Lompat ke isi

Kaca:Wawacan Pangeran Dipati Ukur II.pdf/10

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

ibunya dengan serius agar menyelidiki keadaan Den Ukur melalui pengiring setianya Ki Mardawa.

3. Bupati Sukapura

Juragan Cutak baru Wangsataruna, mengambil keputusan akan melamar calon istri, putri Cutak Batulayang tua, ia yakin kini tidak bertepuk sebelah tangan, Ki Mardawa yang membawa berita gembira.

Dalam rundingan antara calon menantu dan calon mertua diambil keputusan: tidak akan besar-besaran, cukup sederhana saja, diambil perlunya saja.

Paginya Cutak Wangsataruna pergi meninggalkan Batulayang menuju Sukapura akan menghadap Bupati. Perjalanan jauh, setengah hari menunggang kuda, baru dapat keesokan harinya menghadap Bupati. Di Kabupaten sedang ramai. Sang Bupati sedang dihadap beberapa Cutak yang datang membawa laporan dari wilayahnya masing-masing.

Ketika Kangjeng (sebutan kehormatan) Bupati melihat Cutak Wangsataruna tiba, jelas tampak tanda-tanda tidak berkenan di hatinya. Ia telah menerima laporan mengenai pergaulan cutak, tapi cutak baru itu tidak segera menghadap, dianggap meremehkan kewajiban.

Ketidak-senangannya ini memuncak tak terkendalikan, menjadi sangat marah, ketika cutak baru ini dalam laporannya menguraikan tanpa tedeng aling-aling bahwa banyak penduduk mengeluh, merasa kewalahan meladeni para petugas yang datang dari pusat selalu memerintah para lurah menyetorkan penghasilan pungutan pajak, sering bermacam-ragam caranya, menjurus kepada cara-cara pemerasan. Cutak Wangsataruna merasa perlu melaporkan hal ini kepada Kanjeng Bupati untuk dirundingkan bersama bagaimana cara mengatasinya agar rakyat tidak gelisah.

Bupati merasa sangat tersinggung. Dengan suara keras dan mata mendelik ia menandaskan bahwa ia tak pernah menerima laporan seperti itu dari cutak yang lama dan dari cutak-cutak lainnya.

11