Riangkasan Cerita:
I. BERTENGKAR
Si Kabayan bertengkar dengan istrinya, Saikem, karena Si Kabayan sering meninggalkan rumah pergi ke sana ke mari, tanpa tujuan (ngelencer), datang di rumah tidur, kadang-kadang seharian tak mau bangun.
Lama mereka bertengkar, saling gugat. Istrinya mengatakan Kabayan tak mau bertanggung jawab sebagai suami, sebagai kepala keluarga, tak pernah memberi belanja, pada hal di rumah banyak anak, harus dicukupi sandang dan pangannya.
Kabayan menangkis serangan istrinya, kadang-kadang dengan kata-kata kasar, tapi sering pula dengan kata-kata humor (melu- cu), maksudnya agar istrinya reda marahnya.
Tapi Saikem mengotot, ia mengatakan menyesal punya suami Kabayan, tak ada keuntungannya, capai dan repot sendiri, lebih baik bercerai saja.
Kabayan masih mencoba meredakan, tapi Saikem membrondong terus, hingga keluar dari mulutnya suatu perkataan yang pantang didengar suaminya, yaitu 'pakepoh' (kepoh = pengkar). Kabayan benar-benar bangkit marahnya, ia menampar istrinya sampai dua kali, satu hal yang belum pernah ia lakukan sampai saat itu.
Saikem tergagap sesaat ia tak mengira suaminya akan bertindak sekasar itu lalu menangis sejadi-jadinya, hingga riuhlah seisi rumah, karena anak-anaknya ikut menangis pula. Tetangga sebelah muncul, maksudnya akan melerai, tapi Saikem menyerangnya, ia tak mau orang lain turut campur.
Tetangga itu ngeluyur sambil menggerutu: sama gilanya meladeni pertengkaran suami-isteri, Kabayan - Saikem.