Maka mulailah melancarkan tembakan-tembakan dengan me- riam ditujukan ke timur, selatan dan barat.
Tentara Mataram dan Ukur mulai serentak menyerbu. Barisan prajurit Ukur telah menyeberangi sungai Ciliwung. Senapati Ukur diiring Suranggana dan pasukan yang dipimpinnya langsung sudah mendekati benteng. Dinihari mulai serbuan terhadap penjagaan. Berbaurlah prajurit penyerang dan serdadu yang diserang, tak tentu lagi mana lawan dan mana kawan, karena sekeliling gelap. Rombongan penyerang tiba-tiba bersorak mereka sampai di pintu gerbang.
Melihat sudah banyak korban, prajurit Ukur makin berani. Pintu gerbang didobrak, menyerbulah mereka dahulu mendahului seperti air banjir.
Serdadu Kumpeni tak sempat menggunakan bedilnya. Mereka berlarian mencari tempat sembunyi, meninggalkan perbekalan: tepung, kentang, daging dll. berserakan, juga senjata: bedil, pestol, pedang dll. ditinggalkan, tinggal memungut dan mengumpulkan.
Meskipun prajurit Ukur banyak yang tewas, tapi benteng yang kedua, dinihari pada keesokan harinya telah dapat direbut pula dan Kumpeni mundur ke benteng yang paling utara.
Dengan berhasilnya menduduki benteng kedua, prajurit Ukur makin berani. Tapi Adipati Ukur sendiri, tampak tidak gembira, karena hilangnya seorang tokoh prajurit pilihan Judakerta.
Tiba-tiba seorang juru penyelidik datang membawa laporan, ada serombongan tentara Kumpeni datang membawa bendera putih, diiring Ngabehi yang disangka gugur dengan seorang pengiringnya. Dipati Ukur mengumpulkan para pemimpin pasukan, memberi tahu akan datang utusan Kumpeni, agar jangan diganggu, rupanya akan mengajak berunding.
5. Usul Kumpeni Ditolak.
Utusan Kumpeni banyaknya tujuh orang. Kepalanya berpangkat Kapten, rupanya dipilih yang mengerti bahasa.
Ada tiga perkara yang disampaikan. Pertama salam