PENGANTAR PENYUNTING
Cerita Sri Panggung hasil karya Caraka ini diterbitkan di Bandung pada tahun 1965.
Isinya sangat menyedihkan, mengisahkan percintaan yang gagal antara pemuda Tatang putra seorang Mandor Besar perkebunan teh pada zaman Belanda dengan Nyi Empat. Nyi Empat yang masih berusia 15 tahun ini seorang gadis pemetik teh yang cantik dan bersuara merdu. Mereka saling mencintai, namunnasib menentukan lain. Setelah berpisah sekian lama, akhirnya mereka bertemu kembali dalam keadaan yang berbeda. Pada waktu itu Tatang sudah berkeluarga dan mempunyai 5 orang putra, sedangkan Nyi Empat yang kemudian berganti nama menjadi Neng Mimin masih tetap single.
Tetapi perkawinan itu tak dapat terlaksana, karena Nyi Empat alias Neng Mimin tidak mau menghancurkan kehidupan keluarga kekasihnya itu.
Kalau kita mendegar kata Sri Pangung, ingatan kitaakan melayang kepada dunia sandiwara yang serba gemerlapan dan penuh kepalsuan. Paa zaman dahulu, pandangan masyarakat terhadap Sri Panggung amat negatif. Kedudukan mereka disamakan denan Ronggeng atau Pelacur. Dalam cerita ini digambarkan dengan jelas sikap mereka terhadap Sri Panggung. Walau ada beberapa gelintir manusia yang memujanya. tetap saja mereka tidak dapat menghargai sebagai warga masyarakat yang sopan. Sekarang perkataan Sri Panggung atau Ronggeng atau Pesinden itu menjadilebih terhormat. Mereka disebut Seniwati, yaitu pencinta seni. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka bukanlah termasuk warga masyarakat yang dihormati. Mereka dipuja dan dimanja oleh kaum pria hidung belang, tetapi juga dihina dan dicacimaki oleh kaum wanita priyayi. Sebenarnya mereka itu tidak berdosa. Keadaanlah yang menyebabkan mereka menjadi demikian. Mereka hanya mencari nafkah dengan jalan menyalurkan bakat yang