Melihat Sukardi, orang tua Komariah bertanya apakah ia sudah dapat obat. Orang tua Komariah sudah menyuruh orang untuk mencari Maman tapi sebegitu jauh belum juga dapat menemukan Maman. Sukardi tidak menjawab, hanya ia minta agar mereka semua keluar dari kamar itu. Setelah itu ia kembali ke pavilyun dan bersama Maman ia masuk ke kamar Komariah, bukan main kaget hati Maman melihat Komariah berbaring sakit sampai kurus sekali. Tetapi Komariah sebaliknya, setelah melihat Maman datang timbullah semangat hidupnya dan seketika itu juga ia kelihatan segar kembali. Dalam waktu singkat kesehatannya pulih kembali.
Tiga bulan kemudian Komariah menikah dengan Maman, mereka menetap di rumah itu dan orang tuanya pindah ke pavilyun. Sukardi pindah ke Bandung. Pada suatu sore Komariah berkata pada Bi Aminah bahwa nanti malam ibu, bapak, Maman dan ia sendiri akan pergi kundangan, agar Bi Aminah dan Midi (pembantu baru) berhati-hati menjaga rumah.
Esok harinya sewaktu Komariah membuka lemari pakaiannya, diketahui bahwa perhaisan berupa kalung, gelang, giwang, cincin dan peniti semua hilang. Hal itu segera diberitahukan kepada suaminya dan juga pada orang tuanya. Tidak lama kemudian suami datang dengan membawa seorang polisi. Setelah polisi selesai memeriksa maka semua kamar harus digeledah, termasuk kamar Bi Aminah. Komariah keberatan kamar B iAminah digeledah karena ia punya anggapan bahwa Bi Aminah tidak mungkin mengambilnya. Tapi polisi tak dapat menyetujui pendapat itu dan semua kamar tetap harus digeledah.
Ternyata dalam kopor di kamar Bi Aminah polisi menemukan gelang yang setelah diperlihatkan dikenali Komariah sebagai gelangnya. Tanpa dapat mengelak Bi Aminah dibawa polisi ke Bandung untuk diusut perkaranya.
Sesudah polisi pergi, datanglah bertamu seorang kenalan lama Maman yang bernama Sungkawa. Komariah sibuk menyiapkan suguhan dan Maman berkata bahwa isterinya tidak punya