embel ('lumpur hidup'), sang penunggang terjatuh tak dapat naik ke tempat kering Suranangga bermaksud menolong, tapi karena gugup iapun terjatuh. Mereka berusaha naik kedarat dengan sekuat tenaga, tak berhasil.
Terlihat oleh serombongan patroli Belanda, yang kebetulan liwat di situ. Dengan melemparkan seutas tambang yang kukuh, tertolonglah mereka dari bencana terbenam, tapi dengan sendirinya jadi tawanan. Keduanya digiring ke markas penjagaan. Kebetulan yang mengepalai penjagaan itu Kapten yang siangnya jadi utusan Tuan Besar untuk membujuk Dipati Ukur agar mau damai. Kapten itu mengira Dipati Ukur datang dengan pengiringnya akan minta berunding kembali. Ucapan yang mula-mula keluar dari mulut Kapten, merupakan pertanyaan diluar dugaan, "Bagaimana Kanjeng Bupati? Sudah setujukah bila kita damai saja? Atau perlu berunding lagi? Tuan Besar sedang pergi ke Ambon, tapi ada Wakilnya, tuan Sepek..."
Malam itu Dipati jadi tamu terhormat, setelah mandi dan diberi pinjam pakaian bersih, pada keesokan harinya ia menghadap Wakil Tuan Besar, diantar Kapten.
Dalam perundingan yang bagi Ukur diluar rencana ini. kembali Dipati mengajukan usul supaya mengajak utusan Mataram.
Jendral Sepek kepeped. Dipati Ukur tak dapat dipancing, tak dapat dibujuk, tak dapat diiming-iming janji manis, ia tetap dalam pendiriannya.
Akhirnya Sepek lupa diri, tindakan kekasarannya muncul. Ia memerintah dalam bahasanya kepada Kapten supaya memanggil pengawal.
Dipati Ukur tetap tenang. Sambil menatap Jendral ia menyesali tindakan Jendral, bila maksudnya akan menawan dia. Ia datang memenuhi permintaan Kumpeni untuk berunding. Rundingan tak mencapai kesepakatan mengapa orangnya harus ditahan.
Mendengar ini Sepek tambah marah. Ia langsung memerintah Kapten supaya Ukur dibawa keluar dan dimasukkan tahanan. Kapten baru bergerak, segera dihadang di muka pintu