Lompat ke isi

Kaca:Wawacan Pangeran Dipati Ukur III.pdf/19

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

dan di ancam, bila ia bermaksud memanggil serdadu, ia terpaksa bertindak keras. Dipati menghunus kerisnya yang bernama Culanaga. Keris bertuah.

Seperti kena pukau Kapten berdiri seperti patung. Jendral Sepek tak mengerti, ia bangkit mencoba menjangkau bedil. Terlihat oleh Suranangga, diburu, didudukkan kembali.

Dipati Ukur memasukkan kerisnya ke dalam sarungnya, berkata keras tapi tetap tenang dan sopan:

"Mohon didengar baik-baik. Saya mengharap supaya Jendral berlaku jujur dan ikhlas. Bagi saya, bila saya akan jahat pada saat ini, tak 'kan ada orang yang dapat menghalangi, tapi saya tak akan berbuat perbuatan tercela. Peristiwa ini jangan sampai menodai perjuangan kita masing-masing. Saya minta diri akan kembali ke tempat sendiri. Bila nanti terjadi apa-apa mengenai diri saya dan pengiring saya, Kaptenlah yang akan jadi kurban pertama." Dipati Ukur melirik Kapten sambil mesem. Kapten mengerti akan lirikan ini.

Mau tak mau Jendral Sepek harus menerima kenyataan. Ia malah mengantar sampai ke pelataran. Kemudian Dipati Ukur dan Suranangga naik kereta Milar, yang akan membawanya sampai ke tempat penjagaan Kapten. Dari sini Dipati dan Suranggana naik kuda langsung menuju ke pesanggrahan.

7. Meninggalkan Medan Jurit

Suatu hari Dipati Ukur kedatangan pengiring setianya dari Wilayah Ukur Ki Mardawa. Melaporkan keadaan Kabupaten Sukapura setelah ditinggal Sang Bupati. Pejabat tinggi yang memegang pemerintahan R.M. Ronggonoto, utusan Mataram. Gedung Kabupaten didiaminya, Dalem Istri terpaksa pulang ke Batulayang. Rakyat umum mulai gelisah seperti halnya, waktu diperintah oleh Bupati almarhum.

Mengingat laporan Mardawa Dipati Ukur dengan para pemegang pimpinan prajurit bermusyawarah. Semua sepakat kembali dulu ke kampung halaman untuk menertibkan.

Tapi Dipati Ukur mengingatkan: Pasukan Mataram sedang prihatin, Pimpinan tertinggi Bupati Bahureksa dan

17