Rasiah Geulang Rantay
[ Sampul ]
DAFTAR ISI
| 9 |
| 1. | 19 |
| 2. | 23 |
| 3. | 27 |
| 4. | 32 |
| 5. | 39 |
| 6. | 47 |
| 7. | 52 |
| 8. | 58 |
| 9. | 70 |
| 10. | 75 |
| 11. | 79 |
| 12. | 86 |
| 13. | 92 |
| 14. | 99 |
| 15. | 104 |
| 16. | 111 |
| 17. | 121 |
| 18. | 126 |
| 19. | 136 |
| 20. | 143 |
| 21. | 151 |
[ 3 ]
RASIAH
GEULANG RANTAY
Karangan
NANIE

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PROYEK PENERBITAN BUKU BACAAN DAN SASTRA
INDONESIA DAN DAERAH
Jakarta 1979
Diterbitkan oleh
Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra
Indonesia dan Daerah
BP No. 1243
Hak pengarang dilindungi undang-undang
Diterbitkan kembali seizin PN Balai Pustaka
KATA PENGANTAR
Pembangunan di bidang kebudayaan adalah bagian integral daripada pembangunan nasional. Pembangunan bidang kebudayaan tidak terlepas dari pemikiran dan usaha pengembangan dalam bidang sastra.
Karya sastra merupakan manifestasi kehidupan jiwa bangsa dari abad ke abad akan menjadi peninggalan kebudayaan yang sangat tinggi nilainya. Karena itu karya sastra perlu digali dan digarap untuk diresapi dan dinikmati isinya.
Karya sastra memberikan khazanah sejarah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Hasil penggalian dan penggarapan karya sastra akan memberikan rasa kepuasan rohani dan kecintaan pada kebudayaan sendiri yang selanjutnya akan merupakan alat ampuh untuk membendung arus masuknya pengaruh kebudayaan asing yang tidak sesuai dengan kepribadian dan kepentingan pembangunan bangsa Indonesia.
Penghayatan hasil karya sastra akan memberi keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern di satu pihak dan pembangunan jiwa di lain pihak. Kedua hal ini sampai masa kini masih dirasakan belum dapat saling mengisi, padahal keseimbangan atau keselarasan antara kedua masalah ini besar sekali peranannya bagi pembangunan dan pembinaan lahir dan batin. Melalui sastra diperoleh nilai-nilai, tata hidup dan sarana kebudayaan sebagai sarana komunikasi masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Para pemakai dan peminat bahasa dan sastra daerah, khususnya bahasa dan sastra Sunda, baik di dalam masyarakat maupun di sekolah dan di perguruan tinggi, sudah lama merasakan kekurangan akan buku Sunda sebagai bacaan maupun sebagai penunjang pengajaran bahasa dan sastra Sunda.
Selain itu sesuai dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika", sepatutnya kita memelihara segala ragam kebudayaan dan bahasa daerah yang hidup dan digunakan dalam masyarakat kita, agar keanekaragaman kebudayaan dan bahasa di negara kita itu tetap [ 6 ]terpelihara dengan segala keindahan dan kelincahannya. Bahkan perlu disebarluaskan ke seluruh pelosok Nusantara kita sehingga dikenal, diterima, dan dirasakan sebagai milik kita bersama.
Dengan tujuan itulah dan untuk mengisi kekurangan tersebut di atas, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen P dan K, bekerja sama dengan PN Balai Pustaka sebagai penerbit buku sastra yang telah dikenal sejak sebelum Perang Dunia II, menerbitkan kembali buku-buku sastra Sunda. Bagi yang tidak menguasai bahasa Sunda, tetapi ingin memahami isinya, telah kami susun ringkasan ceritanya dalam bahasa Indonesia.
Semoga dengan terbitan-terbitan ini kekayaan sastra kita yang sudah begitu lama terpendam itu dapat dikenal oleh khalayak yang lebih luas serta dapat menambah pengertian dan apresiasi terhadapnya.
Jakarta, 1978
Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra
Indonesia dan Daerah
[ 9 ]RINGKASAN
Pada hari Saptu tengah hari, sedang panas-panasnya matahari, duduklah seorang perempuan setengah umur, dengan muka sedih, di depan Villa Gembira di Cimahi. Perempuan itu jelas dalam kesengsaraan sebab tidak lama kemudian menangislah dia. Yang pada liwat tak ada yang memperhatikan.
Pada waktu itu, di depan Villa Gembira dan di bawah pohon kenanga duduklah di bangku seorang gadis yang sedang membaca surat kabar. Tetapi yang dibaca rupanya yang penting-penting saja sebab tak lama kemudian ia berdiri dan berjalan menuju ke pintu. Waktu itu sudah hampir malam. Ia memperhatikan perempuan setengah tua itu dari tadi, dan dalam hatinya ia bertanya ada apa orang itu sebab sudah hampir malam begini masih juga belum beranjak dari tempatnya. Ia tanyai wanita itu dan dijawab bahwa dia memang sedang dalam kesusahan. Dia tidak punya keluarga dan tidak pula punya rumah dan memang dia sedang mencari pekerjaan. Semula ia bekerja kepada seorang Komis di Sukajadi, tetapi karena Komis itu diberhentikan maka ia ikut dihentikan juga. Setelah itu ia sudah berusaha mencari pekerjaan di Bandung tapi juga tidak dapat. Maka ia mencoba ke Cimahi.
Ia disuruh menunggu sebentar sebab gadis itu hendak bilang sama ibunya. Tak lama kemudian dipanggil oleh ibu gadis itu. Kiranya apa sudah lama bekerjanya di tuan Komis maka jawabnya sudah enam tahun dan bekerja sebagai tukang masak. Lalu ia ditawari bekerja di situ sebagai koki. Dia sangat berterima kasih kalau andai kata tak dibayarpun dia mau bekerja di situ. Dia mengaku bernama Aminah.
Gadis itu, yang ternyata bernama Komariah, membawa berita kepada ayahnya bahwa mereka sudah mendapat ganti Bi Sarti, yaitu koki yang sudah pulang.
Ternyata Bi Aminah memang pandai memasak dan karenanya keluarga Villa Gembira senang hatinya dan tenteram hidupnya. Di Villa Gembira juga ada pembantu lelaki bernama Abdul.
Pada hari Minggu tepat jam empat sore berhentilah sebuah [ 10 ]motor di depan villa itu. Turunlah dua orang pemuda yang langsung pergi ke villa itu. Abdul yang sedang menyapu di situ ditanya apakah tuan ada di rumah, dijawab bahwa mereka sedang tidur. Mereka terus menanyakan di mana Enden Komariah yang dijawab sedang di dapur ikut masak. Dua pemuda itu adalah Sukardi dan Maman yang memang berdiam di Villa Gembira dan baru pulang dari cuti. Sukardi masih keponakan pensiunan Wadana — yalah yang punya Villa Gembira dan yang berdiam di situ- sedang Maman masih karabat tapi agak jauh. Mereka langsung ke dapur menemui Komariah. "Ai Kardi, bagaimana kabar Tasik" sambut Komariah kepada Kardi. Dijawab semua dalam keadaan selamat. Dan itu siapa, kok bukan Bi Sarti. Komariah menerangkan bahwa itu adalah koki baru pengganti Bi Sarti. Wah bisa kacau makan kita nanti kata Kärdi dalam bahasa Belanda. Komariah menyahut: "Nanti dulu, tunggu nanti kalau waktunya makan. Kalau kalian makan masakan dia akan ketagihan kalian."
Mereka kemudian pergi ke pavilyun untuk menemui Maman. Bertiga mereka ngobrol nggak keruan. Komariah melihat buku gede lalu tanya kepada Sukardi buku apa itu. Dijawab album, lalu ia melihat album itu. Ada potret satu yang menarik perhatiannya. Di bawah potret itu tertulis: H. Sungkawa kyai modern. Mengapa ia disebut kyai modern. Sukardi menerangkan bahwa orang itu sangat terpelajar, dia mahir empat bahasa, Belanda, Perancis Jerman dan Inggris. Dan pengetahuan umumnya melebihi kita. Apalagi soal agama, memang dia kyai tulen.
Mereka masih terus melanjutkan pembicaraan mereka mengenai segala rupa yang berkisar pada pengalaman waktu cuti mereka di Tasik. Sedang enak-enak ngobrol datanglah si Abdul mengatakan bahwa mereka sudah ditunggu makan oleh Ayah Ibu Komariah. Mereka segera beranjak dari duduknya dan terus menuju ke gedung untuk makan bersama-sama.
Pada suatu hari, kira-kira jam setengah dua siang, Maman datang sendirian dari kantor. Hal ini diketahui oleh Komariah. Ia mengikuti Maman sampai di pavilyun. Setelah ditanya di mana Sukardi maka jawab Maman sedang ke Ciparay bersama Sujana. [ 11 ]Kesempatan ini digunakan oleh Komariah untuk membikin foto berduaan dengan suatu akal dan memakai kamera milik Sukardi. Film diafdruk dua lembar saja, satu untuk Komariah dan satu lagi untuk Maman.
Dengan jalan yang berliku-liku akhirnya Komariah mengetahui bahwa dia tidak bertepuk tangan sebelah saja, Maman menanggapi cintanya. Hubungan mereka makin hari makin akrab. Hal ini menimbulkan kecurigaan pada Sukardi. Karena ia juga mencintai Komariah maka tumbuh rasa iri hati pada diri Sukardi.
Pada suatu ketika Sukardi, yang keadaan sosialnya jauh lebih baik daripada keadaan sosial Maman, mengajak seluruh isi rumah menonton bioskop. Orang tua Komariah sangat senang menerima ajakan ini karena mereka lebih condong mengambil menantu Sukardi daripada Maman. Sampai di bioskop Mamanlah yang diberi tugas untuk membeli karcis. Ia membeli karcis kelas dua untuk semua warga rumah kecuali untuk dirinya sendiri, ia membeli karcis kelas tiga, karena ia diminta menemani kawannya di kelas itu.
Di dalam bioskop Komariah duduk diapit oleh Sukardi dan Bi Aminah, sedang orang tuanya duduk agak jauh. Sudah lama mereka bercakap-cakap mengenai segala sesuatu, tetapi bioskop belum juga dimulai. Sukardi menanyakan jam kepada Komariah. Komariah mengangkat tangannya dan Sukardi melihat bahwa Komariah memakai gelang yang indah bentuknya, tetapi sayang hanya satu, karena ia tak melihat gelang di tangan yang lainnya. Ditanya mengapa hanya satu Komariah menjawab tidak tahu. Sukardi minta agar ia boleh memeriksa gelang itu lebih teliti, karena ia ingin membuatkan pasangannya. Gelang dilepas dan diberikan kepada Sukardi. Sukardi memeriksa gelang itu dengan sangat teliti. Terbaca olehnya cap beraksara S.S. di dekat tangkainya. Ia tanyakan kepada Komariah arti singkatan itu tetapi Komariah tidak tahu. Semua itu tidak lepas dari perhatian Bi Aminah. Setelah puas gelang dikembalikan kepada Komariah. Sebelum diterima oleh Komariah Bi Aminah ingin melihat juga. Setelah ia amat-amati sebentar lalu ia kembalikan pada Komariah. Lampu padam tanda bioskop mau dimulai. Pada waktu itu Aminah [ 12 ]mengembalikan gelang itu dengan tangan gemetar yang terasa oleh Komariah tapi tidak terlihat orang lain. Komariah bertanya mengapa tangan Bi Ami nah gemetaran, maka jawab Bi Aminah ia baru melihat gelang sebagus itu.
Selesai menonton mereka pulang. Ternyata bahwa Sukardi mencintai Komariah tetapi Komariah tidak menanggapi. Ia lebih suka pada Maman. Lama-kelamaan Sukardi mengetahui hal itu. Suatu saat Maman menerima surat dari Komariah agar ia datang ke kamarnya nanti malam lewat jendela karena ada sesuatu yang mau dibicarakan. Maman bingung menerima surat seperti itu, mau dipenuhi bagaimana dan kalau tidak dipenuhi bagaimana. Akhirnya ia memutuskan akan memenuhi permintaan Komariah. Tengah malam ia bangun dan sangat berhati-hati ia ke luar dan langsung menuju ke jendela. Perasaannya mengatakan seolah-olah ada yang mengikutinya. Ketika ia akan naik ternyata kakinya ada yang menarik dan ternyata Sukardi yang sudah mengikutinya dari semula. Maman sangat malu dan takut. Mereka kembali ke kamar. Di sini Maman minta agar hal itu jangan diceritakan kepada siapa pun dan khusus jangan pada orang tua Komariah. Tetapi Sukardi menganggap itu sudah keterlaluan, dan walaupun Maman itu sahabatnya, ia tetap akan melaporkan kejadian itu kepada orang tua Komariah. Maman sangat sedih karena memikirkan Komariah yang pasti sedang menunggu-nunggu kedatangannya.
Keesokan harinya Sukardi maupun Maman tidak masuk kantor. Sukardi pagi itu menghadap orang tua Komariah. Ia menceritakan apa yang terjadi tadi malam. Orang tua Komariah marah sekali dan memanggil Maman. Begitu datang dimaki-makilah Maman habis-habisan dan hari itu juga Maman diusirnya. Maman pergi tak sempat berpamitan kepada Komariah.
Waktu makan siang Komariah menunggu-nunggu, tetapi yang ditunggu tak kunjung muncul. Dia tanya kepada Bi Aminah dan dijawab bahwa Maman sudah diusir oleh orang tua Komariah. Komariah sedih hatinyanya dan bertanya pada dirinya sendiri apa kiranya yang menyebabkan diusirnya Maman oleh orang tuanya. Karena pikiran itu disimpan dalam hati saja maka lama-kelamaan [ 13 ]Komariah jatuh sakit. Sudah beberapa dokter dan orang pandai dimintai pertolongan tapi tak berhasil sampai kini. Dalam igauannya Komariah selalu menyebutkan nama Maman. Orang tuanya bingung sekali. Akhirnya Sukardi berusaha mencari Maman. la berkeliling kemana-mana, bahkan sampai di Jawa Timur. Di kota besar ia sampai memasang iklan, tapi segala usahanya tidak berhasil. Sukardi hampir putus asa, disangkanya Maman sudah meninggal dunia.
Pada suatu hari sampailah ia ke kampung Pagelaran. Ketika ia sedang beristirahat di pinggir jalan maka dilihatnya seorang yang sedang mencangkul. Tergetar hatinya, lalu ia mendekat serta memanggil orang itu tapi orang itu tak mau datang. Sukardi terpaksa mendekat. Ternyata orang itu adalah Maman, maka langsung dipeluknya. Setelah duduk sejenak maka Sukardi minta agar Maman mau kembali ke Cimahi. Sukardi menceritakan bahwa ia sudah lama mencari Maman ke mana-mana, sampai memasang iklan segala, tetapi tak juga berhasil. Karena sekarang sudah ketemu maka ia minta agar Maman mau kembali ke Cimahi. Maman tak tahu alasannya mengapa ia harus kembali ke Cimahi. Kemudian Sukardi membujuk Maman agar mau kembali ke Cimahi dengan mengatakan bahwa adiknya sedang sakit keras, dan belum pula sembuh walaupun segala usaha sudah dijalankan. la bersedih hati dan tepekur minta kepada Tuhan agar diberi obat penyembuh adiknya. Di situ ia memperoleh petunjuk bahwa yang menjadi lantaran sembuh adiknya adalah Maman. Mendengar cerita itu Maman menolaknya, tetapi karena permintaan Sukardi hanya untuk paling lama tiga hari saja, maka akhirnya ia menyanggupi juga.
Jam tujuh malam sampailah mereka di Cimahi, mereka langsung menuju pavilyun. Maman menunggu di pavilyun sedang Sukardi terus masuk ke dalam rumah induk. Di kamar Komariah Sukardi melihat seorang dokter dari Bandung, Bi Aminah dan ibu dari Komariah. Yang dua belakangan ini sedang menangis karena mereka mendengar dari orang bahwa penyakit Komariah tak dapat disembuhkan dokter. Dalam igauannya Komariah selalu menyebut-nyebut nama Mama n. [ 14 ]Melihat Sukardi, orang tua Komariah bertanya apakah ia sudah dapat obat. Orang tua Komariah sudah menyuruh orang untuk mencari Maman tapi sebegitu jauh belum juga dapat menemukan Maman. Sukardi tidak menjawab, hanya ia minta agar mereka semua keluar dari kamar itu. Setelah itu ia kembali ke pavilyun dan bersama Maman ia masuk ke kamar Komariah, bukan main kaget hati Maman melihat Komariah berbaring sakit sampai kurus sekali. Tetapi Komariah sebaliknya, setelah melihat Maman datang timbullah semangat hidupnya dan seketika itu juga ia kelihatan segar kembali. Dalam waktu singkat kesehatannya pulih kembali.
Tiga bulan kemudian Komariah menikah dengan Maman, mereka menetap di rumah itu dan orang tuanya pindah ke pavilyun. Sukardi pindah ke Bandung. Pada suatu sore Komariah berkata pada Bi Aminah bahwa nanti malam ibu, bapak, Maman dan ia sendiri akan pergi kundangan, agar Bi Aminah dan Midi (pembantu baru) berhati-hati menjaga rumah.
Esok harinya sewaktu Komariah membuka lemari pakaiannya, diketahui bahwa perhaisan berupa kalung, gelang, giwang, cincin dan peniti semua hilang. Hal itu segera diberitahukan kepada suaminya dan juga pada orang tuanya. Tidak lama kemudian suami datang dengan membawa seorang polisi. Setelah polisi selesai memeriksa maka semua kamar harus digeledah, termasuk kamar Bi Aminah. Komariah keberatan kamar B iAminah digeledah karena ia punya anggapan bahwa Bi Aminah tidak mungkin mengambilnya. Tapi polisi tak dapat menyetujui pendapat itu dan semua kamar tetap harus digeledah.
