunya pemuka yang amat dekat dengan Langkara. Malah dengan Gatilah Langkara biasa berunding mengenai urusan yang bertalian dengan negara.

Berbeda dengan biasa para tamtama dan para kepala perang yang akan berperang itu. Lazimnya yang akan maju ke medan perang merasa akan menang dan berani, tapi saat itu meskipun keberanian mereka tidak berkurang, mereka tampak seperti waswas. Soalnya karena mereka agak meragukan panatus baru yang baru beberapa hari saja diangkat menjadi kepala mereka, tahu-tahu dipercaya untuk menyerang sebuah negara yang begitu jauh dari Sumedanglarang. Lagi pula Mardi yang bagi mereka merupakan kepala kedua dari Darga mendadak tidak diizinkan berangkat bersama seratus orang prajuritnya.

Melihat keadaan para tamtama demikian orang banyak yang akan mengantar mereka merasa khawatir juga. Apa lagi kaum kerabat meskipun betul ikut hadir, tapi pikirannya goyah. Bagi mereka saling dekap mendekap disertai tangis saat itu. terasa seperti perpisahan. Bagaikan akan ditinggal oleh orang-orang yang tak akan pulang kembali. Malah sampai ada beratus-ratus orang yang menangis, bahkan kaum wanita baik ibu para senapati, maupun istri atau kekasih banyak yang berpegangan kepada pinggang dan kaki mereka yang akan berangkat.

Angin lembut bertiup memadu suara bunyi-bunyian sehingga

26