Lompat ke isi

Kaca:Rangga Malela 3.pdf/41

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

mengedipkan mata. Darga mengangguk. Roman mukanya tampak sedih.

”Mengapa sampai terjadi demikian, kak?” tanya Sang Sunu tetap heran.

”Sudah dapat diduga dari semula akan terjadi begitu,” jawab Darga dengan mata basah. ”Malah bukan cuma sampai di situ. Masih ada kejadian yang tak mungkin saya ceritakan. Nanti saja oleh Retnayu kalau urusannya dengan Prabu Anom Silalawi sudah selesai.”

Rangga Malela diam sambil berpikir. Lalu menatap Jayadipati yang saat itu tetap tenang saja sekalipun Nyi Tanjung memakinya habis-habisan.

”Jaya!” Sekar Tanjung makin tak sabar. "Aku sengaja datang ke tempat yang akan bertanding karena ingin mengadakan perhitungan dengan kau. Jangan khawatir, Jaya! Bagaimanapun juga aku tak mungkin minta tolong ke sana ke mari. Aku akan mengandalkan kepada tenaga dan kepandaian diri pribadi. Kedua pedang ini sorenan mendiang ayahku sebelum wafat diracuni ayahmu.”

Retnayu berhenti bicara. Memandang Jaya dengan gigi gemertak. Pedang tak lepas dari tangannya. Orang banyak juga baik dari pihak Sumedanglarang, maupun Silalawi memandang Jayadipati. Atau sesekali melirik ke Nyi Tanjung. Semua orang penasaran bagaimana akhirnya dalam pada itu Jayadipati maju beberapa langkah. Agak dekat dengan Sekar Tanjung. Setelah jaraknya kira-kira lima langkah, berhenti lagi. Tanpa merasa takut sedikit pun karena diancam, ia berkata,

”Sebenarnya ada apakah, Inji? Tak dapat dimengerti sama sekali. Kakak ingin jangan sekonyong-konyong marah saja! Bicaralah dulu baik-baik, supaya kakak tahu duduk perkaranya.”

”Supaya tahu duduk perkaranya? Mesti bicara dulu baik-baik?” Sekar Tanjung makin marah. ”Apakah tak kedengaran oleh kupingmu dari tadi aku berbicara baik-baik? Maksudmu ingin lebih baik dan lebih jelas barangkali? Buat apa bicara terlalu jelas dengan orang semacam kau? Sudah terang manusia yang tak cepat mengerti. Manusia berkulit tebal!”

39