Ternyata dalam kopor di kamar Bi Aminah polisi menemukan gelang yang setelah diperlihatkan dikenali Komariah sebagai gelangnya. Tanpa dapat mengelak Bi Aminah dibawa polisi ke Bandung untuk diusut perkaranya.
Sesudah polisi pergi, datanglah bertamu seorang kenalan lama Maman yang bernama Sungkawa. Komariah sibuk menyiapkan suguhan dan Maman berkata bahwa isterinya tidak punya [ 15 ]pembantu maka segala sesuatu harus dikerjakan sendiri oleh isterinya. Punya pembantu yang ternyata seorang pencuri dan sekarang sedang dibawa polisi.
Sedang asyik berbincang-bincang, berderinglah tilpun dari polisi, yang memberitahukan bahwa malingnya sudah tertangkap bersama dengan barang buktinya. Bi Aminah ternyata tidak bersalah dan yang mengambil barang-barang itu adalah si Dul bekas pembantu yang dulu.
Ketika polisi datang bersama Bi Aminah, tamunya berdiri kaget melihat yang datang itu isterinya yang sudah lama ia cari. Saking kagetnya ia berkata: "Salamah". Bi Aminah tidak kurang kagetnya melihat suami nya yang ditinggal dahulu. Mereka saling berpelukan, lupa bahwa di situ banyak orang.
Beberapa saat kemudian sepi tak ada yang berbicara. Rd. Ahmad (polisi) menyerahkan barang-barang yang hilang itu, ternyata gelang rantai pun ada. Orang tua Komariah heran lalu bertanya: "Lalu gelang yang ada pada Aminah itu milik siapa." Bi Aminah alias Bi Salamah lalu menceritakan riwayatnya dari awal sampai akhir termasuk bekas pukulan haji di tangan kanan Komariah. Ternyata gelang itu memang pasangannya yang selalu disimpan oleh Salamah.
Dari kejadian ini Komariah lalu mengetahui bahwa orang tua sebenarnya adalah Bapak Sungkawa dan Ibu Salamah itu. Maka terharulah mereka semua. Mulai saat itu mereka hidup rukun.
Komariah dan suaminya sering berkunjung pada orang tuanya, lama kelamaan orang tuanya pindah ke Cimahi agar dapat berkumpul dengan anaknya. Itulah cerita "Rasiah geulang rantay."
TAMAT
I. VILLA ”GUMBIRA”
Poe Saptu keur meujeuhna hade poena !
Langit lenglang taya aling-aling, estu matak narik resmi ka para nonoman anu keur sumedeng pinuh ku kebirahian. Beuki matak sugema bae, lantaran poe anu sakitu hadena teh bakal ditema ku caang bulan tanggal opat-welas.
Geura itu para nonoman anu keur palelesir mapay-mapay jalan, katembongna teh taya pisan kasusah, sempal guyon jeung pada baturna.
Dina kuta beulah wetan, sisi jalan parapatan, hareupeun hiji gedong anu merekna Villa ”Gumbira” aya hiji awewe keur diuk bari ngadaweung. Lamun nilik kana papakeanana anu pohara laipna, tetela pisan eta awewe teh kacida waluratna. Pasemonna mesum, beungeutna pias kawas nu kurang sare, sarta meusmeus meungpeúnan beungeut ku dua leungeun. Upama ditelek-telek pamulu jeung keureutan beungeutna, kawasna keur ngorana mah eta awewe hade oge rupana.
Geus moal salah deui eta awewe teh keur nyandangan katunggaraan hate, da geuning lila-lila mah bet ceurik inghak-inghakan, cipanonna disusutan ku leungeun baju.
Nu ngalaliwat ngan ukur ngareret ka nu keur sumegruk ceurik teh, siga teu aya nu panasaraneun hayang nanya ku naon lantaranana anu matak sore-sore diuk dina kuta sisi jalan bari ceurik bangun nyeri-nyeri teuing.
Harita teh di hareupeun Villa ”Gumbira”, di handapeun tangkal kananga, aya hiji istri keur diuk dina bangku bari maca surat kabar. Kawasna ngan dijojoan nu parentingna bae macana teh, da teu kungsi lila jung nangtung bari memener sampingna, tuluy ka lawang.
”Ku naon eta awewe teh sakieu geus buritna ngadon inghak-inghakan di sisi jalan ?” cek dina pikirna bari terus disampeurkeun.
”Bi,” cenah, ”ku naon bibi teh ?” [ 20 ]Nu ditanya cengkat bari pok ngajawab: "Henteu Enden, ......... keur mendak kasesah bae abdi teh.”
”Susah ku naon?”
Nu ditanya teu ngawalon.
”Naha bibi tacan dahar ?”
”Parantos Enden neda mah ......”
”Na ku naon atuh ? Di mana imah bibi teh, jauh ti dieu ?”
”Nu mawi ........ abdi mah teu gaduh rorompok.”
”Ari ayeuna rek ka mana bibi teh?”
”Ka mana bae dongkapna, manawi di dinya di beh kulon aya nu kersaeun direreban.”
”Ari tadi ti mana ?”
”Ti Bandung ........”
”Ti saha ti Bandung teh ?”
”Sakawitna abdi teh bubujang di juragan Komis di Sukajadi, nanging ku margi dunungan abdi dilirenkeun tina padamelanana, atuh kapaksa abdi teh dipiwarang wangsul. Ari nu mawi dianggo ceurik balilihan mah, teu aya deui mung ku margi sesah nya piwangsuleun ........bae.”
”Na atuh teu neangan deui pagawean di Bandung ?”
”Parantos ka mana-mana milari mah, nanging teu kenging
”Ke atuh dagoan di dieu nya, kuring rek unjukan heula ka ibu,” ngomong kitu teh bari leos indit gagancangan. Teu lila geus kurunyung deui, bari pok ngomong kieu: ”Ka dieu bi, ulah di dinya !”
Jung eta awewe teh nangtung, nuturkeun pandeuri. Barang nepi ka pakarangan dapur brek manehna cingogo.
”Ieu Eulis ?” cek ibuna.
”Sumuhun.”
”Cing ka dieu sing deukeut, ti mana maneh teh ?”
”Ti Bandung,” jawabna bari pindah kana deukeut tihang, brek deui diuk.
”Jadi koki di saha di Bandung teh ?”
”Di juragan Komis ........” [ 21 ]”Naha make eureun ?”
”Margi eta ...... parantos liren tina padamelanana.”
”Pansiun ?”
”Duka da dioperkomplit saurna mah, duka naon operkomplit teh.”
”Enya meureun dilepas lantaran rea teuing pagawe,” cek putrana.
”Geus lila digawe di juragan Komis teh ?”
”Parantos aya bae manawi 6 taun mah.”
”Geuning geus lila.”
”Kantenan da ngiring ka anjeunna teh nuju anjeunna didamel di Cianjur keneh.”
”Jadi maneh teh urang Cianjur ?”
”Sumuhun.”
”Boga keneh baraya di Cianjur ?”
”Nu mawi parantos teu gaduh, sadayana oge parantos tilar dunya,” tembalna.
”Teu boga anak?”
”Gaduh ge hiji, parantos maot nuju orok beureum keneh.”
”Ari pipisahan jeung salaki geus lila ?”
”Lami,” tembalna bari nyusutan cipanon ku tungtung baju, rupana bae kagagas, inget ka jaman nu geus kaliwat.
”Lain kitu, kumaha upama cicing di dieu jadi koki, kira-kirana daek?”
”Kalintang nuhunna upami juragan kersa nampi mah ka jisim abdi anu hina tur teu aya katiasa.”
”Kabeneran pisan kamari koki di dieu balik, mun teu kitu mah can puguh bisa nulungan ka maneh.”
”Nuhun juragan, nuhun, ku kasaean juragan sakitu, mani asa ditumbu umur teh sayaktosna, da upami teu kapendak ku Enden mah tiasa jadi abdi maot langlayeuseun.”
”Nya kitu bae ayeuna mah, ngan acan bisa nangtukeun perkara bayaran, lantaran hayang nyaho heula pagawean maneh. Upama getol bae meureun digedean, sabalikna upama ngedul atawa teu bageur tangtu nyaho sorangan pibalukareunana.”
”Emh juragan, bujeng-bujeng dibayar abdi mah, ku tiasa [ 22 ]hirup oge parantos pirang-pirang untung. Perkawis padamelan-padamelan kitu ari anu kadada kaduga mah kantenan pisan ku abdi dipidamel sakumaha mistina."
"Sukur atuh ari kitu mah. Cig ayeuna mah geura ka dapur, beberes keur pienggoneun. Tuh di kamar nu itu nu kulon. Naon eta dina koper ?"
"Papakean butut kangge disalin," tembalna bari leos ka dapur. ................................................................................
"Pa, parantos kenging gentosna bi Sarti teh," cek putrana ka ramana anu kakara gugah.
"Sukur bae geus meunang mah, Urang mana ?"
"Tilas koki Komis di Bandung, duka Komis naon."
"Sugan bae bageur ieu mah, da jelema kasangsara, katurug- turug geus teu bogaeun pisan baraya," cek geureuhana.
Kakara digawe dua poe oge geus kacida kapakena koki anyar teh, jaba ti singer kana sagala rupa pagawean, jeung bisa masak, deuih, bisa nyieun kadaharan nu marodel teu kalawan pituduh dununganana. Malah mindeng nyieun kaolahan anu dununganana kakara mendak. Atuh teu matak heran, koki anyar teh pohara di- pikanyaahna ku dununganana. Malah putra dununganana mah mindeng sasauran kieu: "Bi, upama rek nyieun kaolahan nu model, kuring bejaan nya, rek diajar." [ 23 ]II. KIAI SUNGKAWA
Poe Minggu hareupna, pasosore pukul opat panceg, reg aya motor eureun di hareupeun gedong anu kasebut di luhur.
Si Abdul, bujang, anu harita keur sasapu di buruan, digupayan ku nonoman anu diuk dina gandengan. Nu digupayan lumpat ka lawang, bray mukakeun panto lawang pakarangan. Geleser motor teh diasupkeun ka buruan, dipengkolkeun ka beulah kenca, ka hareupeun papilyun.
Jut dua nonoman teh tarurun. Si Abdul anu kakara gap nyekel deui sapu, digupayan ku nu saurang. Gura-giru manehna nyampeurkeun. "Bade naon ?" omongna.
"Juragan aya Dul ?"
"Aya, nuju karulem."
"Ari Enden Komariah ?"
"Tadi mah di dapur nuju popolah."
"Man, hayu urang nepungan Komariah heula," cek nu saurang ka baturna.
"Cig bae ah, dewek mah rek beberes heula," tembalna bari ngaleos ka jero.
Enden Komariah jeung bi Aminah ngaralieuk, lantaran aya nu mukakeun panto dapur.
"Aeh, geuning engkang," cek nu di dapur bari nunda peso meja anu keur dipake mesekan kumeli, tuluy nyampeurkeun ka nu anyar datang. "Di mana ari Maman ?"
"Di ditu."
"Nembe sumping ieu teh ?"
"Enya, ........ acan ka imah-imah acan."
"Kumaha sepuh-sepuh di Tasik daramang ?"
"Damang, ngan Titi rada gering waktu ditinggalkeun teh.
"Naha ari Maman teu buru-buru ka dieu, teu sonoeun kitu ka abdi ?"
"Rek beberes heula cenah. Ari itu saha, siga lain bi Sarti ?"
"Koki anyar." [ 24 ]"Ari bi Sarti ka mana ?"
"Wangsul."
"Beu, palangsiang tumamu dahar beunang popolah koki anyar mah," Ngomongna ku basa Walanda.
"Cobi bae engke raosan kekenginganana popolah, boa kenging ieu mah langkung raos ti batan kaolahan kenging bi Sarti."
"Hayu atuh urang ka Maman."
"Bi, pek we teruskeun nya !"
"Mangga," tembalna.
"Ari ibu jeung apa arangkat ka mana?"
"Karulem keneh," tembalna bari nutupkeun panto dapur.
"Teu nyandak nu aneh-aneh, engkang ?"
"Puguh we."
"Naon ?"
"Engkang"
"Ih, engkang mah teu aneh teu sing."
"Kitu ?"
"Sumuhun," tembalna bari imut ngagelenyu.
Barang narepi ka papilyun, kasampak Maman keur ngabaheuhay dina korsi males.
"Cageur Man?" cek Enden Komariah.
"Pangesto," tembalna bari cengkat. "Kumaha ceuceu damang ?”
"Cageur."
Gek eta tilu nonoman dariuk dina korsi, ngariung. Sukardi nyelang heula ka jero nyokot dompet (damestas) model panganyarna meunang ngahaja meuli keur ngirim raina.
"Ari Maman mangmeulikeun naon ka ceuceu?"
"Teu meser naon-naon, tembalna bari tungkul semu era, lantaran dipencrong bae ku Enden Komariah.
"Aeh etaeun, engkang mah boga deui nu model geura, beu- beunangan waktu pakansi," cek Sukardi bari jung deui ka jero.
Sabot Sukardi di jero, Enden Komariah nanya kieu ka Maman; "Man, ari Maman ngewa ka ceuceu ?"
"Ngewa?" Maman cengkat bari neuteup ka Enden Komariah. "Naha ari ceuceu nganggo mariksa kitu ?" [ 25 ]"Lain goreng sangka, ngan eta bae nenjo budi Maman, lamun nyarita jeung ceuceu sok beda."
Maman teu kungsi ngawangsul lantaran Sukardi kaburu datang, cek ingetanana, kurang hade, bisi kapapanjangan.
"Naon eta teh engkang ?"
"Album," jawaban. "Geura ilikan beubeunangan engkang jeung Maman waktu pakansi."
Eta album dibukaan ku Enden Komariah, unggal potret diilikan taya nu kalarung. Lebah potret hiji lalaki anu make kerepus buludru hideung, jas bukaan kulit kayu, kamejana disamlehkeun, disamping palekat ........... Enden Komariah rada lila ngilikanana. Di handapna aya tulisan meunang Sukardi anu unina "H. Sungkawa kiai modern".
"Kiai ieu teh engkang ?"
"Enya, ......... kiai modern."
"Di mana lemburna ?"
"Deukeut imah engkang."
"Naon margina anu mawi disebat kiai modern ?"
"Enya, ku sabab modern."
"Terang abdi oge ari hartosna kecap modern mah, mung abdi mah naroskeun soteh hayang terang, naon nu dianggo alesan ku engkang, kangge ngabentenkeun kiai anu modern sareng anu henteu modern? Naha sapedah ieu henteu nganggo sorban ?"
"Lain lantaran kitu, tapi ku elmuna pohara jerona, saperkara. Kadua perkara, makena elmu oge beda jeung kiai-kiai nu sejen."
Enden Komariah imut.
"Naha make seuri ?" ceuk Sukardi.
"Eta we teu kahartos," tembalna bari mencrong ka Sukardi. "Bieu saur engkang ku margi jero elmuna; naha engkang iasa ngukur pinter-bodona hiji kiai, sedeng engkang ku anjeun teu uninga atanapi teu patos uninga kana bagbagan agama, ku margi urang mah teu kenging pangajaran tina perkawis eta ? Nanging punten, sanes abdi ngahina ka engkang ; eta saperkawis. Kalih perkawis, tadi saur engkang benten nganggona elmu sareng nu sanes. Leresan eta kangge abdi mah anu bodo, baliwet. Kapan agama Islam teh mung hiji. Wet Islam di mana-mana oge sami, nya [ 26 ]eta nganggo angger-anggeran Kuran sareng hadis. Jadi upami wetna sami, kantenan nganggona oge moal benten, Yaktos?"
"Ah, bet papanjangan," tembalna bari seuri, "atuh engkang mah teu timu dibawa ngobrol perkara agama mah. Engke we ka Kiai Sungkawa, da rek ka dieu saurna.'
"Sanes bade ngajak sawala tina perkawis agama abdi mah, mung bayang terang eta tea bae .......... naon margina anu mawi ku engkang disebat kiai modern?"
"Pinter ari lantaranana mah, lain pinter tina perkara agama bae, tapi tina rupa-rupa elmu nu sejen oge. Kapan ari karereaanana kiai mah pinterna teh ngan wungkul tina bagbagan agama bae.
Ieu mah sagala nyaho. Malah engkang ngarasa, yen kanyaho-umumna leuwih rea ti batan engkang, anu geus sakola pertengahan."
"Kitu ? Jadi eta margina anu mawi ku engkang disebat kiai modern teh ?"
"Enya," tembalna, "malah engkang jeung Maman kungsi kawiwirangan .........."
"Kumaha kitu ?"
"Waktu engkang, Maman, mama jeung rerencangan mama ngaos ngariung di bumina, engkang ngomong ke Maman ku basa Inggris, nu dipalar supaya teu kahartieun ku Kiai Sungkawa tea. Na ari derengdeng teh nembrong ka engkang ku basa Inggris anu pohara lancarna. Hadena bae harita engkang henteu keur ngomongkeun goreng."
"Kumaha basa Walanda, iasaeun ?"
"Komo deui atuh basa Walanda mah, basa Frans, basa Duits, cindekna nu kaasup kana "moderne talen" mah anjeunna iasaeun."
"Di mana cenah diajarna ?"
Teu kaburu dijawab, lantaran kaganggu ku si Abdul. "Rek naon Dul?" cek Enden Komariah.
"Diantos tuang .........."
