Lompat ke isi

Kaca:Wawacan Pangeran Dipati Ukur III.pdf/15

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

serombongan prajurit Mataram, dipimpin oleh seorang yang menunggang kuda. Rombongan dipati mundur, rombongan penghadang atas perintah maju, mendesak dengan melemparkan tombak. Seorang serdadu tawanan kena punggungnya rubuh, digotong dibawa mundur.

Dipati Ukur memerintahkan supaya tombak-tombak yang dilemparkan penghadang dipungut dan dikumpulkan diberikan kepada para tawanan.

Dalam menghadapi serangan tiba-tiba, para tawanan atas perintah Sersannya menjadi satu, sama-sama mempertahankan dan melawan.

Maka paniklah seluruh prajurit penghadang, tiba-tiba harus menghadapi rombongan yang kini lengkap bersenjata. Tampil Suranangga dengan pedang terhunus. di samping Sersan yang tubuhnya tinggi besar memegang pestol yang telah dikembalikan menembak-nembak ke atas, tidak ditujukan kepada seseorang, hanya sekedar menakut-nakuti. Pemimpinnya si penunggang kuda sudah lebih dulu berlutut di muka sang Dipati, minta maaf. Senapati muda Adireksa berbuat demikian hanya karena tak berani menolak perintah kakaknya Senapati Citrareksa.

Dengan sikap kebapaan Dipati Ukur memberi nasihat bahwa bila ada selisih paham antara pasukan Mataram dan tanah Ukur, janganlah dibesar-besarkan. Dipati tidak berhati buruk atau menaruh dendam kepada Pangeran Citrareksa, hal ini agar disampaikan kepadanya. Ada tugas besar yang harus dihadapi bersama: menghancurkan musuh yang akan menjajah tanah air.

Maka damailah kedua rombongan yang sedianya akan saling 'baku hantam'. Senapati Adireksa dengan prajuritnya kembali ke arah timur, rombongan Dipati Ukur meneruskan perjalanan menuju ke barat.

4. Bertempur Melawan Kumpeni

Kumpeni telah tahu bahwa tentara Mataram dan Tatar Ukur akan menyerbu mereka. Kumpeni tahu telah terkurung.

13