Lompat ke isi

Kaca:Rangga Malela 3.pdf/29

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

terdengar ke mana-mana. Sungai di lembah bagaikan memekik ikut teringat kepada yang akan berangkat. Malah oleh para tamtama suara angin dan air itu kedengarannya seperti melarang pergi.

Dalam pada itu diamlah orang banyak yang tadinya gaduh. Bunyi-bunyian mendadak bungkam tak ada yang kedengaran. Turunlah orang-orang dari panggung. Permaisuri diapit oleh Darga dan Nyi Tanjung. Di belakangnya Nyi Tongkeng dan suaminya. Gati diiringkan oleh orang-orang yang membawa umbul-umbul. Semuanya langsung menuju Panewu yang saat itu duduk agak menengadah di barisan paling depan. Mengenakan ikat kepala sutera hijau, baju putih, celana sutera biru. Tampan pantas gagah berani. Dengan sekelibat juga orang tahu bahwa ia bukan sembarang manusia. Sungguh berperawakan pemuka, berwajah ningrat. Pancaran matanya penuh wibawa, sikapnya patut bagi orang yang tak kenal takut. Yang berani melupakan isteri dan tak segan mengorbankan jiwa raganya.

Yang datang dari panggung berpencar menjadi dua. Permaisuri dan Nyi Tanjung serta senapatinya menuju Panewu, diiringkan oleh yang membawa umbul-umbul. Adapun Langkara dan Gati menghadap Jayadipati yang berada dalam barisan kesembilan sebab mengepalai prajurit-prajurit Silalawi.

Nyi Tongkeng dan suaminya mengikuti ibunya menemui Darga.

Ketika Nyi Tanjung berdua sudah berada di mukanya, Sang Sunu turun dari kudanya. Kemudian menyembah dengan hormat. Maka mereka balik menyembah. Lalu Nyi Tanjung berkata,

”Mohon maaf, tuanku, hamba mengaku kata-kata hamba menyinggung perasaan tuanku.”

Rangga Malela segera mengerti. Nyi Tanjung berkata demikian karena sebelumnya pernah menyindir. Pada saat itu Nyi Tanjung sudah tahu bahwa Nunggal bukanlah sembarang orang. Bukan orang yang tak tentu tempat tinggalnya yang hanya bermaksud mencari makan di Kutamaya. Melainkan mempunyai tujuan yaitu menunaikan tugas dari Sri Maha Prabu Niskala Wastu Kancana. Ia mendapat tugas untuk membasmi kelaliman dan menegakkan keadilan di tanah Sunda sebelah barat. Memang sejak Langkara

27