"Mangga atuh, ke urang teraskeun deui ngobrol mah," cek Enden Komariah bari jeung nangtung. [ 27 ]III. TEPUNG RASA
Pukul satengah 2 Maman datang ti pagawean. Barang kabireungeuh ku Enden Komariah Maman datangna ngan sorangan, tuluy bae dituturkeun ka papilyun.
"Man, ari kang Sukardi terus ka mana ?" Enden Komariah nyaritana ka Maman sakapeung kasar sakapeung lemes.
"Saurna mah bade ka Ciparay."
"Sareng saha?"
"Sareng Sujana."
"Bade naon cenah ?"
"Duka," tembalna bari tuluy ka pangkeng rek disalin. Teu kungsi lila geus kaluar deui, make piama. Gek manehna diuk pahareup-hareup jeung Enden Komariah. Meunang sajongjongan mah paheneng-heneng bae eta dua nonoman teh, komo ari Maman mah budak anu tara pati ngomong, pahareup-hareup jeung istri anu teu pati conggah, ayu oge picaritaeun, kacida beuratna rek ngedalkeun teh. Da enya oge geus lila matuhna di dinya teh, tapi weleh bae teu wanieun miconggah, kawasna bae tina ngarumasakeun maneh, sok inggis aya nu nyebut mapadani. Jadi sanajan Enden Komariah kacida miconggahna oge, ari manenna mah terep bae ngajenan.
"Hayu, atuh Man, urang tuang heula," cek Enden Komariah bari jung nangtung.
"Mangga wae ti payun," tembal Maman.
Enden Komariah mencrong ka Maman mani teu ngiceup-ngiceup. Barang Maman tungkul lantaran dipencrong bae, leos bae Enden Komariah indit sorangan. Maman ngahuleng, teu lila jung nangtung nuturkeun Enden Komariah ka kamar dahar. Kasampak Enden Komariah keur ngahuleng bae nyanghareupan ambengan. Barang Maman geus datang kakara ngamimitian dahar.
Si Abdul nyiuk sangu rek ngeusian alas rek ngeusian alas Sukardi, tapi dicarek ku Enden Komariah: "Keun bae Dul, can sumping Gan Sukardi mah."
Biasana mah upama keur aya Sukardi, geus biasa dalaharna teh sok bari ngawarangkong, tapi harita mah pahuleng-huleng [ 28 ]bae. Rea ari picaritaeun mah, ngan .......... heurin ku letah. Sabada dalahar, jung Enden Komariah ka jero, nepungan ibuna, ari Maman ka papilyun.
Sorena, sabada mandi, rap Enden Komariah dangdan, leos ka papilyun rek nepungan Sukardi sugan geus datang. Kasampak ngan aya Maman bae keur maca surat kabar nu aya gambaran.
"Ari kang Sukardi can datang Man?" cek Enden Komariah bari gek diuk dina korsi hareupeun Maman.
"Teu acan," tembalna.
"Aya gambar naon nu aneh ?" cek Enden Komariah bari jung deui nangtung, tuluy ka gigireun Maman, gek diuk dina tangan tangan korsi anu didiukan ku Maman.
Kakara harita Maman mah ngarasa diuk sakitu deukeutna jeung Enden Komariah, mani meh paadek.
Lila pisan eta dua nonoman ngarilikanana surat kabar teh, da bari dibaca artikel-artikelna nu parenting. Sanggeus tamat, gek deui Enden Komariah diuk dina korsi.
Maman naleukeum kana meja bari mencrong ka Enden Komariah, Enden Komariah oge neuteup ka Maman mani teu ngiceup-ngiceup, srek panonna diadu, dibarengan ku sumiakna rasa dina sakujur badan, hiji rasa anyar anu aneh, boh keur Enden Komariah boh keur Maman.
Tepung rasa harita, anu ngan sesekonan, kawasna moal beunang dipopohokeun, sanajan geus kaurugan ku taneuh beureum oge !
Maman teu kadugaeun mencrong lila-lila, kitu deui Enden Komariah, anu matak tuluy bae tarungkul.
"Rasa naon ieu teh ?" cek dina pikir Maman, "Naha ieu kitu anu disebut rasa cinta teh ? Ah, teu bisa jadi dina sanubari aing bijil rasa cinta, micinta ka Enden Komariah. Lain, aing yakin, lain rasa cinta ! Enya, tapi naon atuh ? Naon sababna anu matak paningali Eden Komariah beda srekna kana hate aing ti batan sasari ? Beda, beda pisan, ieu ku aing karasa! Enden Komariah bogoheun ka aing? Ah, pamohalan !" Kitu pertanyaan-pertanyaan anu bijil tina sanubari Maman, sanggeusna tepung rasa jeung Enden Komariah. [ 29 ]Kumaha ari kaayaan Enden Komariah? Kawasna moal sakumaha bedana jeung kaayaan hate Maman tagiwurna teh. Ngarep-ngarep sugan Maman ngabudalkeun pangeusi atina, kawasna ngan ukur semet pangharepan, dan Maman mah jongjon bae tungkul bari nyoo tungtung taplak meja. Sigana, cacakan teu kahalangan ku kaistrian mah geus miheulaan ngabudalkeun pangeusi sanubarina.
Maman cengkat, srek deui diadu tingal. "Rasa anyar" timbulna beuki nguntab-nguntab, sumiak saluar awak, ruyrey kukurayeun sagala rupa, asa diuk asa henteu. Ngan sesekonan bae tepung tingalna teh, gancang tarungkul deui.
"Naon ieu teh ? Naon ieu teh ?" cek Maman dina jero hatena. "Bet tara-tara ti sasari. Jeung ongkoh kakara diuk babarengan jeung Enden Komariah teh."
Enden Komariah ngarti, yen Maman keur tagiwur hatena, teu beda jeung anjeunna. Kawasna ari ngarep-ngarep Maman ngajak ngomong ti heula mah jauh tanah ka langit, anu matak pok bae anjeunna miheulaan nanya, disalenggorkeun kana perkara sejen, da ari pangajak hatena mah hayang ngabudalkeun pangeusi sanubarina :. pokna: "Man, kang Sukardi teh rek kulem ?"
"Moal saurna mah."
"Naha Maman teu ngilu, lain nyandak gandengan ?"
" .......... Teu ngajak."
"Teungteuingeun ari kang Sukardi."
"Teu sawios, bade naon ngiring oge da abdi mah teu gaduh kaperluan."
"Ari kang Sukardi perlu naon cenah ?"
"Duka, da di kantor oge badanten bae sareng Sujana, duka ngabadantenkeun naon."
"Ari kodakna teu dicandak?"
"Henteu, upami teu lepat mah."
"Coba pangnyandakkeun sareng filmna hiji, ceuceu hayang diajar motret, sugan bae kajadian, meungpeung panas keneh."
Maman nyelang heula ka jero, rek nyokot kodak sarta teu lila geus datang deui bari sok kodak teh dika-Enden Komariah-keun. [ 30 ]”Yu urang ka tukang,” cek Enden Komariah bari jung nangtung. Maman teu hese diajak teh, tuluy bae nuturkeun.
”Man, cobi ngadeg di ditu caket tangkal eros.”
Maman nurutkeun bae. Enden Komariah memener kodakna. Teu lila mere isarah ka Maman supaya ulah galideur. ”Cetrek ......... terrrrr ..........” berebet anjeunna lumpat ka gigireun Maman, mani paadek pisan sarta leungeunna nu katuhu dipake ngaleng ka Maman.
”Terrrr ........ trok-trek!”
Enden Komariah ngareret ka Maman, nyeh imut, leos indit rek nyokot kodak. Maman mah ngan bengong bae nu aya. Eta kajadian nimbulkeun rupa-rupa pertanyaan dina ati sanubarina. Ari gegedena mah hariwang jeung sieun, da meureun eta potret teh kanyahoan ku ibu-ramana atawa ku Sukardı.
Enden Komariah anu surti kana kahariwang Maman, pok ngomong kieu: ”Entong reuwas-reuwas Man, sing percaya ka ceu-ceu, piraku ceuceu oge geruh.”
Maman teu ngawangsul sabab hatena kalimpudan ku rarasaan anyar anu beuki ngun tab-ngun tab, sumarambah kana sakujur badan. Manehna teh lain lalaki leumpeuh yuni, tapi harita mah ngarasa taya tangan pangawasa, keuna ku dayaperbawana ”rasa anyar” nu tumerapna lir upama seuneu kana injuk.
Nyawang nu keur huleng jentul teh Enden Komariah imut ngagelenyu ti kajauhan.
”Man, mangga urang ka payun deui.”
”Mangga,” tembalna, bari jung indit nuturkeun Enden Komariah. Gek deui dariuk dina korsi.
”Hayang teh kaleresan sae,” cek Enden Komariah bari ngangsrodkeun korsina ka hareup, ”Enjing ku ceuceu bade dibantun ka tukang potret. Moal seueur-seueur bade ngadamel dua bae, keur Maman hiji keur ceuceu hiji.”
Barang keur garunem catur kitu, rurrrr Sukardi ngeureunkeun motorna di lawang.
”Kang Sukardi kitu ?” cek Enden Komariah bari jung nangtung. [ 31 ]”Sumuhun.”
”Ulah nyarios ceuceu ka dieu nya ?” Nyaritana kitu teh bari gura-giru indit ka tukang, tuluy ka dapur.
Maman muka deui surat kabar neruskeun hancana. Teu lila Sukardi datang.
”Sambas aya ka dieu Man ?”
”Euweuh.”
”Ceu Komariah ka dieu ?”
”Euweuh.”
”Ieu kodak urut motret naon?”
...... Tas diberesihan.”
Sukardi asup ka pangkeng rek disalin.
[ 32 ]IV. DULUNGDUNGDENG
Ti harita Maman katembongna teu pati berag. Eukeur mah memang tara pati daek nyarita, katambah ayeuna mah jeung ngagugulung kabingung sagala. Da lalakon antara manehna jeung Enden Komariah teh pikeun manehna mah jadi nungtun kana nguluwut hate. Mindeng manehna ceurik balilihan tara pira ari lantaranana mah, sapedah eta sok nenjo Sukardi pohara guletna jeung Enden Komariah, sempal guyon gogonjakan kalawan pinuh ku kagumbiraan. Upama manehna nenjo Enden Komariah jeung Sukardi keur sarempal guyon kitu, sok buru-buru bae manehna mah numpi ka pangkeng ngadon ngumbar cipanon. Hatena ngarasa peurih asa digerihan ku hinis. Padahal teu kudu dipake nyeri, pantes sanajan leuwih ti kitu oge da jeung barayana. Ari ka manehanana, bener ari baraya tea mah, tapi geus kacida laerna.
Sakapeung osok oge ngupahan maneh, upama ngingetkeun yen manehna teh jelema hina tur taya kaboga. Jeung ongkoh lamun enya tea mah manehna cinta ka Enden Komariah, moal boa ngan ukur sasemet cita-cita jeung lalamunan bae, da puguh lain bangban lain pacing lain campaka kuduna.
Bener oge manehna teh anak jelema cukup, kolotna jelema anu diajenan ku babaturanana salembur, tapi ......... baheula, da ayeuna mah sanggeus indung-bapana teu aya di kieuna, sanggeus rajakayana ledis lantaran dipake ngalajur napsu ku bapana, Maman teh teu kurang-teu leuwih ti hiji jelema nunggul pinang, hiji jelema hina tur sangsara, buktina hirup oge numpang di batur. Manehna ngarasa kahutangan budi ku ibu-rama Enden Komariah anu ngurus ka manehna sarta mangngongkosankeun sakola ti sakola handap tug ka sakola pertengahan di Bandung, dijeujeuhkeun nepi ka boga gawe. Upama enya tea mah mikahayang ka Enden Komariah, manehna sorangan geus ngarasa teu pantes, geus ngarasa teu layak, da meureun kaasup kana basa teu nalipak maneh.
”Memang teu layak, kacida teu layakna teh aing micinta ka Enden Komariah,” cek dina pikirna, ”tapi naha atuh Enden [ 33 ]Komariah bet mere budi ka aing, kawas lain sawajarna.
Enya, tapi sanajan kitu oge kacida teu pantesna, kacida salahna, upama ku aing dilayanan, jeung ongkoh aing geus ngabogaan kayakinan yen aing teh lain babad ka Enden Komariah.” Kitu pikirna Maman, upama ingetanana keur sehat. Tapi eta ingetan nu sehat teh sok sakeudeung pisan timbulna, kalindih ku rasa anyar anu karasana beuki ngagolak dina sanubarina.
Kitu sababna anu matak Maman mindeng malaweung!
Mindeng manehna indit nyorangan ka tempat nu singkur, ngadon niiskeun pikir.
Dina hiji poe, meneran poe Minggu, Sukardi ngajakan ulin ka Maman, tapi Maman teu puruneun, basana teu ngarareunah awak. Enden Komariah oge anu ti kamarina geus nyanggupan, barang ngadenge yen Maman moal milu mah, tuluy bae dadaku aya halangan nu penting. Atuh kapaksa Sukardi indit sorangan, lantaran manehna geus jangji ka babaturanana di Bandung.
Barang Sukardi geus indit, rap Maman dangdan, leos ka buruan, leumpangna tungkul, pasemonna alum. Di lawang paamprok jeung Enden Komariah keur naleukeum kana pager tembok.
”Rek ka mana Man?” cek Enden Komariah bari nyampeurkeun.
”Henteu, bade ulin bae.”
”Ulin ka mana?”
”Bade ka apotik meser ubar. Mangga atuh ceu !”
”Kenging ceuceu ngiring?”
Maman teu ngajawab, jongjon bae leumpang, api-api teu ngadenge.
Teu puguh-puguh, nenjo nu keur leumpang teh, curucud bae cipanon Enden Komariah bijil, ngalembereh kana pipi. Leos bae anjeunna ka tukang, gok paamprok jeung si Abdul keur sasapu.
”Dul, ka mana ari Gan Maman?”
”Sanes ameng?”
”Ameng ka mana?”
”Sasauranana ka abdi mah bade ka Curug Jompong.”
”Ka mana Dul, ka Curug Jompong?” [ 34 ]"Sumuhun."
Enden Komariah henteu papanjangan mariksana, tuluy bae ka jero rek nepungan ibuna.
"Bu, abdi bade ka pasar sareng bi Aminah."
"Cig," tembal ibuna, aņu harita keur ngagutrut ngaput. Sanggeus dangdan leos Enden Komariah ka dapur, nepungan bi Aminah.
"Bi, rek ka pasar tea?"
"Sumuhun.
"Kuring milu nya ?"
"Mangga."
"Kana oplet nya bi, ambeh gancang."
"Ngiringan."
Enden Komariah megat oplet, clak tarumpak.
"Ka pasar," cek Enden Komariah ka supir. Barang datang ka lawang pasar, Enden Komariah ngomong kieu ka bi Aminah: "Bi, ka pasar bae sorangan nya, kuring aya perlu sejen. Upama geus balanja, dagoan bae di hareupeun warung Kadran. Ulah waka balik upama acan disampeur ku kuring mah, wayahna bae rada kesel sakeudeung mah nya bi?"
"Mangga," tembal bi Aminah bari jut turun, leos ka pasar.
"Ka Curug Jompong !" cek Enden Komariah ka supir.
Barang geus ngaliwat pasar Antri Kidul, Enden Komariah nitah ngagancangkeun opletna ka supir, Beleset oplet teh dilumpatkeun tarik pisan. Ngan sakeudeung geus nepi ka sasak Citarum, terus nanjak, mengkol ka katuhu, mengkol deui ngenca, jog bae anjog ka Curug Jompong.
"Tuh lebah jelema nu diuk dina kuta," cek Enden Komariah ka supir.
"Nu calik mayun ngaler Enden?"
"Enya."
Sidik pisan Maman keur ngadaweung bari nangkeup tuur. Reg oplet teh dieureunkeun tukangeun Maman pisan. Tapi Maman mah jongjon bae ngalamun.
Jut Enden Komariah turun, bari mere isarah ka supir nitah eureun di beh kulon. [ 35 ] Lalaunan pisan leumpangna. Enden Komariah nyampeurkeun ka Maman, gek diuk di gigireunana. Maman ngagebeg, jung nangtung, rarasaanana asa dina pangimpian, lantaran anu keur dicipta jeung dilamun teh geus aya di gigireunana.
"Ceu ........ ", ngan sakitu omongan Maman nu kedal.
"Na uleng teuing ngalamun teh ?" cek Enden Komariah bari imut ngagelenyu.
"Da sanes keur ngalamun."
"Ah, puguh enya ge!"
"Na henteu sareng kang Sukardi ?" ceuk Maman bari gek diuk deui.
Enden Komariah mencrong ka Maman, teu lila pok ngomong kieu: "Kapan Maman nyaho, kang Sukardi angkat ka Bandung." Ayeuna mah Enden Komariah nyaritana teh ku basa kasar, nu dipalar sangkan Maman leuwih miconggah.
"Na ceuceu teu ngiring ka Bandung ?"
"Meunang, ceuceu malik nanya ka Maman?"
"Kenging."
"Naon sababna nu matak Maman teu daek dipiluan ku ceuceu?"
"Sanes alim dipiluan, mung ........ bade naon ka dieu ge ?"
"Ari Maman rek naon ka dieu ?"
"Hayang terang bae abdi mah."
"Kapan mindeng ka dieu teh ?"
"Da teu daekeun bosen geuning ........"
"Ari babarengan jeung ceuceu mah bosen nya?" Maman teu ngajawab, anggur kop bae nyokot amplop nu ngagoler dina jukut.
"Naon eta Man?"
"Potret tea," tembalna bari dikaluarkeun ti jero amplop.
