XIV
Baru saja mereka meninggalkan Cikahuripan, malah belum jauh berjalan dari lembah, baru kira-kira tiga ratus tumbak. Mendadak langit yang tadinya cerah menjadi mendung seperti kering di luar basah di dalam. Angkasa yang terang benderang mendadak ditaburi awan hitam penuh mengandung hujan. Malah suara angin yang baru saja sepoi-sepoi membawa bau yang lazim tercium di dalam hutan sekarang menjadi sunyi bukan buatan sehingga dahan pepohonan diam tak ada yang bergerak sama sekali. Padahal tadi ketika akan meninggalkan telaga daon-daon melambai bagaikan menyatakan selamat jalan.
Tapi sekarang hening bukan kepalang. Hutan yang memang sudah amat sunyi sesudah khewan-khewan kabur sejak lembah dibakar oleh orang-orang kota jadi semakin sepi sesudah pepohonan tidak berkeresek dan angin tidak bertiup sepoi-sepoi lagi.
Retnayu dan Sang Sunu tahu bahwa tak lama lagi hujan akan turun. Tapi hal itu tak diacuhkan sebab kedua-duanya ingin lekas-lekas ke luar dari hutan yang begitu menakutkan. Mumpung masih terang. Yang akan ditempuh berupa jalan setapak baru yang dilalui prajurit-prajurit Langkara setelah menganiaya seisi lembah. Bila sudah gelap karena permukaan bumi diselubungi kabut jalan yang akan diinjak pun tentu tak akan kelihatan.
Retnayu duduk di atas punggung si Tuhu sambil erat memegang suri karena takut jatuh. Maklumlah ia selalu berada di gunung dan tak pernah bepergian ke mana-mana. Mustahil ia berkuda seperti sekarang.
Untunglah ada jalan baru sebab jalan yang begitu susahnya dilalui dan terhalang oleh tumbuh-tumbuhan bekas huma jadi agak mudah ditempuhnya. Hanya si Tuhu jadi sering terantuk dan terpelecok, sebab batu berserakan di mana-mana. Apa lagi jalan menurun dan kadang kala dekat pinggir jurang yang curam.