Ringkasan Cerita.
Wawacan
PANGERAN DIPATI UKUR
(II)
1. Petunjuk Sunan Dampal
Setelah lebih-kurang tiga minggu berjalan, melalui tempat-tempat: Galuh, Saunggantung (Sukapura), Timbanganten dan Parakanmuncang, sampailah Dipati Ukur alias Dipati Wangsataruna di Maribaya, sebuah dusun terpencil di lembah Gunung Kasur. la menuju makam leluhur: Aki Buyut Sunan Dampal.
Dari Aki Buyut Dipati mendapat petunjuk gaib: harus pergi ke Batulayang menemui uanya berpangkat Cutak bernama R. Wirawangsa. Di sinilah Dipati Ukur kelak akan mendapat kedudukan memimpin rakyat tanah Ukur atau Parahiangan.
Di Batulayang Dipati diterima dengan kegembiraan. Kebetulan uanya punya seorang anak putri, bernama Enden Saribanon. Ukur menceritakan pengalamannya selama menghambakan diri kepada Sultan dan sampai saat itu belum berkeluarga.
Cutak Batulayang bercerita tentang ketidakberesan pemerintahan di bawah seorang Bupati yang tidak jelas asal usulnya, karena nasib baik dapat mencapai kedudukan tinggi, celakanya setelah jadi Bupati perangainya yang mula-mulanya baik itu, jadi sangat tidak terpuji, bersikap ’mungpung’, serakah, mengejar kekayaan dari dan kekuasaan dengan jalan sewenang-wenang. Pajak penghasilan tinggi, rakyat merasa terjepit, maka timbullah berbagai keonaran.
Para Cutak terbagi jadi dua golongan sebagian memihak rakyat, sebagian penjilat, ikut memeras rakyat agar dapat pujian dari atas.
Akhirnya Sang Ua, yang merasa sudah lanjut usia itu, menawarkan kepada sang kemenakan, kalau-kalau bersedia dengan ikhlas dan ridha menggantikannya bukan untuk mengejar kedudukan, tapi untuk memperbaiki keadaan membela rakyat,