"Ku naon baseuh?"
"Ku ........ ku cipanon ........ "
Enden Komariah imut ngagelenyu.
"Ceu," ceuk Maman, "ari ceuceu bade ngersakeun naon ka dieu teh ?" [ 36 ]Enden Komariah gogodeg, bari pok ngawangsul kieu: "Maman, Maman, na nepi ka nanya kitu ka ceuceu?"
"Naros bae atuh ceu."
"Enya, tapi naon perluna Maman nanya kitu, ari lain rek ngahina atawa ngawiwirang mah ka ceuceu."
"Abdi ngahina ka ceuceu ? Eta ceuceu mah sok babarian bendu kitu, ditaros saleres-leres."
"Enya, tapi teu aya perluna Maman nanya kitu ka ceuceu, geuning ceuceu ge teu nanya ka Maman naon sababna nu matak Maman nyeungceurikan potret, dan ku ceuceu ge kajudi."
"Nuhun atuh ari parantos kama'lum mah."
"Naha pertanyaan Maman perlu keneh ku ceuceu dijawab ?"
"Ah, teu kedah."
"Tadi isuk-isuk Maman nyarita rek ka apotik, tapi buktina ka dieu. Naha geuning make ngabohong ka ceuceu?"
"Sasab ........ "
"Ku ceuceu rek dipiluan oge teu ngajawab-jawab acan. Naha era ulin babarengan jeung ceuceu ?"
"Sumuhun isin, isin anu medal tina karumaosan, rumaos jadi jalma hina tur teu aya kagaduh. Ceuceu langkung tingali, abdi teh jalma kasangsara, parantos teu gaduh indung teu gaduh bapa, teu gaduh baraya-baraya acan, hirup oge numpang di ceuceu. Jelema naon pingaraneunana upami abdi teu ngarumasakeun maneh atanapi teu nalipak maneh. Jadi ulah lepat ngaraos, sanes abdi alim sasarengan sareng ceuceu, nanging abdi ngaraos teu layak sasarengan sareng ceuceu teh ! Tah kitu margina mah."
"Jadi ........ jadi hartina ...... Maman teh ..........?" cek Enden Komariah bari tungkul.
"Teu ngartos ........"
Enden Komariah cengkat, tuluy neuteup ka Maman mani teu ngiceup-ngiceup.
"Sumuhun ceu, na kedah kumaha atuh abdi teh ? Sing hawatos bae atuh ka abdi.
"Enya, na kudu kumaha atuh ceuceu mikanyaah ka Maman, cing pok geura caritakeun. Sing percaya, ari nu sakira kadada [ 37 ]kaduga mah tangtu ku ceuceu dibelaan.”
"Kasaean ceuceu sareng ibu-rama kasuhun pisan, cek paripaos, beurat nyuhun beurat nanggung teh sayaktosna, dugi ka ngaraos sesah kumaha nya pimaleseun .......... "
"Ah, da lain ngahutangkeun."
"Nanging ka beh-dieunakeun ceuceu teh Sarupi anu bade nyilakakeun ka abdi .........."
"Kumaha? Nyilakakeun kumaha ?" tembal Enden Komariah, bengong." Laku ceuceu nu mana anu matak ngadatangkeun kacilakaan ka Maman ?"
"Sare’atna ceuceu teh mikanyaah ka abdi, nanging hakekatna bade nyilakakeun."
"Teu kaharti !" cek Enden Komariah bari gogodeg.
"Piraku ku ceuceu teu kaerong pibalukareunana, upami kalakuan urang kauninga ku ibu-rama ? Kapan teu mustahil abdi ditundung.ku rama sareng ku ibu. Dina kajadian kitu, naha henteu ngandung hartos ceuceu teh ngunclungkeun ka abdi ?”
"Ah, jauh teuing Maman mah lalamunan teh. Ayeuna ceuceu malik nanya: Naha upama Maman tega ka ceuceu, henteu ngandung harti Maman oge nyilakakeun ka ceuceu ?"
"Sumuhun anu mawi nyanggem kitu oge ku margi abdi hayang ngabelaan ka ceuceu, ku jalaran abdi hawatos ka ceuceu."
”Tapi Man, entong muter-muter omongan, ceuceu rek nanya pondok bae, naha Maman moal kaduhung ?
"Kaduhung kumaha ?”
"Kaduhung kumaha bae, boh ku margi ceuceu pinanggih sareng katunggaraan, boh Maman: sorangan pinanggih sareng kahanjakalan, hanjakal geus neungteuinganan ka ceuceu."
Maman ngahuleng, da puguh manehna ge pang sakitu teh lantaran kabungbulengan ku Enden Komariah.
"Kumaha Man?"
"Nya atuh ceu ....... urang kumaha behna bae, da puguh jalma mah ngan darma wawayangan.”
”Cing atuh pok Man ngomong ........" [ 38 ]Minangka jawabanana Maman nyodorkeun dua leungeunna, ditema ku Enden Komariah. Ketewek dicekel ku Maman bari ditarik rek dirangkul, tapi Enden Komariah rikat narik leungeunna, porosot bae lesot.
"Eta sok teu sabaran kitu, kawas lain satria bae," cek Enden Komariah bari imut ngagelenyu.
[ 39 ]V. LALAJO BIOSKOP
Adat Maman jadi robah ! Ayeuna mah sok mindeng huleng jentul, taya pisan kaberagan ! Kana digawe jadi ngedul, da waktuna sok dipake lalamunan bae, Robahna adat Maman teh tangtu bae ku Sukardi oge gia es da puguh sagulung-sagalang.
Sukardi mimiti curiga, da sanajan Ende Komacah jeung Maman ngajaga sangkan jalma sejen ulah aya nu ngabogaan sangkaan, yen antara maranehanana teh aya ”tali asih” anu hese dipegatkeunana, teu burung bae Sukardi ngabogaan sangkaan yen antara Enden Komariah jeung Maman teh aya hiji perhubungan anu dirasiahkeun. Hal eta memang geus jadi kabiasaan, rasa batin hese dipalingna atawa dibobodona. Ku Sukardi karasaeun, yen dina waktu eta Enden Komariah jadi lingas, nya kitu deui ana nyarita rada beda ti sasari, ayeuna mah siga teu pati madep, malah .karasana ku Sukardi mah Enden Komariah teh ati mungkir beungeut nyanghareup. Ka Maman jadi ngewa, sanajan manehna ngarti jeung ngarasa yen miceuceubna tehngan wungkul dilantarankeun ku hate timburu nu taya alesanana da ngan ukur sangkaan tea. Upama aya nu nanyakeun tea mah, naon sababna nu matak manehna mikangewa ka Maman, manehna sorangan teu bisa nerangkeun. Tapi karasa, yen kaluginaan jeung kalaluasaan hatena asa kaganggu. Jadi ngan ku pomayane rasa bae, anu ku jelema sejen mo bisa dirasakeun.
Eta galagat goreng ngahudangkeun tanaga anyar dina sanubari Sukardi. Nya manehna teh neangan: akal sangkan Enden Komariah beuki rumaket ka manehna, sakurang-kurangna ulah luntur kadeudeuhna ti nu enggeus-enggeus.
Kumaha akalna ?
Bubuhan anak nu beunghar, salieuk beh teh saenyana, atuh kacida babarina ngabuktikeun naon-naon anu ku manehna ka-timbang alus pikeun meuli-meuli Enden Komariah. Mani sirikna henteu sagala dibeuli keur ngawowoy ......... Enden Komariah teh!
Hal eta kanyahoan oge ku ibu-rama Enden Komariah sarta [ 40 ]nimbulkeun kabungahan anu taya, hinggana ka aranjeunna, da meureun pang sakitu oge ku perbawana kaasih jeung kanyaah Sukardi ka putrana. Emutan ibu-ramana, mun geus nepi kana waktuna nu mustari, rek buru-buru bae dirangkepkeun.
Enden Komariah ngarasa kahutangan ku Sukardi anu mikayaah ka anjeunna sakitu totomplokanana. Ku anjeunna geus kaerong pisenangeunana upama ngajodo ka Sukardi, anu bakal bisa nedunan sagala kahayangna. Ku perbawa dunya barana sanajan lelembutanana geus kabandang ku Maman oge — teu burung bae Enden Komariah nyoba-nyoba hayang micinta ka Sukardi. Kanyaah jeung kaasih ka Sukardi geus nyampak ti baheula dina sanubarina, tapi ari duriat mah teu kalis ku dieupanan !
Pangwowoy Sukardi kabuktian aya gunana, sabab ayeuna mah Enden Komariah jadi lindeuk deui, meh unggal sore bae nepungan ka papilyun ngadon ngawangkong bari sempal guyon. Ngan hanjakal, upama anjeunna ka papilyun teh tara tepung jeung Maman da sok numpi bae di kamar. Atuh ngan bati geregeteun bae, da cacakan teu aya Sukardi mah moal boa geus disampeurkeun ka kamarna, bakating ku sono. Lain sono ku lantaran geus lila teu tepung, da unggal poe ge tepung mah ‘tepung, ngan tepungna sok saliwat-saliwat anu henteu matak jadi ubar kana kasonoanana tea.
"Ka mana ari Maman ?" cek Enden Komariah.
"Aya di jero, keur sare meureun."
"Man, Man, cing ka dieu urang ngobrol !"
Maman jongjon bae teu malire.
"Nden, isuk moal ka mana-mana ?" cek Sukardi.
"Moal .......... kumaha enjing we ketah."
"Urang ka Curug Jompong nya ?"
"Ah alim, sok lieur."
"Ka mana atuh ?"
"Ah, moal ka mana-mana."
"Aeh, cek Sukardi bari jung nangtung, "tadi basa engkang balik ti kantor aya nu mere prohrama bioskop." Tuluy manehna ka jero, nyokot prohrama tea. Teu lila geus datang deui bari sok prohrama teh dibikeun ka Enden Komariah. [ 41 ] "Kumaha ........ ?"
"Mangga."
"Coba ka apakeun, bisi palayeun ningali."
Leos Enden Komariah nepungan ramana.
"Prohrama naon eta teh lah ?" cek ramana anu harita keur ngalantung di buruan. '
”Bioskop,” tembalna, bari ngasongkeun prohrama tea ka ramana.
”Rek lalajo ?”
”Sareng apa wae atuh.”
”Coba wae badami jeung ibu.”
Enden Komariah nepungan ibuna ka jero. Ari ibuna mah ujug-ujug mupakat bae. Harita keneh Enden Komariah unjukan ka ibuna supaya bi Aminah oge diajak, karunyacenah, ulah dusun teuing. Ibuna ngarujukan.
Ngan kari ........ Maman ! Boa mah moal daekeun.
”Kudu, Maman oge kudu milu !” cek dina pikir Enden Komariah, ”Upama Maman teu milu, leuwih hade aing oge cicing bae di imah jeung Maman.
Diajak ku kang Sukardi, kawasna moal daekeun. Ku sabab eta kudu diajak ku aing sorangan.”
Bada magrib Sukardi nepungan H. Ibrahim, tatanggana, rek nyewa opletna. Enden Komariah teu talangke, gura-giru indit ka papilyun, rek nepungan Maman. Teu asa-asa deui, bray bae mukakeun panto. Kasampak Maman keur diuk dina korsi bari nanggeuy gado.
"Man, Sukardi teu nyarita ka Maman perkara lalajo?”
”Nyarita.........”
”Ngajak ?”
”Kantenan bae ngajak mah.” Padahal teu ngajak teusing.
”Hayu atuh geura dangdan !”
”Mangga wae, abdi mah moal ngiring.”
”Naha ?”
"Moal Wae ...... ”
”Man, nyaah ka ceuceu ?” [ 42 ] ”Naha make mariksa kitu ?”
”Nyaah, henteu ?”
”Kantenan bae nyaah mah.”
”Hayu atuh urang lalajo jeung ceuceu !”
”Naha sanes sareng kang Sukardi ?”
’’Cing Man, entong sok kitu teuing atuh. Maman mah kawas anu teu percaya bae ka ceuceu teh ? Jeung cing atuh kahayang teh entong sok nembongkeun maneh teuing, da sahenteuna kalakuan Maman kitu teh bisa nimbulkeun pertanyaan, boh ka ibu jeung ka apa, boh ka kang Sukardi. Kapan eta teh ngandung harti:.......memeh laukna beunang. caina kiruh manten. Kaharti ?”
Maman teu ngajawab.
”Jadi,” Enden Komariah neruskeun carita, “lamun Maman bener nyaah ka ceuceu, tangtu ayeuna Maman milu ka ceuceu !”
"Nanging CeU .......... ”
”Ah, euweuh waktu keur debat ayeuna mah, kitu bae eta mah !” cek Enden Komariah bari gura-giru ka luar.
Pukul satengah 8, oplet anu beunang ngajangjian tea geus ngajagrag di lawang. Clukclak mnaraek. Enden Komariah diukna ngarendeng jeung Sukardi. Bi Aminah di gigireun Enden Komariah. Di hareupeunana, ibu-ramana. Ari Maman mah di hareup ngarendeng jeung supir.
Teu sangka, bi Aminah teh bet geulis geuning ari midang mah. Kawasna upamai,makena kawas ibu Enden Komariah, katitih ibu Enden Komariah teh.
Ku lantaran sore keneh, — da rek muru tongtonan nu kadua — henteu buru-buru ka bioskop, nyelang balanja heula. Pukul satengah 10 kakara ngajugjug ka bioskop. Memeh meuli karcis Maman ngomong ka rama Enden Komariah, pokna : ”Abdi mah bade di kelas III bae.”’
”Naha make di kelas III, ieu anggur meuli 5, kelas II.
”Itu bade sareng pun Marjuki.”
”Kuma dinya atuh.”
Tuluy Maman meuli 4 karcis kelas II jeung hiji kelas III, [ 43 ]keur manehna. Sanggeus mikeun karcis ka rama Enden Komariah, balicet, leos bae manehna mah tiheulakajero.
Barang rek arasup, Enden Komariah luak-lieuk ngalieukan Maman.
”Mana Maman ?” cenah.
”Geus asup,” tembal ramana.
Barang geus nepi ka jero, Enden Komariah ngalieukan deui Maman, tapi euweuh. Pok deui anjeunna nanya kieu: ’’Geuning teu aya Maman teh ?”
”Tangtu bae moal aya, da meulina karcis kelas III,” tembal ibuna.
Enden Komariah ngarahuh !
Ibu-ramana ngahaja caralikna rada jauh ti putrana, malar jarongjoneun cacarita.
Enden Komariah diukna dihapit ku Sukardi jeung bi Aminah.
"Ka mana ari Maman ?” cek Sukardi bari tempa-tempo ka kelas III.
”Sareng baturna manawi di payun.”
Sukardi ngareret kana leungeun Enden Komariah, rek nyocog- keun erlojina. Tapi kahalangan ku leungeun baju.
”Coba ngilikan, pukul sabaraha di dinya ?”
Enden Komariah narik leungeun bajuna, breh bae erloji tanganna anu beunang mangmeulikeun Sukardi tea tembong. Kulit omyang dibeulitan erloji emas anu sakitu alusna, lucu pisan katembongna teh. Dina handapeun erloji meulit geulang emas rantay.
Sanggeus erlojina dicocogkeun, Sukardi nanya kieu: ’’Naha Nden, ari make geulang teh sok ngan sabeulah bae ?”
”Da mung sakieu-kieuna.”
”Negan sabeulah ?”
”Sumuhun.”
”Beunang saha mangmeulikeun ?”
”Kenging apa.”
”Naha meuli geulang di sabeulah-sabeulah ?”
"Duka atuh.” [ 44 ]”Iraha meulina ?”
“Duka ....... da ti barang emut oge parantos aya.”
”Coba laan sakeudeung, engkang ngilikan.”
”Engke deui bae atuh di rorompok.”
“Hayang ayeuna.”
"Bade dikumahakeun ?”
”Hayang nyaho beuratna, urang nyieun sabeulah deui.”
Tina dikeukeuhan, nya dibikeun. Sanggeus dirarasakeun beu-ratna, tuluy diilikan potonganana. Dina palebah paranti nyantelkeunana ku Sukardi katembongeun aya cap aksara S.S.
”Pondokna tina naon ieu S.S. teh ?”
”Duka atuh.”
”Piraku, ari tina Staatsspoor onaman,” cek Sukardi bari nyerengeh seuri.
”Ku abdi oge parantos ditaroskeun ka ibu, nanging anjeunna teu uningaeun, margi ngagaleuh parantos jadi, sanes kenging ngongkon.”
"Eta geulang dibikeun deui ka Enden Komariah. Barang rek dipake, bi Aminah ngomong kieu: ’’Cobi Enden bibi ningalan, ku sae geuning.”
Henteu hese, sok bae dibikeun geulang teh ka bi Aminah, anjeunna mah jongjon bae ngawangkong jeung Sukardi.
Pes listrik pareum, tangara rek ngamimitian maen. Sukardi ngisedkeun korsina sina paadek jeung korsi anu didiukan ku Enden Komariah.
”Mana geulang teh bi ?”
”Ieu,” tembalna bari diasongkeun.
Waktu nampanan, karasaeun ku Enden Komariah leungeun bi Aminah ngadegdeg.
”Ku naon bi ngadegdeg ?”
”Rareuwas Enden bibi mah. Naha geuning bioskop teh ayeuna mah ngaromong, da kapungkur mah nalika bibi ningal sareng juragan Komis, henteu ?”
”Kapan nya ieu nu disebut ”sprekende film” teh, bioskop ngomong Sundana mah.” [ 45 ]”Hanjakal teu kahartos ngomongna.”
”Tangtu bae da basa Inggris.”
