Lompat ke isi

Kaca:Wawacan Pangeran Dipati Ukur III.pdf/20

Ti Wikipabukon
Ieu kaca geus divalidasi

dua putranya telah tewas. Pasukan sisa sedang pulang ke Mataram akan melapor kepada Sultan dan bila pasukan Ukur meninggalkan medan sebelum ada perintah resmi dari Mataram, pasti akan dituduh pasukan Tatar Ukur mengkhianati.

Tapi mengenai hal tuduhan mereka sepakat akan menanggung akibatnya bersama. Yang penting saat itu membebaskan rakyat dari penderitaan dan menghukum yang berbuat sewenang-wenang. Dipati tahu benar akhlak buruk Ronggonoto sejak masih di Mataram. Ia mengganggu istrinya (menurut laporan Mardawa) seperti hendak membalas dendam peristiwa di Ronggonatan. Ukur memutuskan kembali dulu, terpaksa meninggalkan kalangan jurit.

Apa yang dilaporkan Mardawa ternyata benar. Senapati Ronggonoto telah menempati gedung Kabupaten dan mempersiapkan pengawalan ketat dengan tiga ratus prajurit bersenjata lengkap. Rupanya ia merasa bahwa pada akhirnya harus berhadapan dengan yang "punya rumah".

Tiga ratus pengawal ternyata tak mampu menghadapi prajurit yang baru kembali dari medan tempur. Mereka menyerah hampir tanpa perlawanan.

Ronggonoto tak dapat mungkir, harus diajukan ke pengadilan rakyat setempat.

8. Binasa karena Ulahnya Sendiri

Ronggonoto tak mau menerima putusan pengadilan. Ia mengemukakan bahwa ia datang di Tatar Ukur karena diutus Sultan Mataram. Karenanya sebelum menerima putusan ia akan pulang dulu menyampaikan laporan.

Dipati Ukur menjelaskan bahwa putusan pengadilan dapat saja dilaksanakan dengan cara bertanding satu lawan satu. Untuk ini Dipati Ukur minta disaksikan oleh yang hadir. Bila Ukur yang perlaya (terbunuh) putusan mati bagi tertuduh ditarik kembali. Ronggonoto beserta pengiringnya dapat pulang ke Mataram, tanpa gangguan, sebagai Senapati menang perang.

Mereka sebenarnya sebanding. Tapi Ronggonoto merasa lebih berpengalaman, merasa pernah jadi pembimbingnya ke-

18