Istri priyayi yang baru dipindah ke daerah Cianjur, biasanya mendatangi istri-istri priyayi yang sudah ada di Cianjur. Dalam kunjungan seperti ini, orang yang baru datang ditemani oleh seorang istri yang sudah lama di Cianjur dan sudah kenai dengan istri-istri priyayi. Kalau yang dikunjungi ingin tahu apakah tamu yang baru datang itu turunan bangsawan atau bukan, maka dia akan berkata :
"leu aceuk teh meuli cacangkir kakara kamari. Lucu nya ayi?"
Dijawab : "Sumuhun, nanging hanjakal sanes poslen."
Artinya : Yang dikunjungi berkata, bahwa yang baru datang itu baik parasnya. Yang mengantar menjawab, bahwa memang baik parasnya, hanya sayang bukan turunan bangsawan.
Jadi kata sisindiran yalah mengutarakan maksud dengan kata-kata yang terselubung, tidak diucapkan dengan terus-terang. Bagi orang yang tidak biasa, tentu saja tidak mengerti. Karena kadang-kadang harus dicari, apa sesungguhnya yang dimaksud oleh pembicara.
Sisindiran ini terutama merupakan alat yang ampuh bagi orang yang sedang berkasih-kasihan. Berterus terang mereka malu, jadi sisindiran yang mereka pergunakan.
Menurut penulis buku ini, sisindiran tumbuh dari bahasa isyarat, umpamanya di daerah Banten :
tali pengikat rokok daun nipah dijadikan isyarat untuk menyatakan isi hati dari yang mengirimkan rokok itu kepada yang dikirimi.
Tali hejo (hijau) = hayang nenjo (ingin melihat) Tali hideung (hitam) = nineung (teringat-ingat) Tali wungu (ungu) = ditunggu Tali hawuk (abu-abu) = ngajak diuk (mengajak duduk).