Saterusna mah Enden Komariah ngawangkong jeung Sukardi, nyaritana ku basa Walanda, malar teu kahartieun ku bi Aminah. Wangkonganana, tangtu bae pinuh ku kecap-kecap percintaan, malah nya harita pisan Sukardi mukakeun tutungkusan dina sanubarina ka Enden Komariah, sanajan ku silib oge, Sajeroning kitu teh ati lelembutan Enden Komariah mah ngacacang bae neangan geusan eunteup, nepi ka rea pertanyaan Sukardi anu teu dijawab, da puguh teu pati dibandungan.
Pukul 12 bubaran !
Waktu dua jam karasana ku Swkardi mah asa kacida sakeu-deungna, sabalikna karasana ku Enden Komariah, pohara matak Keselna teh.
Brul kalaluar.
Di luar geus ngajagrag oplet. Maman geus kasampak di gigireun supir.
Barang rek arunggah, ibu Enden Komariah mariksa kieu ka bi Aminah: ”Ku naon Minah, eta beungeut mani pias kitu, gering ?”
”Teu ku nanaon,” tembalna bari tungkul.
”Reuwas meureun nya, nenjo bioskop ?” cek Enden Komariah bari seuri.
”Sumuhun’’
Clak naraek kana oplet, geleser maju.
”Di mana tadi Maman diuk ?’’ cek Enden Komariah.
”Di payun,” tembalna lentong pisan.
”Naha make di kelas III ?”
”Marjuki keukeuh bae ngajakan di kelas Ill, hayang aya batur sanggemna, ari bade di kelas II artosna teu cekap.”
” Kaharti Minah lalakon bioskop teh ?” cek ibu Enden Koma-riah.
”Kakuping bae gandengna mah,” tembal bi Aminah.
”Heueuh, kawas kami bae, da teu ngarti kami ge. Basa naon eta teh Cep, uway-uwey kitu ?” [ 46 ]Basa Inggris,” tembal Sukardi.
”Cing dongengkeun, lalakon naon cenah tadi teh ?”
”Sukardi rada pungak-pinguk, sanajan ngarti oge kana basa Inggris, manehna mah teu ngabandungan pisan, lantaran kajongjonan teuing ngobrol jeung Enden Komariah. Ngan hadena bae inget kana ringkesna dina prohrama, atuh tuluy bae didongengkeun. Ku sabab dongeng pondokna oge rada poho deui, nya saterusna mah dipaparah bae.
Bi Aminah jeung Maman arimut.
”Kaharti ayeuna mah bi ?”
”Kahartos,” tembalna.
Teu kacatur di jalanan, urang caturkeun geus nepi bae ka Cimahi. [ 47 ]VI. BOGOH NOGENCANG ?
Geblug Enden Komariah meubeutkeun maneh kana kasur.
”Emh, Maman, na teungteuingeun teuing ka ceuceu teh ? Keur naon atuh make milu, ari rek misahkeun maneh mah ?”
Maman gumawang dina ciciptan !
”Naha Maman teh teu cintaeun ka aing ?” cek dina pikirna. ”Mustahil teu cintaeun mah, da ku aing oge kanyahoan, pang manehna sakitu malaweungna oge, lantaran gede duriat ka aing, geus teu sak deui ! Tapi naha atuh ku matak teuing pusing ?”
Korejat anjeunna hudang, bray mukakeun jandela, lantaran karasana pohara panasna. Tapi sanajan jandela geus dibukakeun oge, dehgdeng bae panas, da puguh lain hawa dikamar anu panas, ieu mah panas nyongkab ti jero badan.
Gek Enden Komariah diuk dina korsi nukangan jandela.
Maman gumawang dina ciciptan !
Uleng pisan ngalamunna teh !
Geura saha nu teu reuwas, .......
Keur anteng ngalamun, ari cengkat di gigireun aya nu ngabedega. Ari ret teh direret beungeutna, sihoreng Sukardi. Teu talangke deui, jung Enden Komariah nangtung, tuluy mundur. kira-kira tilu langkah; korsi anu tadina didiukan dibedol dipake ngahalangan. Leungeunna muntang kana korsi bari mencrong ka Sukardi.
”Engkang ka dieu lain rek maksud goreng,” cek Sukardi, ngomongna lalaunan pisan, lantaran sieuneun ine ku ibu rama Enden Komariah.
”Rek naon atuh?” tembal Enden Komariah, ngomongna kasar.
”Engkang hayang nyambung wangkongan urang di bioskop tea.”
”Na kawas teu aya beurang bae ?”
”Muga Enden ulah waka ngambek, engkang ka dieu teh lain rek niat goreng.”
”Enya, tapi kalakuan engkang ayeuna teh teu pantes !” [ 48 ] ”Puguh ku engkang oge kaharti, tapi engkang percaya, tangtu Enden ngama’lum kana kasalahan engkang sakitu, da puguh pang sakieu oge tangtu ku Enden kaharti, taya lian ngan ku perbawana kacintaan engkang ka Enden bae.”
"Cinta tinggal cinta, engkang, tapi kasopanan kudu diku-kuhan ! Piraku ku engkang teu karasa yen kalakuan engkang ayeuna teh kacida hinana !”
”Enya, tapi lain rek niat goreng .......... ”
”Sanajan kitu " ..... tapi kalakuan lalaki peuting-peuting tumorojog tanpa larapan asup ka kamar awewe anu lain muhrim, tetep kalakuan anu salah, tetep kalakuan anu hina, lantaran ngalanggar wet kasopanan, wet agama jeung wet darigama !
Piraku engkang, teu ngarti, yen kalakuan engkang ayeuna lain kalakuan hade ! Naha ku engkang dirempak ?”
”Lamun jelema sejen, meunang ku Enden dihukuman kitu, tapi upama engkang ku Enden dianggap ngarempak larangan nu gede mah, .......... asa kacida teuing ........ ”
"Wet keur umum engkang ! Boh engkang, boh jelema sejen, boh baraya boh lain, cindekna saha bae, upama kalakuanana cara engkang ayeunana, sarua bae pada ngalanggar kasopanan ! Kalakuan engkang ayeuna henteu jadi alus, ku sabab engkang ka abdi baraya atawa ku sabab ......... kumaha bae !”
”Naha Enden moal ngahampura kana kasalahan engkang ayeuna, upama ieu kasalahan keukeuh dianggap hiji kasalahan gede ?”
”Memang kawajiban jelema kudu silih hampura .......... ”
”Naha atuh Enden make teterusan ngambek ka engkang ?”
”Abdi ngahampura kana kasalahan engkang, tapi engkang kudu buru-buru ka luar !”
”Nden,” cek Sukardi bari gogodeg, ”na, nepi ka tega kitu ka engkang teh ?”
"Lain tega, ngan......... ku sabab ayeuna engkang keur milampah kalakuan anu salah ; sarta geusan kasalametan salira engkang, engkang kudu buru-buru ingkah ti dieu !”
”Naha kalakuan Enden kitu teh teu kaasup kana paribasa [ 49 ]”mulang sengit ka nu miasih ?” Engkang teh nyaah, asih ka Enden, naha ari Enden teu aya pisan rasrasan ka engkang ? Mana buahna kanyaah engkang ka Enden teh ?”
"Na ari engkang bet kawas budak, make ngutik-ngutik ka dinya ? Jeung kapan karep engkang ku anjeun eta teh, lain kahayang abdi ! Bisi engkang keukeuh ngarasa tugenah pedah ayeuna ku abdi henteu dibageakeun ku budi manis cara sasari. abdi henteu owel ku barang-barang anu geus dibikeun ku engkang ka abdi.”
”Enden mah bet kawas rek neukteuk mere anggeus .......... Mun nyarita ti bareto ari memangna teu cinta mah ka engkang, ulah wet nganyenyeri ..........”
”Engkang salah harti, engkang keukeuh teu daek ngarti ! Maksud abdi nu hade keukeuh dianggap goreng ! Perkara cinta, hal ieu ku engkang sing kaharti, abdi moal gaduh salaki ka jelema anu teu nyaho kana kasopanan.
Ku sabab kitu, keur kasalametan engkang, sakali deui abdi menta, supaya engkang buru-buru kaluar !”
”Engkang moal ka luar samemeh meunang jawaban nu pasti ti Enden, atawa samemeh Komariah, ayeuna balik deui kana Komariah sasari.”’
”Engkang teh moal ka luar ?”
”Moal!” Sukardi gogodeg bari ngadeukeutan ka Enden Komariah.
Ngan sakolepat Enden Komariah ngarawel bel anu ngagantung luhureun meja, tuluy dipencet: ”Kriiiiiiiiingngng .........”
Sukardi gugup. Tapi henteu buru-buru ka luar, lantaran ingetanana, sanajan ka luar oge tangtu bakal dibejakeun ku Enden Komariah ka ibu-ramana. Anu matak gek bae manehna diuk dina korsi bari ngomong kieu: ”Bener tega maneh teh Komariah ! Kawas rek nyieun poe. panungtungan kaya kieu mah !”
Enden Komariah teu ngajawab.
Di hareup kadenge ibu-ramana cekcok.
Enden Komariah bingung ! Ret ka Sukardi anu keur diuk kalawan tengtrem, geus sumerah kana kadar, kumaha behna [ 50 ]bae. Ku Enden Komariah geus kaerong tangtu bakal aya kajadian anu kurang hade, babakuna keur Sukardi anu keur nganti-nganti milik-dirina, turta datangna ka dinya teh lain rek niat goreng, ngan ku lantaran perbawa kacintaan bae.
“Gesruk-gesruk sora selop ibu-ramana beuki deukeut.
“Saha etah ?” kadenge sora ibuna.
“Abdi,” tembal si Abdul.
Enden Komariah samar polah. Sukardi beungeutna pias.
"Trok, trok, trok!” ramana ngetrokan panto: ”Eulis, Eulis !”
“Kaaaah,” tembalna bari malik ka Sukardi, pok ngaharewos: “Nyumput ka kolong ranjang !”
Teu talangke deui, kojengkang geblus bae Sukardi nyumput ka kolong ranjang, ngadedempes.
Enden Komariah muka panto.
"Aya naon ?” cek ramana.
Enden “omariah teu buru-buru ngajawab, rupana bae keur mikiran heula kumaha pihadeeunana nya pijawabeun. Teu lila jol si Abdul nyoren gobang.
“Aya naon ?” ramana nanya deui.
”Ku naon abdi teh, ngimpi kitu ? Da raraosan teh aya tilu jelema jarangkung gede, arasup ka dieu .........."
"Geuning itu jandela muka?”’ cek ibuna.
”Ku abdi dibuka bieu .........."
"Waktu dibuka gerendelna nyelot ?”
”Nyelot.”
Ramana rarat-reret ngenca-ngatuhu. ”Euweuh barang nu leungit ?” saurna.
"Teu aya.........."
”Ngalindur sugan mah!” cek ibuna.
Enden Komariah seuri koneng.”
”Ari panginten teh aya bangsat,” cek si Abdul, "boro abdi...”.
"Boro naon ?” cek ibu Enden Komariah.
"Boro sieun ......." tembalna bari nyerengeh seuri.
"Teu uyahan, kalah ka pedangna bae ngangsar! Geura sare deui bae kadinyah!” Anjeunna malik ka putrana. ”Tutupkeun heula jandela !” [ 51 ]"Nu matak ari rek sare teh babacaan heula satimu-timu !” cek ramana bari ka luar, dituturkeun ku geureuhana jeung si Abdul.
Jepret panto disosi deui ku Enden Komariah. Pucunghul Sukardi bijil ti kolong ranjang.
"Enggal kaluar !” cek Enden Komariah.
Henteu hese ayeuna mah, gancang bae mancal kana jandela.
"Nuhun Nden !” cenah.
Bari leumpang ka papilyun, ngomong di jero hatena: ” Aing teh bogoh nogencang kitu ? Ah mustahil ! Jeung deui, lamun Komariah henteu cinta ka aing, tangtu moal nitah nyumput. Bieu mah kitu soteh ngan bakating ku reuwas bae meureun, marukanana aing rek kumaha onam.” [ 52 ]VII. SOBAT DALIT
Enden Komariah geus kaceluk amis budi, hade basa hade tata ka sahandapeun ka saluhureun. Kitu sababna anu matak rea pisan sobatna, boh awewe, boh lalaki. Komo deui ari urut baturna sakola mah, kawas moal aya saurang-urang acan anu teu mikayungyun jeung miasih teh.
Di antara urut baturna sakola aya hiji istri, anak hiji sudagar beunghar di Cimahi, anu nyobatna jeung Enden Komariah teh pohara dalitna. Ari umurna mah kawasna pakokolot supa bae, tapi Enden Komariah ngabasakeunana "ceuceu", eta meureun sapedah waktu sakola kelasna leuwih luhur Enden Komariah sataun.
Ku lantaran geus lawas teu nganjang-nganjang ka sobatna tea, dina hiji poe kabeneran poe Minggu, sabada sasarap Enden Komariah unjukan ka ibuna, rek nganjang ka Neng Kurnia, sobatna tea. Ku ibuna diwidian, malah bi Aminah oge taya halangan ngiring ka Enden Komariah bari sakalian ka pasar.
"Hayu atuh bi,” cek Enden Komariah.
Bi Aminah nuturkeun pandeuri.
Urang caturkeun-geus nepi bae ka Cimahi.
"Barang gok ge amprok, ngan gabrug bae Enden Komariah dirontok ku Neng Kurnia, bari ditungtun dibawa ka jero.
Ari bi Aminah mah ngadagoan bae di tepas. Teu kungsi lila Enden Komariah geus ka luar deui bari pok ngomong kieu ka bi Aminah: ”’Bi, jig bae atuh ka pasar, engke ari geus balanja ka diéu deui.”
"Naha raka teu dicandak ceu?” ceuk Neng Kurnia waktu geus diriuk dina dipan, di jero kamar.
”Saha?”
"Kang Didi ..........."
"Henteu, ridu,’’ tembalna bari seuri.
Ku iasa milih "pi-eun” ceuceu mah,” Neng Kurnia nga- gonjak.
"Ah sok heureuy, cek saha ”pi-eun”’ barina ge?”’
"Na, make ngangles,” tembal Neng Kurnia bari seuri, "da abdi ge upami pareng gaduh salaki. hayang sapertos ceuceu.” [ 53 ] “Kumaha kitu ?”
“Iasa milihna !”
“Da lain beunang milih.”’
“Petingan atuh, ari sanes kenging milih mah.”’
“Kumaha Nana geus milih?”’
“Seueur piliheun mah, mung teu aya nu cocog sareng hate.”
“Ah aah tampikan, heg bae engke kaasup kana paribasa: pipilih nyiar nu leuwih, koceplak meunang nu percak.”
“Sanes tampikan, mung teu aya nu panuju sareng lelem- butan.” Neng Kurnia nataan sababaraha nonoman di Cimahi jeung di Bandung anu geus nyuratan ka anjeunna.
“Coba eta, sakitu petingan-petingan bae, na rek neangan nu kumaha deui ?”
“Petingan kumaha? Cobi mangga ku ceuceu pangmilihkeun, nu mana nu disebat petingan teh ?”’
“Asep Dadang upamana, kapan sakitu gandangna, sakitu kasepna, upama ngarangkep ka Nana teh, nurub cupu piba- saeunana!”
“Yaktos, nanging .......... teu kenging diarah kasepna wungkul, da kapan laki-rabi teh teu cekap ku ngeunah nyanding bae, namung kedah ngeunah nyandang deuih. Kapan beuteung mah teu nyahoeun ka nu kasep, moal matak seubeuheun diparaban ku kakasepan sareng kagandangan.”
Enden Komariah imut, kayungyun ku Neng Nana, cacakan budak keneh mah geus nepi ka dinya pamanggihan, da anjeunna ma jajauheun teuing kana boga pikiran kitu.
“Geura mangga ku ceuceu ileng-ileng,” Neng Kurnia neruskeun caritana, "nu mana — numutkeun timbangan ceuceu — nu pantes pisalakieun abdi ? Puguh, sadayana oge karasep, garandang, palinter, nanging ......... da mungsakitu-kituna bandana tebogeg an nya eta kapinteranana pimodaleun hirup teh.”
“"Upami es ge dianggo modal hirup, moal tinglalantung teu puguh, tinglaligeuh teu aya guam. Untung barogaeun keneh indung-bapa, cacakan teu kitu mah moal boa parantos tingjalopraks dina kamalir .........." [ 54 ] Enden Komariah imut ngagelenyu.
“Nu mawi abdi mah teu kabita ku kasepna, teu kabita ku gindingna,” Neng Kurnia neruskeun caritana, "cumah da ginding ge sanes kengingna sorangan. Pendekna abdi mah teu rek heroy sapedah kaluaran A.M.S. atanapi H.B.S.[1]
Sanes tampikan ceu, mung kaayaan anu henteu ngidinan teh. Jol ieu pinter, teu gaduh damel ; jol nu sanes kasep, el-el ; jol deui gandang, masih keneh diurus ku indung. Geura, kumaha bade tiasana nyekel rumah tangga, dirina sorangan oge masih keneh diurus ku kolot. Nu mawi abdi mah tara asa-asa deui ari ngawolonan surat teh, digeplakkeun bae; neangan heula pangasilan anu sakadar cukup keur hirup duaaneun, dimana geus meunang kakara ngalamun boga pamajikan !”
Upami ceuceu jadi lalaki dikitukeug ku Nana, kumaha boa ........."
