Pada suatu hari Ibnu Hasan berjumpa dengan seorang anak, yang bernama Saleh. Atas pertanyaannya, anak sekolah itu menerangkan, bahwa sekolah itu tempat belajar membaca, menulis, berhitung dan tata krama.
Sesampai kembali di rumah, Ibnu Hasan meminta izin kepada gurunya untuk bersekolah. Gurunya senang sekali mendengar permintaan muridnya, kemudian memberi izin dan merestuinya.
Di sekolah pun Ibnu Hasan belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh. Karena ketekunan dan kecerdasan otaknya dalam tempo tiga tahun ia berhasil meraih piagam. Namun ia belum puas. Dimasukinya perguruan yang lebih tinggi, dan akhirnya semua pesantren di Mesir dimasukinya sampai tamat.
Dalam pada itu si Mairin dan Mairun sudah rindu kepada tanah air, lagi pula ingin beristeri. Ibnu Hasan tidak keberatan mereka pulang ke Bagdad, tapi ia sendiri akan meneruskan pelajarannya ke Turki. Ibu dan ayah Ibnu Hasan mula-mula waswas kedatangan si Mairin dan si Mairun. Tapi kemudian mereka bersyukur kepada Tuhan, karena anak mereka kabarnya sudah tamat dari semua pesantren di Mesir, malah akan melanjutkan pelajarannya ke Turki.
Di Istambul, Ibnu Hasan memasuki perguruan yang tertinggi. Karena bakatnya memang cerdas, di sini pun ia menonjol kepintarannya, sehingga mendapat pujian orang. Pemuda berusia 21 tahun yang tampan dan amat pandai itu menjadi rebutan gadis-gadis Turki yang cantik, tapi Ibnu Hasan belum mau beristeri. Karena sudah terlalu lama merantau di negeri orang, ia mengambil keputusan pulang kembali ke tanah airnya.
Dapatlah kita bayangkan, betapa suka cita kedua orang tuanya. Ibnu Hasan dipeluk dan ditangisi oleh ayah bundanya. Sebagai tanda syukur atas kedatangan kembali puteranya dengan selamat, Syekh Hasan mengadakan perhelatan besar, yang dikunjungi oleh Patih, para bangsawan, para saudagar dan para orang terkemuka di Bagdad. Atas permintaan Tuan Patih, Ibnu Hasan dengan panjang lebar menceritakan segala pengalamannya di perantauan.