sejahtera. Kedua minta persetujuan bertukar tawanan. Ketiga Kumpeni mengajak damai, tidak saling menyerang.
Usul kedua diterima, tetapi usul ketiga ditolak. Dipati menyarankan supaya diadakan pertemuan 'segi tiga,' artinya: supaya pihak Mataram diajak. Untuk usul ketiga ini diminta Ki Utusan menyampaikannya dengan cermat kepada Tuan Besar (Yan Pieterzoon Coen alias Murjangkung).
Setelah menukar tawanan, (Dipati Ukur menyetujui hal ini, mengingat harus menolong Ngabehi Judakerta), Kapten Kumpeni segera kembali ke markasnya.
Malam harinya tidak ada penyerangan. Dipati Ukur, malam itu pergi sembunyi-sembunyi diiring Suranangga.
Yang dituju pesanggrahan Bupati Bahureksa. Waktu datang Bupati sedang sakit. Mula-mula Dipati melapor keadaan Kumpeni setelah pasukan Ukur berhasil menduduki benteng yang pertama dan kedua. Dikatakan pula pihak Kumpeni mengajak damai, tapi ditolak.
Bupati Bahureksa mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan kebijaksanaan menolak usul Kumpeni. Ia sendiri memaparkan keadaan yang tidak menyenangkan. Karena adanya serangan penyakit, tentara Mataram hampir terdesak. Armada laut kekurangan senjata, di samping banyak yang meninggal karena penyakit itu.
Menurut laporan juru penyelidik, serdadu Belanda juga banyak yang mati, terutama waktu penyerbuan kedua bentengnya, tapi Coen sendiri sekarang pergi ke Ambon akan mendatangkan bala bantuan.
Dipati Ukur pamit dan berjanji, bila ketetapan (waktunya) telah pasti dari pihak Mataram kapan mulai menyerbu lagi, prajurit Ukur siap dengan pasukannya.
6. Dipati Ukur Tertawan
Dalam perjalanan pulang Dipati Ukur dan Suranangga mampir ke beberapa tempat yang dikuasai tentara Kumpeni, untuk menyelidiki sampai di mana kesiap siagaan mereka.
Di suatu tempat kuda Dipati terjerembab ke sebuah