V. BERUNTUNG
Dalam perjalanan pulang dari rumah saudagar, Kabayan ada yang memanggil-manggil. Mulanya tak dihiraukannya, malah lari, tapi yang manggil-manggil itu malah mengejarnya.
Yang mengejarnya itu seorang pemuda ganteng ternyata pacarnya Hasanah, bernama Agus. Ia minta tolong, supaya bila Pak Dukun kembali ke rumah Hasanah ia dibawanya.
Malamnya, pemuda itu dibawa Kabayan ke rumah saudagar, menyamar, berpakaian kumal seperti Kabayan dan bila berjalan harus membungkuk.
"Untung Ki Haji, Embah telah mendapatkan obat. Panggil Hasanah, tapi semua lampu kecilkan, remang-remang saja, dan Ki Haji jangan dekat-dekat, di sana saja di kamar! "demikian perintah Embah Dukun.
Ini obatnya, harus ditiupkan ke dalam telinga yang sakit dengan daun sirih luhun digulungkan. Kebetulan di jalan tadi ketemu anak ini siapa namamu? O, ya Kap-enun dijabar-dijeer. Dengar Ki Haji! "kata Embah sengaja berteriak.
Hasanah diobati. Agus yang meniupkan obat itu ke telinganya. Bukan obat, angin saja, disertai bisikan, "Tidak kenal kanda?" Dapat jawaban juga bisikan: "O, kang Agus ini?"
Akhir dari 'adegan' ini, (Beruntung), beruntung bagi si Agus. Ia dapat membawa lari Hasanah.
Karena 'kepandaian' Embah Dukun, Hasanah sembuh dari bisunya. Ia dapat berbicara seperti biasa. Tetapi ketika Saudagar, ayahnya, mengatakan karena kini sudah sembuh akan segera dikawinkan kepada saudagar kaya, tapi tua itu, dan Hasanah menolak, Saudagar marah lagi. Di saat itulah Hasanah lari dibawa Agus, dan Embah Kabayan juga lenyap, tak ada yang tahu ke mana perginya.