akan membunuhnya. Uki ketakutan dan atas desakan ayahnya dia mengiyakan untuk pergi ke Rad Agama di Cidamar untuk mengurus perceraian.
Tapi sesungguhnya hatinya sangat berontak dan pada tengah malam dia dengan diam-diam meninggalkan rumahnya untuk mencari suaminya. Dia masuk hutan ke luar hutan, karena tidak berani berjalan di jalanan umum takut tertangkap. Keesokan harinya mereka ribut kehilangan Uki dan dicari ke mana-mana, tapi tetap tidak ditemukan. Bapak Uki mencari anaknya ke mana-mana, juga ke onderneming Patuha-Wati, tapi tak ada jejaknya Nyi Uki.
Pada suatu malam Marjuki bermimpi. Jelas dia melihat istrinya. Timbul rindu di dalam hatinya. Karena dia sudah cukup mengumpulkan uang, dia bisa pulang dengan membawa uang yang cukup untuk anak-istri dan mertuanya. Sampailah dia di Tanjung-priuk, dan berbelanja untuk anak-istrinya. Setelah menyewa orang untuk membawa barang bawaannya yang banyak itu, dia menuju ke Pasirloa. Rumah Pak Uki sudah diisi oleh orang lain, yaitu oleh Ki Alwasim yang juga kenal dengan Marjuki. Dari Ki Alwasim inilah, Marjuki mendengar segala riwayat Nyi Uki. Marjuki sangat sedih dan bertekad akan menemukan istrinya itu dan juga anaknya. Dia pergi lagi untuk mencari istrinya. Karena tidak dapat ditemukan juga maka dia menuju ke kampung Manggahang di Kecamatan Cangkring di distrik Ciparay, yaitu menuju rumah Haji Yusup. Haji Yusup adalah seorang haji yang sangat dikenal di daerah itu, bukan saja karena kaya, tapi terutama karena keluhuran budinya. Dia suka menolong orang yang susah. Istrinya bernama Ibu Haji Halimah. Bapak Haji dan Ibu Haji sangat terkejut ketika pada malam hari ada yang mengetuk pintu. Setelah dibuka mereka langsung berhadapan dengan putra mereka yang telah mereka cari ke mana-mana. Mereka berangkulan bertiga karena gembira dan sedih. Para tetangga juga datang untuk mengaturkan selamat kepada anak Pak Haji yang telah kembali itu. Marjuki sesungguhnya bernama Saleh. Nama ini dia tukar karena takut kepada polisi, karena dia dituduh mencuri. Itu sebabnya dia