“Keun wae ambeh marerih,” tembal Neng Kurnia, "Kumaha da rata-rata barudak bangsa urang mah, mun awewe pisalakieun, mun lalaki pipamajikaneun nu pangheulana dipake lalamunan teh. Ari neangan jodo, ngan dapon bogoh kana rupana, teu ngingetkeun ari kana pikahirupaneun mah. Asal cinta........... kawin bae ! Urusan rumah tangga didamel nomer dua. Samarukna ari laki-rabi teh saratna mung kacintaan wungkul ..........."
“Na ari cinta lain tara pandang kana dunya barana ?” Enden Komariah nempas.
“Ah bohong ! Abdi percanten, ceuceu moal micinta ka kang Didi, upami kang Didi jadi marhaen anu hina, tukang ngarit upamina,” cek Neng Kumia bari imut ngagelenyu.
“Boa cinta, da cinta mah teu wawuheun kana kahinaan.”
“Tiasa jadi ari cinta sajati mah, sanaos mung dina dongeng. Ah abdi mah teu. sawios teu nyorang cinta sajati oge, supados pinanggih sareng kasenangan bae, engke oge cinta mah medal sorangan upami parantos karaos kasugemaan rumah-tangga mah."
“Kantenan bae disarengan ku kacintaan mah, sapertos ceuceu ka kang Didi, nanging sanes cinta sajati ............ Tah bade sapertos ceuceu abdi oge.”
“Cinta naon atuh ngaranna ?”
“Cinta .......... cinta jijieunan !”
“Jijieunan kumaha ?”
“Geuning tadi sanggem abdi, meureun bae cinta soteh da ningali kaayaan kang Sukardi sapertos ayeuna ; cobi upami kang Didi teh kaleresan jadi tukang ngarit, cadu teuing ceuceu dugi ka kersa. Yaktos’ kitu ?”
“Enya sugan,” tembal Enden Komariah bari imut ngagelenyu. Kawas nu sungkan papanjangan, jung bae anjeunna nangtung, tuluy leuleumpangan di kamar bari ngilikan potret-potret dina bilik.
“Teu potret saha Na ?” omongna bari ngalaan potret hiji lalaki tina bilik. ”Kikindeuwan tea ?”
“Kikindeuwan ?” tembal Neng Kurnia bari seuri. ”Kapan pun lanceuk eta mah. Sanes ceuceu parantos tepang ?"
“Tepang iraha ?”
“Naha yaktos teu acan tepang ?”
“Teu acan.”
“Pun lanceuk nu di Bandung tea.”
“Kana naon damelna ?”
“Sapertos pun bapa bae muka toko. Nanging nu babaku mah dagang batikan.”
“Teresan mana tokona ?”
“Di Pasar Baru. Geura upami salse urang ka Bandung, sugan bae aya sinjang nu sae.”
“Abong sakocoran, raina geulis rakana kasep,” cek Enden Komariah bari neges-neges potret tea. "Mana ari potret geureu- hana ?”
“Teu acan gaduheun bojo,” tembal Neng Kurnia bari ngadeukeutan ka Enden Komariah. ”Upami ceuceu teu acan aya nu nyangcang mah, rupina pun lanceuk mah ujug-ujug .......... taeun bae ......... "
“Ah sok heureuy,” tembal Enden Komariah. [ 56 ] "Wuwuh teleb bae manawi abdi nyebat ceuceu teh,” cek Neng Kumia bari semu teu malire kana omongan Enden Komariah.
”Ari nu ieu potret saha ?”
"Piraku lali deui, kapan eta mah potret kang Mandor Besar, geuning kapungkur nalika urang sakola keneh kantos nganjang ka bumina.”
”Nu di Maswati tea ?”
"Sumuhun.”
Potret tea digantungkeun deui ku Enden Komariah kana urutna.
"Urang ka warung ceu ka ibu,” cek Neng Kurnia.
"Hayu,” tembalna, bari jung arindit.
Kasampak ibuna keur ngaladangan nu balanja.
"Haturan Enden, na asa parantos lami pisan teu tepang, Kumaha damang ?”
”Pangesto.”’
"Nyalira bae ?”
"Sumuhun.”
”Ibu sareng rama daramang ?”
”Berekah.”
"Mangga atuh linggih.”
Gek Enden Komariah jeung Neng Kurnia caralik dina korsi, papayun-payun.
Apa ka mana bu ?”
”Ka pasar jeung kang Tata.”
”Na iraha kang Tata ka dieu ?”
”Tadi isuk keneh pisan.”
"Aeh,” cek Enden Komariah, "tadi ceuceu teh jeung bi Aminah, ka ditu meureun nyampeurna.”
"Gampil urang ngajurungan budak bae, diwartosan sinaka dieu.”
Barang keur garunem catur, ramana jeung rakana Neng Kurnia daratang ti pasar.
"Aeh Enden,” cek rama Neng Kurnia, “haturan, parantos lami ?” [ 57 ]"Lami......."
"Na atuh lain ka imah, Nana?"
"Wangsul ti ditu bieu oge."
"Sukur atuh ari geus ka arimah mah."
"Kumaha rama sareng ibu daramang?"
"Berekah."
"Nuhun atuh ati daramang mah."
Enden Komariah diwawuhkeun ku Neng Kurnia ka rakana.
Mas Tata tadina mah rek buru-buru balik ka Bandung, tapi ku sabab aya tetenjoan, sigana teh geus teu inget kana pibalikeun, kajongjonan ngobrol jeung Enden Komariah, anu satingkah saparipolahna matak deungdeuleueun barudak ngora anu sumedeng pinuh ku kabirahian.
Sanggeus rada beurang Enden Komariah pamitan mulang. Tangtu bae teu lengoh, da sirikna teu sagala dibahankeun. Barang Enden Komariah jeung bi Aminah geus tarumpak oplet. Neng Kurnia ngomong kieu ka rakana: "Sesah kang, parantos aya nu gaduh."
"Kajeun teuing geus aya nu boga ge ..........."
"Bade rerebut kitu ?"
"Rerebut ? Manasina geus bogaeun salaki. Jeung deui saha nu nyaho, boa teuing ka akang jodona mah. Cindekna kumaha Nana bae eta mah, piraku teu rek karunya ka lanceuk."
"Karunya ge, ari sesah?"
"Sesah? Acan ge dilampahkeun geus nyebutkeun sesah !"
"Naon?" cek ibuna.
"Kang Tata palayeun ka Enden Komariah bu."
"Ah, Tata mah sok teu nalipak maneh, moal enya kersaeun. Neangan deui bae atuh anu babad jeung urang, ulah sok mikahayang ka lain tanding."
"Puguh tanding, ibu mah," tembal Mas Tata.
"Kuma dinya atuh, ari puruneun mah."
"Nya kitu tea bae eta mah nya Nana," cek rakana, "akang ayeuna rek balik. Mun bisa, bawa ulin ka Bandung."
"Mangga." [ 58 ]VIII. PATURAY
Obrolan Neng Kurnia tina perkara laki-rabi, nyerep pisan kana sanubari Enden Komariah. Dipikir dibulak-balik, dibeuweung diutahkeun, ditimbang bari dirarasakeun, bet rea benerna omongan Neng Kurnia teh.
”Maman sakitu kaayaanana," cek Enden Komariah dina jero hatena, "lamun aing ngayunkeun pangajak hate anu didadasaran ku kacintaan, hartina upama aing ngarangkep ka Maman, tangtu bae sarua jeung rek nyangsara maneh. Ana kitu, atuh mending ka Kang Sukardi, hanas eta teu pati bogoh, sugan bae medalna duriat teh engke dimana geus babarengan hirup. Lamun medal. kumaha mun angger bae, moal boa hate aing bakal rajet salalawasna. Ah, naon gunana hirup henteu jeung kacintaan! Hanas eta Maman gajihna saeutik, atuh ihtiar deui bae babarengan jeung aing, piraku sugan nepi ka paeh langlayeuseun, dapon aya kadaek. Jeung ongkoh jelema hirup teh dibarengan ku milikna.
Bungah temen mun aing bisa hirup babarengan jeung Maman. Leuwih hade ti ayeuna bae ku aing dibadamian sina neangan pagawean anu rada gede hasilna. Tapi di mana dibadamianana? Ti beurang tangtu teu bisa jeung di mana tempatna, da Sukardi tara jauh ti manehna. Ku surat, moal bener, da kudu dibadamikeun. Ah, rek disuratan bae, supaya engke peuting, pukul hiji, Maman datang ka kamar aing.”
Sanggeus gilig hatena, gutrut bae nulis, kieu ungelna :
Man, engke peuting, pukul hiji, didagoan di kamar, aya badamikeuneun anu kacida pentingna.
Jalan kana jandela.
Ulah salah nya !
Sono ceuceu,
Komariah.
[ 59 ]Sanggeus tamat nulisna tuluy ka tukang, nyampeurkeun si Abdul anu keur ngored di kebon.
"Dul, coba itu pangnyusukkeun heula kamalir, sina nyedot caina."
Si Abdul teu talangke deui, tuluy bae manggul pacul ka tukangeun dapur. Ari Enden Komariah ka juru kebon tukangeun papilyun. Sanggeus metik kekembangan keur ngeusian vaas, leos ka hareup. Di hareupeun. papilyun amprok jeung Sukardi keur luntang-lantung.
"Ka mana ari Maman ?" cek Enden Komariah.
"Aya di jero, hees meureun."
"Engkang teu angkat-angkatan ?"
"Henteu. Ari Enden ka mana teu tembong-tembong?"
"Ka pasar sareng bi Aminah."
"Na teu ngajak-ngajak ?"
"Ka pasar-pasar bae kedah aleut-aleutan."
"Hayu atuh urang ka Maman."
"Tuluy ka papilyun, gek dariuk dina korsi.
"Man, Man!" Enden Komariah nyalukan Maman. "Ka dieu geura, boga pibejaeun !"
Teu kungsi lila Maman ka luar, gek diuk dina korsi males.
"Di dieu yeuh diukna !"
Maman pindah kana korsi.
"Bade naon ?" cek Maman.
"Ah henteu, di dieu wae urang ngobrol," tembal Enden Komariah.
Eta tilu sobat, saperti biasa bae ari ngobrol teh sok poho kana naon-naon. Ari nu diwangkongkeun mah rupa-rupa bae, babakuna tina bab hirup kumbuh. Mindeng pabentar paham nepi ka sok patorong-torong, tapi tara ari kateterusan mah.
"Kang, sayagi film ?" cek Enden Komariah ka Sukardi, teu perlu-perlu ge dipotret nanyakeun film, padahal ari maksudna mah ambeh Sukardi ka jero heula sakeudeung, lantaran aya picaritaeun ka Maman.
Teu talangke deui, gancang bae Sukardi ka jero, Sabot di [ 60 ]Jero, Enden Komariah ngomong kieu ka Maman: "Cokot dina tangkal eros nu di juru kebon beulah kidul, dina dahan nu condong ka luar."
"Naon?"
"Teangan wae."
Teu lila Sukardi geus kurunyung deui.
"Rek motret naon?" omongna.
"Nambut wae sadinten enjing."
"Pek wae ari rek dipake mah najan unggal poe ge."
Ari geus hasil maksudna mah Enden Komariah pamitna, rek ka cai, cenah.
Hatena tingseredet, palaur pacampur ketir, barang Maman entas maca surat anu diteundeun ku Enden Komariah dina tangkal eros tea.
Aya atoh aya sieun. Atohna lantaran asa dipikabogoh, sieunna, sok inggis goreng balukarna.
Dina peuting eta tangtu bae Maman teu bisaeun sare sakerejep, dihantem oge dipeureum-peureumkeun, weleh bae teu daekeun reup, da puguh keur teu puguh rarasaan, pikir tagiwur, hate tingseredet, dibarengan ku kabingung, bingung ngalaksanakeunana pamenta Enden Komariah tea.
Ingetanana mandeg mayong. Mimitina gilig hatena yen moal ditemonan, lantaran sieun goreng balukarna, anu tangtu tea bakal nimbulkeun katunggaraan ka manehanana sorangan. Tapi lila-lila mah eta putusan teh kaelehkeun ku perbawana kacintaan. "Karunya teuing mun teu ditemonan teh, meureun ayeuna keur ngadaweung bae ngadagoan aing," cek dina pikirna.
"Gugu, entong?"
Ret manehna kana sarigsig ranjang, bet kawas nu percaya kana panayogean, da make dibilangan: "Gugu, entong, gugu, entong, ................."
"Ninggang dina entong," cek dina pikirna. "Tapi lamun teu digugu teh meureun ceuceu Komariah bendu ka aing, boa nepi ka mitenahkeun, sangkan aing ditundung ti dieu. Jadi, kudu, kudu ditemonan, da kapan aing oge cinta ka manehna." [ 61 ]teh. Jeungna deui, na make sieun-sieun teuing, da meureun papaitna mah ditanggung ku duaan.”
Ret kana sarigsig ranjang anu ka pongpokna, teu cukup ku sakali da make dibilang deui: "Gugu, entong, gugu, entong, ............ ih, bet ninggang di entong deui bae ! Ah, meureun bae da aing ngamimitian milangna tina gugu heula, coba lamun tina entong mah meureun ninggang dina gugu.
"Ah teu puguh," omongan bari korejat hudang, gek diuk dina korsi. Ret kana buku anu ngaberes dina tempatna, bet hayoh deui bae dibilangan. Tina entong heula ayeuna, mah milanganana teh. Barang nepi kana buku nu panungtung, ninggang dina entong deui bae.
"Nista, maja, utama ! Mana nu kudu diturut ku aing ? Ah, bet kawas nu gelo aing teh, make menta timbangan kana buku sagala, nu lain-lain !”
Ret kana beker dina meja, geus pukul hiji kurang saparapat. Saparapat jam deui kana waktuna nemonan pangangkir buah hatena, tapi tacan meunang putusan, naha gugu atawa entong.
Keur huleng jentul kitu, bet ras bae manehna inget kana tulisan A l e x a n d e r P e t o f i, hiji bujangga bangsa Hongariye, anu kieu maksudna: ”Keur ngabelaan kacintaan mah, kuring moal sungkan ngawadalkeun nyawa !”
Maman gilig deui hatena, rek ditemonan bae cenah. Rap manehna make piama, kop nyokot sisir, meresan heula buukna nu kusut. Ngeunteung heula sakeudeung, ret kana beker, geus pukul hiji kurang lima menit.
"Bismillah !" Ngomongna kitu teh bari geret mukakeun panto, keteyep ka luar. Nyalingker ka pipir, mengkol ka kaler.
Di luar poek mongkleng buta rajin. Angin ngagelebug nyebrot kana beungeut Maman, kawas nu ngahalangan, soar tulus ngarempak larangan, da geus cilaka mah karasa ku sorangan !
Koreak kokoreakan, lir nu nyarek ulah wani-wanl ngalakukeun lampah mopoek, matak hanjakal temahna.
Maman ngarandeg heula di lebah kamar Sukardi. Ngalieuk heula ka tukang lantaran sada aya nu kokorosokan, nuturkeun. [ 62 ]Meureun rarasaanana bae eta mah, biasana ari jelema keur rea kasieun mah, kapan nenjo kalangkang sorangan oge sok lumpat.
Kebat maju deui lalaunan, hatena mimiti keder, henteu teteg cara keur waktu indit. Jeung make ngaderegdeg sagala ayeuna mah, tapi maksakeun maneh bae maju.
Wawanenna ngadak-ngadak lempes ; ari rek balik deui kapalang lengkah. Reg manehna eureun handapeun jandela, tapi teu buru-buru dibukakeun, lantaran sukuna nyorodcod, leungeunna ngadegdeg, angenna ratug. Leungeunna nu katuhu ditekenkeun kana lebah jajantungna, tapi, taya tulungna da kalah ka beuki tegtegan.
"Naon gara-garana ieu teh ?” cek dina jero hatena, “hate tingseredet, tuur nyorodcod, angen ratug. Rek kumaha ayeuna pikalakuaneun aing ari geus nepi ka dieu ? Moal enya ari teu tulus mah. Ari awak sakieu rampohpoyna ; boa moal kaduga mancal kana jandela.”
Kek leungeunna nu katuhu nyekel kana jandela. Barang rek dibuka, ...........gebray bae beungeutna aya nu ngabatrean, kerewek peupeuteuyannaa aya nu nyekel.
"Maman,” cek nu nyekelan teh, "nanaonan ieu teh ?"
Ku sarerea oge tangtu kama’lum kareuwas Maman harita. Awakna ngadak-ngadak leuleus taya tangan pangawasa, lir anu dipupul bayu. Upama henteu disangkeh ku Sukardi mah (nu ngabatrean te..) tangtu ngarumpuyuk.
Maman disangkeh ku Sukardi dibawa ka papilyun. Ku lantaran siga nu teu daya teu upaya pisan, tuluy bae dikedengkeun dina tempat tidurna.
Sukardi ngabedol korsi, dideukeutkeun kana ranjang, gek didiukan.
Meunang sajongjongan mah Maman ngalempreh bae henteu lemek henteu nyarek, beungeutna pias, kawas nu kabur pangacian.
Teu kungsi lila bray beunta, ret ngareret ka Sukardi, curucud bae cipanonna bijil, ngalembereh kana pipi. Ku sabab dipencrong bae ku Sukardi, Maman ngabalieur, beungeutna disusupkeun kana anggel. [ 63 ]”Maman,” cek Sukardi, ”teu sangka maneh teh bet ngabudi ucing. Sihoreng ari manusa, teu beunang ditenjo beungeutna, budi bae kawas santri, legeg kawas lebe, katenjona bae lungguh timpuh, ari pamolah teu beda ti lampah sato.
Rek naon bieu maneh teh Maman ?”
Maman teu ngajawab.
