Lompat ke isi

Kaca:Wawacan Pangeran Dipati Ukur II.pdf/13

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

lihat bekas atasannya. Suranangga berkaok: sebelum menangkap Cutak Wangsa, tangkaplah dia lebih dulu. Rupanya ia kini sadar harus memihak pada yang benar.

Terlihat oleh Sang Bupati, yang ketika itu sedang memegang pentungan yang dianggapnya kramat, dan rupanya memang kramat, Suranangga yang terkena hampir tewas kalau tidak segera ditolong Cutak Wangsa.

Wangsataruna berkata sopan, bahwa yang bersalah adalah dia bukan Suranangga, baik Kangjeng Bupati menangkap dia saja. Juga tak baik dimuka umum seorang Bupati bertanding dengan seorang bekas pengawalnya.

Sang Bupati makin sewot, ia merasa ditentang dan dicemooh. Ia berpaling sambil menyerang. Terjadilah kini pertarungan sengit antara Bupati Sukapura dengan bekas Senapati Mataram Raden Ukur Wangsataruna. Bupati menghunus keris keramatnya peninggalan leluhur, si Gagakputih. Dipati Ukur mencoba menghadapinya tanpa senjata.

Karena marah tak terkendali Bupati kehilangan keseimbangan Ia menusukkan kerisnya: kiri - kanan, depan - belakang, sedang Wangsataruna hanya menangkis dan menghindar. Pada serangan terakhir Cutak Ukur menghindar sambil menggaet kakinya, sang Bupati jatuh tertelungkup menubruk tangannya sendiri yang sedang memegang keris dan jatuh tak sadarkan diri. Cutak Ukur mencoba membangkitkannya, ternyata keris pusaka telah menusuk sang korban persis di tengah-tengah dadanya. Kangjeng Bupati Sukapura tak tertolong, mangkat pada saat itu juga.

Kepada Juragan Patih, Mantri Kabupaten dan seorang cutak yang tak jauh dari tempat peristiwa, Cutak Wangsataruna minta disaksikan bahwa Bupati mangkat tertusuk kerisnya sendiri.

Mangkatnya Bupati diterima oleh rakyat umum dengan sikap acuh tak acuh. tidak ada yang menangis-meratapi.

5. Wangsataruna Jadi Bupati Tatar Ukur

Kabupaten Sukapura. kehilangan Bupatinya, Juragan Pa-

14