darah yang menetes, tiba-tiba tetesan darah itu hilang musnah, tak meninggalkan bekas. Arjuna jengkel tanpa menghiraukan Semar yang belum sadar dari pingsannya, segera ia kembali melapor kepada Sri Kresna. Ketika Semar sadar, dimukanya terdapat dua kesatria kembar yang sedang menghadap dan tahulah Semar bahwa itu adalah penjelmaan darahnya sendiri yang menetes ke tanah, karena ulah penengah Pandawa Sang Arjuna.
Mulai dari sinilah peran Ciptamaya - Rahmaya 'berfungsi' (nama itupun ciptaan Ki Lurah Semar), akan menumpas kesewenang-wenangan tindak para Dewa dan kekerasan tindak Permadi, bangsawan Amarta.
Rencana kedua Kesatria itu mula-mula akan mengambil senjata ampuh Arjuan dan Kresna: keris Pancaroba dan panah Cakra. Kemudian untuk mengacau pikiran Janaka (Arjuna) akan memindahkan putri Banowati permaisuri Raja Astina, (Banowati permaisuri resmi Prabu Suyudana, tapi 'istri' tak resmi Arjuna), yang sedang tidur di katil, ke Madukara, keraton Arjuna.
Kemudian Ciptamaya-Rahmaya akan pergi ke Kahyangan, tempat para Dewa, menurunkan Batara Guru dari takhtanya.
Para Dewa ternyata tak mampu melawan kesaktian kedua Kesatria kembar ini dan Batara Guru terpaksa (untuk sementara) pergi meninggalkan persemayamannya, diiring Resi Narada, akan mencari kesatria yang kira-kira dapat menandingi kesaktian Ciptamaya - Rahmaya.
Akhir cerita, setelah para Dewa menyerah dan tokoh utamanya Hyang Pramesti (Batara Guru) lolos meninggalkan istana, setelah Pandawa (Arjuna dan saudara-saudaranya) keteter meladeni lawan yang sungguh-sungguh tangguh itu, atas nasihat Sri Kresna, Arjuna harus langsung pribadi menemui Ki Lurah Semar dan minta maaf atas kecerobohan tindakan kerasnya.
Arjuna tak dapat menolak usul titisan Wisnu ini, ia pergi menemui Semar, di Karangtumaritis, sekaligus minta tolong