"Kalakuan maneh bieu teh Maman pohara gagabahna jeung pohara nistana ; talajak goreng anu taya hampuraeunana. Ari sababna, ku peta kitu-teh nembongkeun pisan, yen maneh teh hiji manusa anu teu bisa males budi ! Maneh sorangan tangtu ngarasa, yen maneh teh diurus ku mang Wadana Pansiun, anu mikanyaahna teu beda jeung ka putrana ku anjeun. Siga kumaha boa lamun maneh teu diurus ku mang Pansiun !
Kanyaahna ka silaing anu sakitu totomplokanana teh, naha ari ku silaing bet dibales ku kajahatan ?”
"Balem !” cek Maman, ”ieu urusan lain urusan silaing, tapi urusan dewek ! Silaing teu kudu pipilueun kana urusan batur.”
"Lain urusan dewek ? Cek saha ?” tembal Sukardi, "silaing kaliru Man, yen diri dewek jeung mang Pansiun teh teu bisa dipisahkeun. Silaing sorangan nyaho, yen dewek teh baraya ka mang Pansiun. Tangtu bae geus jadi kawajiban dewek, kudu ngajaga kahormatan pamili dewek tina gangguan manusa jahat saperti silaing !
Jeung piraku silaing teu ngarti, yen kalakuan silaing bieu teh jadi hiji panghina oge ka dewek !”
”Ulah dapon calangap silaing ngomong teh. Di," tembal Maman. ”Silaing nyebut jalma jahat ka dewek, heug sanajan rek nyarekan leuwih ti kitu oge, tapi silaing tangtu kaduhung, lamun geus nyaho yen dewek teu boga dosa !”
"Euweuh hesena memang oge ari ngangles mah, tapi kalakuan silaing bieu, jadi hiji bukti anu ku silaing teu beunang dipungkir. Silaing tangtu bisa mungkir lantaran euweuh saksi, tapi lamun nepi ka kajadian kitu, dewek sorangan anu bakal ngahukuman kana dosa silaing !”
"Dewek teu sieun dihukum, lamun bener-bener boga dosa, tapi sabalikna ........" [ 64 ]“Tembongkeun bukti-buktina, yen silaing teu boga dosa !” Sukardi nempas.
Maman boga ingetan rek nerangkeun tali-rasiahna antara manehna jeung Enden Komariah, malah surat ti Enden Komariah oge rek dibikeun. Tapi jol bae ingetan sejen, kieu : "Aing geus kabuktian pinanggih jeung bancang pakewuh, jadi lamun ku aing dibejakeun teh, bener aing bisa ngabela diri tamah, tapi eta teh ngandung harti Enden Komariah ku aing dikusrukkeun, sanajan aing percaya Enden Komariah moal sungkaneun nanggung papait kalakuanana sorangan.
Ah, leuwih hade ditanggung ku aing sorangan, sangkan Enden Komariah pinanggih jeung kasalametan.”
Tidinya pok Maman nembal kieu: "Pibalukareunana kalakuan dewek bieu memang gumantung ka silaing Di, da mang Pansiun mah tacan uningaeun. Jadi lamun ieu kajadian ku silaing ditutup nepi ka lebah dieu, tangtu meal papanjangan, sarta dewek rek jangji moal deui-deui milampah kalakuan anu sarupa kitu.”
"Ditutup ? Teu bisa jadi Man. Silaing kudu ngarti, dewek moal ngabela kajahatan. Kalakuan nu salah tetep salahna, sarta kudu meunang hukuman ! Komo deui ieu mah anu patali jeung kahormatan baraya dewek sorangan. Perkara hukumanana kalakuan silaing bieu, ku dewek rek dipasrahkeun ka mang Wadana Pansiun bae, lantaran dewek mah teu ngabogaan kakawasaan. Jadi, silaing ulah ngabogaan sangkaan, yen ieu lalakon ngan rek semet dieu bae, sabab ku dewek bakal ditepikeun ka mang Pansiun.”
"Di, ........ cek Maman, ngomongna dumareuda, ”na silaing teu karunya da dewek ? .......... Na silaing rek tega dewek, sobat silaing ?”
"Silaing salah harti Man. Ieu urusan lain urusan sobat, jadi, Looe sobat tinggal sobat, tapi ieu teh urusan silaing jeung pamili dewek ! Sing percaya, dewek henteu ngewa ka silaing, tapi dewek ngewa kana tabe’at silaing anu sakitu gorengna, anu rek dipake ngaruksak kahormatan baraya dewek ! [ 65 ]Sabisa-bisa dewek hayang ngabela kaadilan. Jadi, sobat tinggal sobat, tapi kasalahan silaing ku dewek moal diantep !”
Maman teu ngajawab, tuluy bae manehna nyuuh kana anggel bari sumegruk ceurik.
Jung Sukardi nangtung, leos ka luar.
Sanggeus Sukardi indit, Maman maksakeun maneh hudang, gek diuk dina korsi nyanghareupan meja, gutrut nulis, kieu ungelna :
Ceu,
Ceuceu, oge tangtos engke bakal uninga kana katunggaraan anu tumiba ka diri abdi. Kangge kasalametan urang duaan sanget panuhun abdi, supados ceuceu mah api-api teu uninga bae kana kajadian wengi teh. Jadi, tali rasiah urang mugi ku ceuceu dibunian, saha bae oge ulah aya nu terangeun.
Sakitu panuhun abdi.
Pangabaktos abdi nu prihatos,
Maman.
Sanggeus diamplopan, sup diasupkeun kana saku. Nepi ka subuh ngajentul bae dina korsi, cipanonna teu petot merebey bijil. Aya ingetan rek leumpang bae sakaparan-paran, tapi lila-lila mah gilig hatena, rek pasrah sumerah kana kadar bae.
Pukul 5 manehna ka luar, tuluy ka tukang luntang-lantung di kebon. Barang ret kana jandela kamar Enden Komariah, geus muka. Salingker manehna ka pipir, kolepat Enden Komariah katembong di kamar. Meneran pisan jandela, belewer surat teh dialungkeun. Kepluk murag kana meja pisan. Ret direret ku Enden Komariah gancang dicokot. Berewek amplopna disoehkeun, suratna tuluy dibaca.
Nepi ka sababaraha balikan eta surat dibacana, tapi weleh teu kahartieun naon maksudna, da puguh Enden Komariah mah teu nyahoeun kana kajadian peuting tadi teh.
"Naon ieu kajadian wengi teh ?” cek dina pikir Enden [ 66 ]Komariah, ”da kapan euweuh kajadian naon-naon."
Beuki dipikiran kalah beuki teu kaharti: Kacida panasaraneunana, hayang geura nanyakeun ka Maman.
"Ah engke bae ari geus salse rek ditanyakeun,” cek dina ingetanana, ”jeung ongkoh kang Mamanna ge ayeuna mah angkat ka kantor.”
Sabada sasarap, Enden Komariah unjukan ka ibuna, rek nganjang ka sobatna di Cimahi.
Poe eta Maman teu ka kantor, lantaran pohara ngarasa lungsena, sirah rarieut, lalanjung teu puguh rarasaan. Nya kitu deui Sukardi henteu digawe; pukul 8 manehna dangdan tuluy ngadeuheus ka juragan Wadana Pansiun.
"Naha geuning teu ka kantor Cep ?” cek juragan Pansiun istri, “pere ?”
”Henteu,” tembalna.
Sukardi nyelang heula nelepon ka dununganana di kantor, nyaritakeun teu bisa digawe lantaran aya hal nu penting.
“Aya perlu naon ?” cek juragan Pansiun.
Kalawan tatag, derekdek Sukardi nyaritakeun pamanggihna peuting tadi tea.
Sajongjongan mah ibu-rama Enden Komariah tingharuleng bae teu lemek teu nyarek. Aya percaya aya henteu kana omongan Sukardi teh.
"Di mana ayeuna Maman ?” cek juragan Pansiun istri.
”Henteu ngantor ?”
”Henteu.”
“Lamun bener carita Cecep bieu,” cek juragan Pansiun, “tangtu pisan emang moal ngantep, hartina Maman ku emang baris ditibanan hukuman anu satimbang jeung dosana. Tapi tangtu bae Maman kudu didenge heula kateranganana. Kumaha Cecep sapuk upama ayeuna Maman dicelukan ka dieu ?”
”Mangga,” tembal Sukardi bangun ludeung.
Juragan Pansiun mencet bel sarta teu kungsi lila si Abdul datang.
”Agan Maman ka dieu kituh ceuk dewek, gancang ! [ 67 ] ”Angkat ka kantor.”
"Henteu !”
Si Abdul lumpat ka papilyun.
Teu lila Maman datang.
"Tah diuk di dinya dina korsi,” cek juragan Pansiun.
Gek Maman diuk, pasemonna mesum sarta tungkul teu daekeun nembongkeun beungeut. Atuh ku kitu ge ujug-ujug kanyahoan bae, yen manehna boga dosa.
“Kieu nu matak dicalukan teh,” cek juragan Pansiun, ”emang teh kabejaan ku Sukardi, nya eta tina perkara kalakuan maneh peuting tadi. Mimitina mah emang teh teu percaya kana carita Sukardi, tapi ana dipikir, asa piraku gelo Sukardi make jijieunan.
Kacida reuwasna emang jeung embi ngadenge carita Sukardi teh, lantaran meh teu kaharti ku akal, maneh, anu ketenjona ku emang pohara bageurna, bisa atawa kaduga ngalakukeun hiji kalakuan anu sakitu hinana.
Lamun ninggang ka jelema sejen onaman maneh milampah kitu teh, ku emang moal dipake pikir, tapi ieu mah bet ka diri emang sorangan, nyieun peta anu sakitu gorengna.
Coba ayeuna emang rek nanya, kumaha sababna anu matak maneh wani-wani ngalakukeun kalakuan anu sakitu hinana ? Tadi emang meunang katerangan ti Sukardi, ayeuna hayang ngadengekeun pangakuan maneh sorangan.”
Maman tungkul bae teu ngajawab, ku tina bingung pipokeun. Memang kacida gampangna, upama manehna rek ngabela dirina, tapi tangtu papaitna bakal tumiba oge ka Enden Komariah. Manehna moal tega upama nenjo Enden Komariah anu ku manehna dipicinta, pinanggih jeung katunggaraan.
"Jadi ku lantaran maneh henteu ngabantah kana omongan Sukardi, hartina maneh narima kana kasalahan maneh.......... "
”Maman,” juragan Pansiun istri megat kalimah rakana, ”na maneh teh nepi ka kitu ? Teu sangka, kacida teu sangkana teh, di lebah maneh nepi ka wani milampah kalakuan anu sakitu gorengna ! Euweuh, euweuh shampuraeunana eta dosa maneh teh ! Teu nyana, bet nincak hulu maneh ka aing teh ! [ 68 ]Jeung naha maneh teh teu boga rasa rumasa teuing, sakitu ku aing diurus hakan diurus pake, disakolakeun nanaon, anu ongkosna henteu saeutik, nepi ka meh kawalahan ngongkosan maneh teh ! Henteu, aing teh henteu hayang dibales ku maneh, entong kitu bae atuh, bet nu asih dipulang sengit ! Teu beunang dipikanyaah maneh mah. Cing atuh ari Rahayang teh sing bisa mihapekeun maneh, da kapan maneh teh geus teu boga indung bapa ............."
"Geus bae entong papanjangan,” cek rakana. Kieu bae ayeuna mah Maman : Eta mah da bongan maneh sorangan, teu beunang dipikanyaah, ti poe ieu pisan, jam ieu pisan, mapeh kudu indit ti dieu, dewek geus teu hayang kacicingan ku maneh. Jig bae leumpang da tamaha sorangan. Sakitu oge ditimbang keneh maneh teh, da upama didakwakeun mah ka pangadilan, bisa jadi maneh dihukum.”
Maman nyurucud cipanonna. Eta hukuman karasana ku Maman pohara beuratna. Teu meunang ampun deui manehna kapaksa kudu ingkah, paturay jeung Enden Komariah, buah hatena.
Tapi nya dalah dikumaha, da geus milik diri kadar awakna, anu teu beunang dirobah deui.
Bari inghak-inghakan, pok manehna ngomong kieu: ”Hukuman anu ditibankeun ka abdi, ku abdi ditampi pisan. Samemeh mios teu aya sanes mung nyanggakeun sewu-sewu bebendu, laksa-laksa duduka, mugi gamparan sakalih kersa ngahapunten kana samudaya kalelepatan jisim abdi ageng alit. Samalihna ti eta, ngahaturkeun pinten-pinten sembah nuhun, sarehna gamparan parantos luntur kalbu wening galih kersa mihawatos ka jisim abdi sakitu nya kalamian. Kantenan jisim abdi moal pitiasaeun males asih, mung mugi-mugi bae Gusti Nu Maha Suci males kana kasaean gamparan anu parantos tumiba ka jisim abdi tea.
Saperkawis deui anu perlu kapiunjuk, nya eta tina perkawis kalakuan jisim abdi wengi tadi tea. Yaktos jisim abdi teh bade lebet ka kamar Enden, namung jisim abdi teu rumaos ari bade maksad awon mah.” [ 69 ] ”Ari enggeus rek naon atuh ?”
Maman ngahuleng.
”Sarebu kali maneh nyebutkeun lain rek maksud jahat, tapi teu hayang mercaya. Naon perluna peuting-peuting asup ka kamar budak awewe, ari lain maksud goreng mah.”
”Geus bae entong loba teuing bacot,” cek juragan Pansiun istri, ”jor bae ka ditu geura mantog, aing geus teu hayang neuleu rupa sia, sebel !”
Jung Maman nangtung, Sanggeus pamitan leos manehna ka papilyun rek beberes. Papakeanana dikana-koperkeun, nya kitu deui buku-buku kabeh diberesan. Tapi ku lantaran beurat mawana, henteu tulus dibawa buku mah.
Leos Maman indit, ngajingjing koper. Leumpangna nuturkeun indung suku bae. Sajeroning leumpang teh cipanonna teu petot-petot merebey. [ 70 ]IX. GERING PIKIR
Urang tunda heula Maman anu keur lumaku, leumpang nuturkeun indung suku, kocapkeun Enden Komariah anu kakara jol, tas nganjang ti sobatna tea.
Ti jalan keneh geus sejen rarasaan, kawas rek pinanggih jeung kasedih.
Saperti sasari bae Enden Komariah tara buru-buru dahar, lantaran sok ngadagoan heula Maman jeung Sukardi.
Sanggeus disalin tuluy ka dapur nepungan bi Aminah, Kasampak nu di dapur keur nyekelan bangkarak Parahiangan.
”Keur naon bi?”
”Henteu, ieu keur ningalan gambar, ku sarae. Ku hayang bibi mah tiasa maca, hayang terang dongengna bae, rupina rarame nya Enden?”
”Puguh wae,” tembal Enden Komariah. ”Bener bi kudu aya kahayang, heg ke ku kuring dipagahan ari geus salse.”
”Geura ieu Enden, aya gambar istri geulis sagala rupi, rame rupina dongengna ge.”
”Lain ge dongeng, eta mah adpertensi.”
”Naon pertensi teh Enden ?”
”Adpertensi, panawaran Sundana mah.”
”Dupi ieu panawaran naon? Panwaran istri ?”
”Lain,” tembal Enden Komariah, ”nawarkeun wedak.”
”Ku hayang bibi mah tiasa maca.”
”Naha teu disakolakeun pisan ku kolot bibi ?”
”Bujeng-bujeng teuing Enden,” tembal bi Aminah. Sanes teu hayang, mung kumaha atuh, sanaos bibi merenyeng hayang sakola oge, da sepuh teu ngarujukan. Keur naon teuing make sakola nanaon, sanggemna teh, awewe mah asal bisa ngejo, nyambel oge geus cukup.”
Enden Komariah seuri.
Keur kitu jol si Abdul ka dapur, vari pok ngomong kieu: ”Enden diantos tuang .....”
”Geus sumping Gan Maman ?” cek Enden Komariah. [ 71 ] "Ongkoh teu aya Gan Maman mah."
"Ka mana ?"
"Naha Enden teu acan uninga, kapan di .......... ditundung ku rama ?"
"Kumaha ? Ditundung? Ah sok heureuy maneh mah."
"Na da yaktos Enden," ceuk bi Aminah.
"Bener bi ?" Enden Komariah semu heran.
"Leres, tadi enjing-enjing."
"Pukul sabaraha ?"
"Kinten tabuh salapan."
"Ku naon cenah dosana ?" Enden Komariah beungeutna pias.
"Duka atuh bibi mah kirang terang. Itu manawi pun Abdul terangeun."
"Dul, ku naon cenah lantaranana ?"
"Duka, abdi oge teu terang. Cobi bae taroskeun ka Ibu, engke abdi ........... wartosan."
Meunang sajongjongan mah Enden Komariah ngahuleng bae teu lemek teu nyarek. Ras anjeunna emut kana surat anu ti Maman tea. Teu sangka bakal kitu balukarna.
Tina teu tahan nandangan kasungkawaan anu datangna kacida ngadadakna, bluk bae Enden Komariah nyuuh. kana lahunan bi Aminah.
Si Abdul anu harita masih keneh ngajanteng di panto, ngan bengong bae nu aya. Bi Aminah nenjo nu hookeun teh pok ngomong kieu: "Saurkeun, Enden mah geus tuang kituh di dapur. Omat ulah nyarita naon-naon deui !"
Leos si Abdul indit.
"Biiiii......" cek Enden Komariah bari sumegruk ceurik. "na milik diri kuring teh goreng-goreng teuing ....."
"Ku naon kitu Enden ?"
"Emh bi ....... Karunya teuing ku kang Maman, ditundung teu kalawan boga dosa ...... Teungteuingeun apa, bet teu aya rasrasan. Na naon dosa kang Maman teh?"
