Lompat ke isi

Kaca:Wawacan Pangeran Dipati Ukur III.pdf/13

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

Ringkasan Cerita

WAWACAN PANGERAN DIPATI UKUR
(III)

1. Berpapasan Dengan Patroli

Dipati Ukur dan Jayengrono, diiring Suranangga menuju pesanggrahan tempat Bupati Bahureksa menetap. Di tempat sepi mereka bertemu dengan serombongan patroli Belanda dibawah pimpinan seorang Sersan bersenjatakan pistol, sedang para serdadunya hanya membawa pedang. Mereka serentak mengelilingi ketiga penumpang kuda yang dalam perjaianan itu dan bermaksud menawannya.

Tapi ketiga penunggang kuda itu, cukup berpengalaman untuk melucuti sepuluh serdadu Belanda termasuk Sersannya, yang tak berdaya setelah direbut pistolnya.

Perjalanan dilanjutkan ke tempat tujuan, mengiringkan rombongan Sersan Belanda sebagai tawanan.

Sampai di pesanggrahan — mungkin Bupati Bahureksa masih terpengaruh oleh pengaduan kedua putranya, dengan muka masam ia membiarkan saja Dipati Ukur beberapa saat tanpa bicara. Kedua Senapati muda yang masih ingat pertemuan pertama dengan Dipati, hanya melirik sambil mendelik.

Dipati Ukur sengaja tidak mau masuk sebelum dipersilakan. Tuan rumah dan tamu saling tatap sejenak seperti bertanding kekuatan batin, — dan sangat mengejutkan yang menyaksikan, bila beberapa saat kemudian, dengan tiba-tiba Bupati Bahureksa dengan budi manis dan kata-kata sopan mengatakan bahwa ia sangat gembira Adipati Ukur sudi datang lebih dulu ke tempatnya. Ada hal yang sangat penting, yang perlu dirundingkan, yaitu perihal menghadapi musuh bagaimana caranya agar dapat melaksanakan kewajiban yang telah ditugaskan kepada mereka oleh Sultan Agung Mataram.

2. Selisih Pendapat

Bupati Bahureksa menyatakan bahwa seluruh pasukan

11