Dalam pada itu karena segala daya upaya mencari isterinya tidak berhasil, Prawira menjadi sakit ingatan. Pada suatu hari ia diiringkan oleh serombongan anak-anak, yang mengusik dan mengejeknya dengan riuh rendah. Entah mengapa, Prawira berhenti, kemudian duduk dekat pintu kebun Demang pensiun. Mendengar gaduh anak-anak, Permana dan Enden Cicih menengok ke samping rumah. Melihat "orang gila" yang kurus dan berpakaian kumal serta berkudung itu, Permana bukannya takut, melainkan mendekatinya. Ketika mengenal kudung yang dulu dibuatnya sendiri, ia yakin, bahwa orang yang bersila di atas tanah itu Prawira, suaminya yang ditinggalkannya. Dengan pertolongan Tuhan Yang Maha Penyayang, Prawira dibukakan ingatannya dan mengenal kembali isteri yang dirindukannya. Suami isteri lalu saling dekap mendekap sambil menangis kegirangan. Mereka bersama-sama pulang lagi ke rumah orafig tua mereka di Cigereleng. Beberapa waktu kemudian perkawinan Prawira dan Permana dirayakan lagi dengan lebih meriah dari pada, dulu. Dapatlah kita bayangkan, betapa menyesal dan mengkalnya hati R. Tanu, yang sia-sia saja jerih payahnya.
Kaca:Wawacan Siti Permana - M. K. Mangundikaria.djvu/14
Pidangan