Lompat ke isi

Kaca:Rangga Malela 3.pdf/8

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

kalau tidak teringat kepada nasihat orang tua rasanya ia ingin muntah. Karena enggan bertemu pandang, ia memejamkan matanya dengan sekuat tenaga sambil menutupinya dengan kedua telapak tangannya. Meskipun demikian dadanya seolah ditumbuk-tumbuk. Hatinya rasanya disay at-sayat, badannya menggigil seperti diserang panas dingin.

”Sayang!” ujar Rangga Malela dengan lembut. ”Lupa lagi kepada kakak?”

Retnayu tak acuh, tapi dalam hatinya ia berkata, ”Mana mungkin lupa sebab baru anda yang saya hadapi selama berada di Kahuripan. Tapi anda sudah menyakiti hati. Habis-habisan menuduh saya keturunan bajak!”

Melihat Retnayu berkata begitu Sang Sunu menjadi tak sabar, lalu bertanya,

”Begitukah Sayang lupa kepada orang Galuh? Ataukah barangkali ada orang lain yang....?”

Kata-katanya tak langsung sebab keburu dijawab oleh Retnayu, ”Orang lain apa?” katanya keras sambil mengernyitkan dahi. ”Lagi pula siapakah yang mau menerima keturunan rampok Silalawi?”

”Oh, tak kuduga si cantik mudah tersinggung!” kata Sang Sunu sambil terus duduk di sampingnya. ”Maafkan saja, Sayang, kakak mengaku berbicara tak pantas. Mengaku orang kurang pendidikan. kasar, gampang menyinggung perasaan kalau bicara. Rupanya terlalu biasa memerintah bawahan. Maklum kakak orang yang sering berada di medan perang!”

”Dan kebetulan yang dihadapi saat itu di tepi air terjun orang gunung yang tak tentu asal usulnya. Jadi pantas kalau dibentak-bentak juga. Apa lagi Tuan bagaimana pun putra raja.

Pangeran muda Sumedanglarang yang baru pulang dari pengembaraannya.”

”Tapi Sayang juga keturunan raja. Sayanglah Tohaan[1] Sumedanglarang yang mendapat susah karena iri hati ibu tiri,” kata Rangga Malela memotong kalimat.
————

  1. ratu muda
6