Lompat ke isi

Kaca:Rangga Malela 3.pdf/7

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

IX

Setelah setahun menjadi orang kota pada suatu waktu Rangga Malela datang lagi ke Cikahuripan. Langsung menuju ke telaga, sebab jalan yang ditempuhnya adalah bekas yang dilaluinya dulu yang ditunjukkan oleh Sekarwangi.

Dari kejauhan tampak kera-kera sudah tak bisa diam. Menjerit-jerit, memekik-mekik, mencebikkan bibir dan mengerenyot. Retnayu yang saat itu sedang melepaskan lelah di tepi telaga sambil menjumbaikan kakinya ke dalam air, terpaksa membentak binatang-binatang yang tak bisa diam itu. “Buyung!” katanya sambil mengernyitkan keningnya. “Apakah kalian tidak melihat aku sedang menikmati angin sepoi-sepoi basa? Mengapa gerangan kalian ini?”

“Rupanya cemburu karena ada orang baru.”

Rangga Malela menjawab sambil menghampiri orang yang duduk bersandar kepada akar beringin sambil merentangkan kakinya.

“Sekarang rupanya kakak tak mungkin ditolak dengan jampi.”

Dari semula Sekarwangi sudah mengenal Tamu. Sebab tadi juga sudah mendengar bunyi kersiknya ketika masih mencari jalan di tempat yang penuh dengan rerumputan. Menyapa kera-kera cuma berpura-pura saja. Malah saat Sang Sunu (Pangeran) sudah berdiri di sampingnya, terus saja ia menengadah sambil berkata lagi kepada binatang-binatang yang melompat-lompat, “Ada apakah kalian, Buyung? Diamlah, aku tak tenang!”

Sehabis berkata demikian pandangannya tertuju kembali kepada air yang jernih beriak-riak dipermainkan oleh angin yang mencari jalan lewat celah-celah tepi jurang. Ia berniat membuang muka sebab enggan bertemu pandang dengan jejaka yang pernah menyakiti hatinya. Tapi ada-ada saja, ketika memandang permukaan air tampak Tamu sedang berdiri sambil menatap.

Melihat orang tersenyum timbullah rasa bencinya. Malah

5