Lompat ke isi

Kaca:Wawacan Pangeran Dipati Ukur III.pdf/14

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

prajurit Mataram dan Tatar Ukur harus disatukan di bawah komando kedua putra Bahureksa sebagai panglima. Dipati Ukur tak dapat menyetujui, karena soal bahasa, banyak hal-hal yang akan menghalangi kelancaran bertindak. Yang baik; bersama-sama menghadapi Kumpeni, tapi pimpinan masing-masing. Dengan cara ini pelaksanaan akan lebih mudah.

Bupati Bahureksa mula-mula tak menyetujui pendapat Ukur, ia menuduh Tatar Ukur akan memisahkan diri dari Mataram, dan bukan tak mungkin berpihak kepada Belanda.

Ukur berpikir: harus hati-hati menghadapi kepercayaan Sultan Agung yang satu ini. Akan lebih sulit daripada waktu menghadapi Jayengrono dan Ronggonoto. Tapi berkat kesabaran dan ketekunan dengan menggunakan segala cara diplomasi, akhirnya Bupati Bahureksa dapat menerima kehendak Dipati Ukur. Dan bahkan gembira setelah mendengar uraian dan laporan hasil penyelidikannya mengenai kedudukan musuh sampai mendetail, pos-pos mana yang kuat, mana yang lemah. Cara menyerbu baiknya serentak: dari arah timur utara oleh pasukan Mataram, dari arah selatan dan barat oleh pasukan Tatar Ukur. Pendeknya rencana Ukur dapat restu dari Bupati Bahureksa.

Tetapi mengenai tawanan hampir timbul selisih paham lagi. Citrareksa dan Adireksa - kedua Senapati muda itu, minta supaya semua tawanan itu dibunuh saja, alasannya menyusahkan harus menjaga memberi makan dsb.

Dipati Ukur mempertahankan agar tawanan yang sudah menyerahkan diri itu dijamin. Kalau pasukan dibawah pimpinan kedua putra Bupati Bahureksa keberatan, baiklah pasukan Ukur yang akan mengurusnya. Bupati Bahureksa mengetengahi. Ia menyetujui tawanan diserahkan kepada pasukan Dipati Ukur. Senapati Citrareksa dan Adireksa terpaksa tunduk kepada putusan ayahnya, meskipun hatinya mengkal.

3. Membela Kehormatan

Dipati Ukur pamit akan kembali ke markasnya, membawa rombongan tawanannya. Di tengah perjalanan dihadang oleh

12