meninggalkan orang tuanya. Dari ayahnya dia dengar, bahwa yang mencuri sudah tertangkap, yaitu Jumita dan Asimin dan telah dimasukkan penjara. Saleh sama sekali tidak dicari polisi.
Tinggallah Saleh bersama orang tuanya dan akhirnya dikawinkan dengan seorang gadis pilihan orang tuanya.
Pada suatu hari Saleh didatangi oleh penyawahnya bernama Marhayi yang mengatakan, bahwa dua orang anak angon (= gembala) mencuri ikan di kotakan sawah Saleh dan sekarang ada di bale desa. Sudah berkumpul Bapak Lurah, jurutulis, polisi, lebe, ketua kampung dan rakyat banyak untuk mengadili dua anak tadi. Sekonyong-konyong datang seorang kakek dan seorang nenek mendekap salah seorang anak yang didakwa tadi yang disebut Atim. Kakek-nenek itu menangis tersedu-sedu. Pak Lurah bertanya siapa anak itu dan dijawab oleh kakek tadi, bahwa Atim adalah cucunya yang telah tak beribu bapak lagi karena ayahnya yang bernama Marjuki sudah lama meninggalkannya dan ibunya yang bernama Uki juga demikian. Saleh terkejut mendengar ceritera orang tua tadi dan setelah diperhatikan raut muka kakek-nenek tadi, dia mengenal kembali kedua mertuanya. Langsung dia terangkan di depan umum bahwa kedua orang tua itu adalah mertuanya dan dia akan ke rumah kedua orang tua tadi. Pengadilan di kelurahan dibatalkan, karena Saleh menarik kembali perkaranya.
Bapak dan Mak Uki beserta Atim dibawa pindah ke rumah Saleh. Istri Saleh yang bernama Aminah sangat senang akan kedatangan orang tua dan Atim, karena dia tak berorang tua lagi dan juga tidak berputra.
Orang tua Saleh juga sangat senang akan kedatangan besannya itu dan cucunya. Atim sangat disayang dan disekolahkan. Terbukti anak itu sangat pandai dan gurunya di sekolah juga senang kepada Atim.
Pak Haji Yusup mengadakan selamatan besar, dan Saleh diminta menceriterakan riwayatnya yang begitu ajaib yang diakhiri dengan bertemunya bapak dengan anak yang tidak pernah