Lompat ke isi

Kaca:Wawacan Nimu Luang Tina Burang.djvu/8

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

RINGKASAN
MENDAPAT PENGALAMAN DARI BENCANA.

Sopandi, mandor pasar Cisangar, — sudah punya istri dan seorang anak yang masih kecil —, karena tergoda oleh seorang wanita muda (janda) bernama Napsiah, sampai hati untuk menceraikan isteri pertamanya yang setia, Nyi Miasih. Sopandi kawin dengan Napsiah (anak lurah) dan Miasih, isterinya yang pertama pulang ke rumah orang tuanya beserta anaknya.

Ternyata isteri Sopandi yang baru, bukan wanita yang baik untuk rumah tangga, rupanya memang lumayan, tapi perangainya di luar dugaan Sopandi semula, Nyi Napsiah suka berjudi dan suka minum minuman keras. Celakanya, Sopandi sendiri kena pengaruh, ia pun mulai senang berjudi dan tidak kepalang tanggung, baginya sudah tak apa-apa, bila harta bendanya habis di medan/meja judi, hingga keadaan rumah tangganya berantakan. Puncak dari "tragedi" ini, Sopandi ditangkap dan dipenjarakan/dibuang karena memakai uang negara (hasil penjualan karcis di pasar). Nyi Napsiah meninggalkannya setelah bertengkar dan berkelahi.

Cerita kembali ke Nyi Miasih, setelah pulang kepada orang tuanya di kota Sukalaya. Rupanya ia harus mengalami cobaan lagi untuk menguji kesabarannya; anaknya selalu sakit — sudah 6 bulan tak sembuh-sembuh. Miasih tetap sabar, meskipun hatinya selalu sedih, sampai pada saatnya benar-benar ia mendapat karunia Tuhan Yang Maha Pengasih.

Ada seorang dokter sedang cuti (di kota kecil seperti Sukalaya zaman itu tak ada dokter), kebetulan kenal dengan ayah Miasih. Dengan pertolongan dokter inilah, anaknya yang sudah berbulan-bulan sakit, dapat disembuhkan.

Bukan itu saja. Dokter itu kebetulan duda, belum lama ditinggal isterinya ke alam baqa. Dan Nyi Miasih berkenan di hatinya, alasannya banyak miripnya dengan istrinya yang

9