ketika di Mataram, ia jadi takabur. Di samping itu hati kecilnya merasa bersalah. Ia gugup, hilang keseimbangan. Ketika Dipati Ukur menusukkan kerisnya ke dada Ronggonoto, kali ini tidak tertangkis, Senapati Ronggo tiwas seketika itu juga.
Dengan wajah muram Dipati berkata lirih kepada Patih Sukapura supaya jenazah Senapati diurus seperti layaknya mengurus pejabat tinggi. Para pengawalnya dari Mataram supaya diberangkatkan dengan diberi perbekalan cukup. Kemudian Dipati meminta supaya Aria Patih mengaku selanjutnya pemerintahan di Wilayah Ukur dibantu oleh Kepala Keamanan Suranangga.
Dalam pertemuan dengan para prajurit dan pejabat Kabupaten Dipati menjelaskan ia akan hidup menyepi di tempat-tempat sunyi bersama keluarga. Dengan mangkatnya Adipati Ronggonoto, Sultan pasti akan meminta pertanggungan jawab. Ukur bukan takut menerima hukuman, melainkan akibatnya juga akan membawa rakyat Ukur menderita lebih parah. Itulah alasan Dipati, mengapa dia akan meninggalkan Sukapura.
9. Hilang Lenyap Tinggal Kenangan
Utusan Mataram yang datang kemudian, dipimpin oleh Tumenggung Sura, membawa tentara lebih dari sepuluh ribu, mendapat tugas untuk menangkap Dipati Ukur, sebabnya seperti diduga oleh Dipati: meninggalkan pedan perang tanpa laporan, kedua peristiwa mangkatnya Surapati Ronggonoto.
Ketika Tumenggung Sura tiba, Kabupaten Sukapura nyaris kosong, ditinggalkan penduduknya. Lalu tentaranya dipecah jadi beberapa pasukan kecil memasuki daerah-daerah pedalaman mencari tempat Dipati Ukur menetap.
Tersebar berita, Wangsataruna, Bupati Tatar Ukur, bekas Senapati Mataram tertangkap dan dapat hukuman mati dipenggal kepala.
Sebenarnya yang tertangkap bukan Bupati Wangsataruna, melainkan seorang penduduk biasa, berasal Banyumas,