kurang waras pikirannya. Kepalanya ditaburi bunga dan dia menyanyi-nyanyi, Dengan demikian tidak ada orang yang berani mengganggunya karena takut kepada yang gila.
Ini dilakukannya berbulan-bulan, dan pada suatu hari dia telah lapar dan lelah dan rupanya dia jatuh pingsan di suatu selokan di daerah Cianjur. Dia ingat sudah ada di sebuah warung dan diberi makan oleh tukang warung. Tukang warung suami-istri baik sekali. Nyi Uki akhirnya bekerja menjadi pembantu tukang warung. Tapi setelah tukang warung ditinggal mati oleh istrinya, dia ingin mengawin Uki. Uki tidak mau. Kebetulan datang suami-istri Wiriadinata menggendong bayi kecil. Mereka sedang tidak punya pembantu. Uki menawarkan diri sebagai pembantu. Mula-mula tukang warung tidak memberikannya, tapi setelah diberi uang banyak oleh Pak Wiriadinata, Uki diizinkan pergi. Semenjak itu Uki menjadi pengasuh si kecil.
Dan pada waktu Pak Wiriadinata akan menunaikan haji dengan membawa serta putrinya, maka pengasuhnya yang setia itu dibawa serta menunaikan haji dan namanya diganti menjadi Nyi Haji Aisah. Ketika Atim menjadi anak indekos, hati Nyi Haji Aisah tertambat kepada anak muda ini dan dia sangat sayang kepada Atim.
Bergembiralah seluruh keluarga Pak Haji Makmur. Mereka akan beramai-ramai mengantarkan Nyi Haji Aisah ke rumah suaminya dan pernikahan dua anaknya akan dirayakan besar-besaran. Nyi Haji Aisah sangat bersyukur kepada Allah, bahwa akhirnya semuanya bisa berkumpul kembali dengan selamat. Haji Aisah Sangat rindu pada kedua orang tuanya, maka keberangkatan ke Manggahang dipercepat.
TAMAT