"Apa? Saya Tohaan?" Ketika menjawab Sang Sunu roman muka Sekarwangi berubah.
"Betul!" ujar Rangga Malela meyakinkan." Sayanglah ratu muda Sumedanglarang. Sayanglah putri raja yang dicalonkan memerintah negara."
"Tuan!" Retnayu memekik sambil menutupi mukanya lagi. la menangis terisak-isak, kemudian bersujud pada akar.
"Sayang tak mungkin ingkar. Bahwa Sayang puteri bungsu Sri Prabu Ragapati. Bahwa Sayang puteri Bi Manik Mayangsari, gundik raja yang wafat karena difitnah oleh madunya."
Mendengar nama ibunya disebut-sebut dan dipanggil Bi oleh Tamu makin menjadi-jadilah tangisnya, cuma tak sampai menjerit. Sang Sunu mengerti bahwa Retnayu lebih baik jangan diganggu dulu selama air matanya masih berderai. Jika sudah tenang pembicaraan dapat dilanjutkan. Meskipun demikian tangannya menjamah rambut yang menjurai dan mencapai lumut. Terus ditelurusi ke atas dan akhirnya sampai ke kulit pundak yang demikian kuningnya.
Tak terasa lagi ia membelai Retnayu. Hanya ketika ia akan berbicara lidahnya mendadak seperti dibebani timah puluhan kilo. Maka ia cuma menarik nafas dengan jantung berdebar-debar. Ketika sudah tenang barulah ia memaksakan diri berkata, "Sayang!" Suaranya berdesah dan terputus-putus. "Janganlah dipikirkan kata-kata kakak ketika akan berpisah di tepi air terjun. Sekali lagi kakak mengaku kurang matang pertimbangan. Sekarang sengaja kakak menemuimu. memenuhi janji dulu bahwa kakak pasti akan datang lagi menemui Sayang. Ada yang kakak ingin katakan. Tapi sebelum berbicara kakak mempunyai permohonan. Janganlah sembunyikan mukamu dari muka kakak!"
Setelah usai yang berbicara segera Retnayu bangkit, berbalik kepada Tamu. Dan sambil menyeka air mata dengan telapak tangan dan balik menatap Tamu, ia menjawab, "Saya tahu Tuan pasti akan datang lagi sebab sayang kepada barang titipan. Jadi kedatangan sekarang ke mari tentu akan mengambil titipan itu."
Sang Sunu bungkam mendengarkan Retnayu berkata demikian. Beberapa saat lamanya ia berdiam sambil membenamkan pandangannya ke wajah Sekarwangi. Wajah yang makin jelas baginya