VI. A KIBATNYA
Si Kabayan tak tahu Saudagar mengamuk, sampai di rumah tenang-tenang saja, tidur lelap hingga pagi.
Pagi-pagi ribut, rumahnya didatangi polisi, Lurah setempat, malah tuan Asesor. Ia ditangkap, akan diborgol dan dibawa ke kota (atas pengaduan Saudagar).
"Mengapa saya ditangkap, salah apa?" katanya kepada polisi.
"Perkaranya di pengadilan, sekarang ikut jangan banyak tanya," jawab polisi sengit.
Kepada Lurah, "Mas Uwu, kan kita sudah kenal lama....."
Lurah: "Kenal atau tidak, ini tugas, perintah 'menak' (sambil menunjuk kepada Asesor).
Kepada Asesor, "Batur naas, sagala kese ka juragan mah sagala sor (orang lain naas, segala sukar, kepada tuan segala diberikan).
"Apa Kabayan?”
"Tuan mempunyai nama sangat bagus.'
Asesor: "Hahahahay, betul, betul, nih paneker lumayan! Lurah, buka borgolnya!"
Ketika akan berangkat, Kabayan mendahului.
Asesor: "Hai, itu tidak sopan! Menak yang harus diiring!"
Kabayan: "Kalau ada kerikil tajam, bila ada banteng ngamuk bagian Kabayan, menak selamat di belakang.'
Asesor "Hahahahay, benar, benar! Lurah berikan jas-hitam itu kepada Kabayan, nanti saya ganti!"
Akhir cerita, Kebayan tak jadi ke pengadilan dibela oleh Agus. Agus kawin dengan Hasanah. Saudagar kini, tak keberatan menerima lamaran Agus, karena Agus, tiba-tiba jadi kaya, dapat warisan dari uaknya. Kabayan sekeluarga ikut berbahagia (dengan istri-nya sudah rukun kembali).