III. TERBALAS
Di tepi hutan, Si Kabayan sedang sibuk mengikat kayu bakar yang sudah terkumpul akan dijualnya. Salah seorang dari kedua orang kota yang bernama Salnasik, menjelaskan maksudnya dengan hormat, bahwa mereka disuruh majikannya, saudagar kaya, minta dengan sangat supaya Embah Dukun sudi menolongnya mengobati anak gadisnya, yang tiba-tiba jadi bisu.
"Aku bukan dukun, aku Kabayan, "tiba-tiba Kabayan menghardik.
Salnasik ingat akan keterangan Saikem, kalau menolak dan tak mau disebut dukun, paksa saja, kalau perlu dengan kekerasan, kalau masih tak mau, tempeleng saja dua kali. Salnasik berbuat apa yang disarankan perempuan yang memberinya petunjuk. Sebelumnya, Salwasim, temannya, lebih dulu sudah mengamankan parang Si Kabayan.
Melihat gelagatnya, Kabayan terpaksa menyerah, sambil meraba-raba pipinya bekas ditampar, ia teringat istrinya, jangan-jangan semua ini ulah isterinya, yang ingin membalaskan dendamnya. Sambil menggerutu ia melirik Salnasik, "Baiklah kalau kalian memaksa, tapi dengan syarat."
Salnasik (kembali sopan dan hormat), "Persyaratan apa saja yang Embah ajukan, akan kami penuhi!"
Kabayan: "Pertama, kayu-bakar harus dibayar dulu enam baru ( + 50 sen)
Salnasik "Baik, ini uangnya!
Kedua, kata Kabayan, "Selama perjalanan ke kota, aku harus digendong."
Salnasik "Baik, Salwasim, siapkan punggungmu!"