Lompat ke isi

Kaca:Rangga Malela 3.pdf/58

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

menasihati mereka dan para senapati, kakak naik ke atas kuda, lalu kabur, karena sangkaku buruk. Sayang bisa jadi sudah tiada. Sebab kata kakanda Sayang, jenazah yang hangus bukan hanya satu. Tetapi Sayang sekarang masih ada, utuh tak kurang suatu apa. Jelas bukan hantu, jelas bukan roh-roh yang berkeliaran karena badan tidak mendapat kesempurnaan. Lagi pula menurut orang-orang yang tahu roh-roh demikian ke luarnya biasa malam hari. Dari senja sampai terbit fajar.”

Sekalipun tak berhenti menangis tapi tak luput kata-kata Sang Sunu didengarkannya juga. Retnayu bangkit, kemudian merangkul serta terus berpegang erat kepada Rangga Malela. ”Tuan”, katanya hampir menangis. ’Bagaimana pun juga mulai saat ini hamba ingin ikut. Hamba menyerahkan diri sepenuhnya. Akan dipekerjakan sebagai tukang tumbuk padi atau tukang tanak nasi hamba bersedia. Hamba sudah terang orang gunung yang biasa bekerja kasar.”

Rangga Malela terharu mendengar orang yang berbicara menyedihkan sambil menyerahkan diri itu. Dipegangnya dagu Retnayu supaya menengadah, katanya,

”Sayanglah buah hati kakak, Sayanglah bakal teman hidup kakak. oleh sebab itu mulai sekarang jangan menyebutku tuan lagi. Dan mari kita lekas pergi dari sini. Menuju Madialaya. Alangkah senangnya nanti Kak Tanjung bertemu dengan kakak dan Sayang.”

Sesudah reda ia memandang muka Rangga Malela yang saat itu memang sedang menatap dengan mesra kepadanya. ”Kakak!” ujarnya hampir menangis dan seperti ragu-ragu.

Rangga Malela mengangguk sambil tersenyum manis, ”Ya, ya, kakak ini buah hati Sayang. Adapun Sayang merupakan jiwa raga kakak pribadi.”

”Apakah betul kali ini akan bertemu dengan saudara?”

”Oleh sebab itu mari cepat-cepat ke Madialaya! Mari kita menuju kota yang tenang, sepi dan tenteram. Mudah-mudahan suatu waktu kita dapat bersama-sama memerintah negara di Sumedanglarang!”

”Kakak tidak akan meninggalkan saya lagi?”

56