dipakai juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan keagamaan. Hal itu dinyatakan oleh para musafir dari Tiongkok yang datang belajar di Sriwijaya, yang pada jaman itu menjadi suatu pusat pengajaran agama Buddha.
Jadi saat itu bahasa Melayu sudah memegang peranan penting sebagai pendukung kebudayaan di Indonesia dan juga di semenanjung Malaka, Menilik keadaan ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah ada kesusastraan dalam bahasa itu, mungkin ditulis di atas lontar, kulit kayu ataupun bahan lain yang terdapat di alam Indonesia. Karena rapuhnya dan lekas punahnya bahan-bahan seperti itu, ditambah pula oleh ganasnya iklim tropis, maka kelangsungan hidup naskah sastra itu harus dipelihara dengan penyalinan setiap kali; paling tidak seratus tahun sekali. Dan kelangsungan penyalinan tergantung lagi dari pada minat masyarakat pada saat itu. Dapatlah dibayangkan suatu kegoncangan politik atau masuknya agama baru dapat mematikan minat orang terhadap suatu jenis sastra tertentu sehingga tenggelamlah ia ke dalam kemusnahan karena tidak disalin-salin lagi. Agaknya itulah yang terjadi dengan sastra dari jaman awal itu sehingga tak ada lagi sisa-sisanya.
Di kalangan peminat dan peneliti sastra, baik di sekolah maupun dalam masyarakat pada umumnya sudah lama dirasakan kekurangan akan bahan bacaan sastra lama sebagai penunjang pengajaran dan juga sebagai bacaan umum bagi mereka yang ingin mengenal suatu jenis sastra yang pernah berkembang di kawasan Indonesia.
Mengingat pentingnya karya Sastra sebagai diuraikan di atas maka Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah Departemen P dan K bekerja sama dengan PN. Balai Pustaka sebagai Penerbit buku Sastra yang telah terkenal sebelum Perang Dunia ke 2, mencoba memenuhi kekurangan yang dirasakan kini dalam penerbitan buku Sastra.
Kita perkenalkan kekayaan sastra Melayu lama yang tersimpan dalam kumpulan-kumpulan naskah di Indonesia. Sebagian yang diterbitkan itu telah dialih-aksarakan dari huruf Arab dan