habis di sini. Jadi siapakah yang beruntung? Dan siapakah yang merugi?”
Penatus tua cepat bangkit mendengar kata-kata temannya tadi. Kemudian ia melangkah ke muka, lalu berbicara lagi,
”Memang betul! Jika terjadi perang campur aduk kita akan merugi. Malah saya ragu apakah dalam pertarungan itu Jaya akan ikut memperebutkan nyawa. Coba saja pikir, selama dalam perjalanan mereka selalu sengaja membiarkan kita berjalan lebih dulu. Lagi pula kalau kita bermalam mereka tak pernah mau bergabung dengan kita. Rupa-rupanya mempunyai tujuan tersendiri. Bila pertarungan pecah mereka akan meninggalkan gelanggang. Lagi pula saya merasa diingatkan oleh teman tadi, sebab jika kita menang perang yang akan merasa enak jelas Jayadipati. Tapi kalau kalah, kita akan binasa di negeri orang. Barangkali lama sebelum itu Jayadipati sudah mundur dari medan jurit. Lalu melapor kepada Ageng Langkara bahwa kita sudah punah. Nah, justru inilah yang dikehendakinya. Kita ditimpa celaka. Itulah sebabnya mengapa untuk menyerang Madialaya hanya kita yang diberangkatkan. Cuma memberangkatkan barisan kuda yang menjadi kebanggaan rakyat Sumedanglarang dan andalan Nyi Ayu Sekar Tanjung. Memang sekarang kita mengerti.”
”Syukurlah kalau anda mengerti,” ujar Rangga Malela sambil tersenyum. ”Jadi tak usah berkata apa-apa lagi. Sebab sekarang bagi semua orang sudah jelas. Anda semua diberangkatkan ke Madialaya dengan niat Langkara agar anda binasa semua. Agar punah sehingga hanya nama sajalah yang pulang kembali Sumedanglarang. Memang itulah tujuannya yang utama. Tujuan lainnya ialah buat melumpuhkan kekuatan Darga yang menjadi tameng dada Nyi Ayu Sekar Tanjung. Semua orang maklum bahwa Nyi Tanjung dan Darga merupakan rintangan yang amat besar bagi Langkara. Mustahil terlaksana angan-angannya bila Darga tetap mempunyai kekuatan. Nah, apakah yang mesti kita perbuat sesudah kita sepakat tentang hal ini?”
Semua orang hening. Tak ada yang mengatakan sepatah kata