"Cek emutan bibi mah moal ditundung teu puguh-puguh, upami teu aya kalepatanana." [ 72 ] "Henteu bi, kuring, yakin, kang Maman teu bogaeun dosa."
"Upami yaktos kitu, naon margina atuh anu mawi ditundung, da piraku ditundung teu pupuguh onaman, kapan rama sareng ibu teh sakitu nyaaheunama ka Gan Maman."
"Bi........ kumaha atuh bi, karunya teuing ku kang Maman." cek Enden Komariah bari inghak-inghakan, "meureun leumpangna teh sakaparan-paran pae da puguh geus teu bogaeun indung bapa, henteu kadang henteu warga. Leuheung upama henteu cul kana pagawean mah tangtu gampang didongdonna, kumaha upama leumpang kalunta-lunta .........."
Nenjo anu keur sumegruk ceurik dina lahunanana jeung ngadenge omonganana anu sakitu melas-melisna, bi Aminah nyurucud cipanonna.
Ku bi Aminah kajudi, pang Enden Komariah sakitu sediheunana ditinggalkeun ku Maman teh, tangtu geus pakait pikir anu geus dipageuhan ku duriat.
"Bi, cing hayu kuring anteur urang nyusul kang Maman."
"Aduh Enden, teu sanggem teuing bibi mah; poma ulah kagungan emutan kitu, sing nyaah ka salira, sing hawatos ka ibu-rama. Upami kitu onaman Gan Maman teh parantos dumuk tempatna, mangga bibi ngiringan nyusul. Kapan ieu mah teu tangtos, boa urang mah nyusul ka wetan, Gan Maman mah ngulon........"
"Enya, tapi bi, kuring mah teu sanggup papisah jeung kang Maman......"
"Wayahna bae Enden, wayahna, da adatna di dunya mah tempat bagentosna kasukaan sareng kadukaan. Moal suka salamina, moal duka salamina. Anu mawi upami urang kenging kadukaan teh teu kedah dianggo alit manah, da tangtos bakal kagentos ku kabingahan. Enden oge kantenan tingali, di dunya mah teu aya hiji kaayaan anu angger. Dina keur papendak sareng dodoja tea, landongna teu aya deui mung kedah sabar tawekal."
"Puguh kaharti bi, tapi kuring mah teu kaduga ditinggalkeun ku kang Maman .........." [ 73 ] "Henteu tiasa maido ari dina kituna mah, da bibi oge parantos ngalakonan. Namung kumaha atuh, sanaos sungkan paturay oge, da Gan Maman parantos angkat. Ku margi kitu, nya kedah sabar tea bae ayeuna mah, da teu mustahil isuk jaganing pageto tiasa ditepangkeun deui."
"Enya, na ku naon atuh bi, kang Maman teh make ditundung ?" cek Enden Komariah bari cengkat. "Moal salah deui dipitenahkeun ku kang Sukardi."
"Ulah Enden, ulah sok enggal sungku-sangka, nyangka awon ka nu teu acan kantenan dosana. Geuning cek santri mah dosa ageung sungku-sangka teh."
"Enya, tapi engke bakal kabuktian, yen ieu teh panggawe kang Sukardi," Enden Komariah nyusutan cipanon ku tungtung baju.
"Sanes leres-lepatna anu dianggo patokan teh, nanging nyangkana," tembal bi Aminah. "Mending oge kieu emutan bibi mah : taroskeun bae ka ibu atanapi ka rama, engke tangtos uninga kalayan leres, naon margina nu mawi Gan Maman ditundung.
Parantos bae entong dianggo manah teuing, anggursi do’akeun Gan Maman sangkan papendak sareng karahayuan."
"Puguh bi ari dido’akeunana mah, moal aya sekon anu kaliwat tangtu kuring salawasna neda-neda ka Nu Kawasa, sangkan kang Maman ginanjar kasalametan, tapi ......... kawasna ari geus kieu mah saeutik pisan pangharepan kana bisa papanggih deui teh."
"Ari panteng bae palayna patepang teh, yakin bibi mah tangtos tiasa kalaksanakeun, kapan murah Gusti Allah mah."
"Bi, kumaha boa kuring teh geus kieu mah ........."
"Eta Enden mah sok pondok pangharepan."
"Da eta bi geus kaerong, kawasna moal bisa hirup lugina upama teu jeung kang Maman mah ........."
"Ulah kagungan emutan kitu Enden, sing nyaah kana salira, da Enden teh anom keneh, masih ageng pangharepan. Geura bae ku Enden manahan, upami teu ayana Gan Maman ku Enden dianggo nguluwut, upami nguluwut tea mah, tasa jadi Enden [ 74 ]teu damang. Upami kitu, kantenan pisan cita-cita Enden palay sasarengan sareng Gan Maman teh moal tiasa tinekanan. Boa teuing sajeroning angkat teh Gan Maman mah ihtiar sangkan cita-citana kalaksanakeun.
Cindekna, emutan bibi mah nu bodo, ulah dianggo alit manah, anggursi do'akeun, mudah-mudahan Gan Maman ditangtayungan ku Nu Kawasa."
Lila pisan garunem-caturna di dapur teh, bari dihantem dilelemu ku bi Aminah, nya lila-lila mah katembong rada berag oge.
Enden Komariah anteng pisan ngadengekeun carita bi Aminah teh, lantaran pohara ngareusina. Teu sangka, koki anu bodo balilu, urang kampung manyang-munyung, bet alus jeujeuhanana, rea pulunganeunana.
Pasosore, sabada mandi, leos Enden Komariah nepungan ibu-ramana.
"Nguping wartos ti bi Aminah, Maman di .......... ditundung ku apa, yaktos pa?"
"Enya," tembal ramana.
"Ku naon margina, asa ku dadak-dadakan teuing?"
Derekdek ku ramana diterangkeun ti awal nepi ka ahirna, teu aya nu kalarung.
Enden Komariah ngaheruk bae meunang sajongjongan mah. Teu lila pok ngomong kieu: "Teu sangka ku yi Maman, bet ngabudi ucing ........" Padahal ari dina jero hatena mah kieu: "Emh karunya teuing ku kang Maman, cilaka ku kasalahan aing. Aing anu salah, tapi kang Maman anu nanggung papaitna. Deudeuh teuing ........ "
"Nyeta atuh," cek ibuna, "paingan aya basa anak merak kukuncungan, uyah mah tara tees ka luhur, da bapana pamaenan palacuran, nurun ka anakna."
Eta omongan ibuna nyeletit kadengena ku Enden Komariah. [ 75 ]X. GOGODA
Nedunan jangji ka Neng Kurnia rek nyaba ka Bandung tea, dina hiji poe kabeneran poe Minggu, jung marangkat ka Bandung. Sajalan-jalan Enden Komariah ngan tempa-tempo bae tina jandela oplet, nempoan sugan papanggih jeung Maman.
Barang carunduk ka Pasar Baru, ka toko batik Mas Tata, eta dua nonoman istri diaku ku pribumi kalawan suka bungah.
Enden Komariah dibawa ngilikan barang-barang ku Neng Kurnia, neangan sugan aya nu pikabogoheun. Puguh bae rea mah, itu bogoh ieu kabita.
Sakur nu dipikahayang ku Enden Komariah, kabeh dicokotan ku Neng Kurnia, diteundeun dina meja.
”Tah eta kang,” cek Kurnia ka rakana.
"Pek bae kadinya bungkus !”
"Na popohoan teuing Na, abong ti rakana,” cek Enden Komariah bari imut.
"Keun bae nya kang, da ieu mah batina.”
Mas Tata seuri.
"Sabarahaeun ieu teh kang ?”
"Atuh ari rek diduitan mah moal dibikeun Rp. 70,-"
"Meureun bae da nyandakna nu sarae bae,” cek Enden Komariah, "sareng rupina anu dipikabogoh ku aceuk eta mah sadayana oge.”
”Sumuhun da ieu oge haturan nu mikabogohna,” tembal Neng Kurnia bari imut, mencrong ka Enden Komariah.
"Sok ngabibita Nana mah .........."
"Ngabibita ? Na samarukna haturan saha kitu ieu teh, da haturan ceuceu. Yaktos kang ?"
"Jang saha bae atuh,” tembal Mas Tata bari api-api teu pati malire.
”Nanaonan ari Nana,” Enden Komariah seuri, "ku naon dibayarna ku ceuceu oge ?"
"Kapan aya kang Sukardi." [ 76 ] "Kang Sukardi tea ............ , ah, da barina ge moal meser nanaon ceuceu mah teu gaduh artos."
"Mangga bae candak upami kamanah mah," cek Mas Tata.
"Da eta teu ngabantun artos,” tembal Enden Komariah semu era."
"Candak wae ah, teu sawios teu diartosan ge nya kang ?" cek Neng Kurnia bari seuri.
"Mangga ngahaturanan bae atuh eta mah."
Enden Komariah teu daekeun nampa, tapi Neng Kurnia keukeuh merena.
Waktu marulang, bungkusan samping tea dibawa ku Neng Kurnia.
Heuleut dua poe ti waktu ka Bandung, Enden Komariah nampa surat ti Mas Tata, kieu ungelna :
Kahatur
di Bumi.
Sareng hormat,
Mugi henteu jadi rengat manah, sarehna pun engkang kumawantun nyanggakeun ieu serat. ka Salira Enden, etang-etang sulur diri pun engkang anu hina dumeuheus ka payunan Enden.
Isinna mah teu kinten nyanggakeun ieu serat teh, namung ku pangajakna hate anu teu kenging dipondah, maksakeun maneh bae, tina hayang ngedalkeun pangeusi sanubari anu parantos lami dikandung, ka salira Enden.
Ti barang engkang tepang sareng Enden nalika di warung pun bapa fea, ti danget harita medal tina sanubari pun engkang, hiji rasa anyar. Bade sabalakana bae, nembe engkang mah ngarandapan raraosan nu sarupi kitu.
Raraosan naon eta teh ? [ 77 ]Dina eta rasa anyar tea, gumulung rasa nyaah, rasa asih, rasa deudeuh ka salira Enden. Boa nya rasa ieu pisan anu disebat rasa cinta teh, hiji cinta anu suci, anu medalna suwung tina perbawana napsu.
Ti ngawitan tepang dugi ka danget ieu, eta rasa anyar teh wuwuh nguntab-nguntab bae tumuwuhna dina sanubari pun engkang.
Enden, sihoreng eta teh "pamurwaning asih," cinta sajati anu suci.
Nya ieu pisan anu maksa ka engkang supados unjukan ka Enden teh. Mugi Enden teu jadi bendu.
Sakieu bae Enden, engkang teu tiasa nyerat paos, jalaran repot ku padamelan sareng ongkoh bilih bosen maosna.
Mugi ieu serat ditampi sareng diantos waleranana.
Iraha bade angkat deui ka Bandung, bilih palay sinjang anu marodel kintunan kamari ti Solo.
pun engkang,
TATA.
"Mas Tata ........ " Enden Komariah ngomong dina jero hatena, "beunghar, .......... kasep Mas Tata teh. Lamun aing ka manehna, geus moal boa senangna teh. Tapi ..... ah, teu bogoh. Jeung ongkoh karunya ka Maman, nyerieun temen hatena upama nyahoeun yen aing kawin ka nu sejen."
juragan Tata,
di Pasar Baru.
Sareng hormat,
Serat pasihan katampi, nuhun.
Namung nembe tiasa ngawaleran ayeuna, hapunten bae, repot.
Nyanggakeun agung-agung bebendu, sarehna abdi ngawaler serat pasihan teh tiasa jadi henteu raos kadanguna, jalaran dina danget ayeuna mah teu acan tiasa nampi kana pamundut teh, duka ka payun mah.
Dupi margina di dieu ku abdi moal disanggemkeun.
Jadi, ku jalaran kitu, utami pisan juragan milari deui bae istri sanes, margi abdi mah rupina lami keneh pisan kana ngalamun laki-rabi teh.
Namung tobat juragan, sanes pisan nampik abdi teh, sareng juragan ulah kagungan raos ditampik, ku abdi mung ku jalaran aya pambengan tea bae, sakumaha anu parantos kapiunjuk.
Teu aya sanes mung supados jadi tingali.
pun KOMARIAH.
Sanggeus diamplopan jeung diadresan tuluy bae diasupkeun kana koropak, henteu dipihapekeun ka Neng Kurnia.
Eta surat tangtu bae nimbulkeun katugenahan anu lain lumayan ka Mas Tata. Ku tina ambek-ambekna lantaran ditampik, katurug-turug geus karoroncodan anu lain saeutik, nepi ka susumbar kieu: "Moal tibra hate lamun acan kasorang !" [ 79 ]XI WANGKONGAN RASIAH
Hiji poe pasosore keur waktu bi Aminah ngareureuh di dapur, jol si Abdul nyampeurkeun.
“Enggeus anggeus popolahna ?” omongna ka bi Aminah.
Anggeus ..........”
”Mun liar atuh ari pagawean geus beres mah.”
”Liar ka mana ?”
”Ka mana wae sing aya kabudayan."
”Ah, ulin mah kudu boga duit, kudu make papakean nu alus, da era make nu kieu mah.”
"Ke atuh dagoan ari hayang papakean nu alus mah,” cek si Abdul bari lumpat ka luar. Teu lila geus kurunyung deui mawa bungkusan.
"Naon eta teh Dul ?”
”Coba wae kadinyah buka,” tembalna bari diasongkeun kana deukeut bi Aminah.
"Barang dibuka teh ku bi Aminah, bet ...... .... encit pibajueun jeung samping lereng banyumas.
"Keur saha ieu teh Dul ?” cek bi Aminah bangun nu heran.
"Keur saha deui atuh ?”
”Keur pipamajikaneun ?”
"Enya,” tembalna bari nyerengeh seuri.
"Atoheun temen dipangmeulikeun samping sakieu alusna. Ku bisa barangbeuli teh Dul.”
”Aminah bogoh ?”
”Komo wae bogoh mah.”
”Kumaha bajuna bogoh ?”
"Bogoh bajuna ge. Sampingna kieu, bajuna kieu, puguh bae surup mah. Teu sangka bisa nyusurupna. Sabaraha ieu teh dibeulina ?”
”Sampingna tilu ringgit, bajuna tujuh talen.
”Rea duitna nya.”
Si Abdul teu ngajawab, ngan nyerengeh bae seuri.
”Ari keur Abdul mana ?” [ 80 ]"Itu di pangkeng."
"Meuli naon sarupa-rupana?"
"Pibajueun jeung samping samarenda."
"Teu nyana rea duitna. Paingan aya basa duit mah tara kongkorongok."
"Naha kumaha kitu?"
"Atuh da saha nu nyangka Abdul rea duitna. Tapi lain ngahina, Dul."
Si Abdul seuri dipuji rea duit teh, sarta tuluy manehna ngodok udud tina sakuna. Duit dina sakuna dikorocokkeun, mani ngorocok.
"Coba etah mani ngorocok kitu, rea keneh Dul?"
"Aya we meureun lima welas perak deui mah."
"Ti mana Dul boga duit?"
"Ti mana wae, da jelema hirup mah kapan dibarengan ku milikna."
"Iraha rek kawin?" cek bi Aminah bari seuri.
"Saha nu rek kawin?"
"Ari ieu samping jeung pibajueun lain baweaun kawin?"
"Lain."
"Keur saha atuh?"
"Keur .......... keur Aminah!"
"Ah, sok ngabibita."
"Samarukna teh keur saha kitu?" tembalna bari nyerengeh.
Bi Aminah ngajebian.
"Har ituh, make jeba-jebi na marukan heureuy?"
"Kiamat alam dunya teh, mun Abdul .........." Acan tamat ngomongna geus ditempas deui: "Ya Allah, make teu percaya. Ampihan kadinyah!"
"Engke lanan, gampang ngampihan mah .........."
"Pek atuh ampihan."
"Diampihan tea kudu puguh aturanana. Ari etaeun teh Abdul mah bet kawas ka nu loba duit bae. Jeung barina ge samping kieu baju kieu mah di juragan Istri surupna teh. Teu pantes kuring mah make nu kieu." [ 81 ]"Tong rea carita, ampihan bae kadinyah !"
"Ih, na aya nu dagang maksa teuing, kawas ka nu loba duit bae. Mun kitu onaman harga genep ketip, meureun dibeuli wae."
"Na samarukna teh dagang kitu ? Mangmeulikeun eta mah lain ngajual!"
"Mangmeulikeun tea......"
"Kieu geura," cek si Abdul, diukna rada ngised, "perkara eta samping jeung baju .......... sukur ari bogoh mah, da puguh meunang ngahaja meuli anu sakira pantes dipake ku Aminah. Mangmeulikeun eta teh, lain ngajual!"
Bi Aminah teu ngajawab, ngan bengong bae nu aya.
"Tangtu Aminah heran lantaran kuring rea duit. Ieu teh taya lian ngan ku kamurahan Gusti Allah bae nu mikanyaah ka kuring. Da moal enya urang teh ngan kieu bae salirana, jadi bujang deungeun salawasna ........."
"Ari enggeus, kumaha atuh da ngan sakieu milik urang mah."
"Ah teu kitu, geuning kuring oge ari ihtiar mah aya onjoyna milik teh, malah sababaraha patikelaneun ti pangasilan tukang kebon. Ayeuna ku kuring geus kaerong, sanajan urang henteu jadi bujang deungeun oge, hirup urang bakal leuwih senang leuwih mulya ti batan ayeuna. Tah kitu nu matak ditepungan teh, rek diajak badami kumaha kira-kirana Aminah panuju upama urang eureun bae kumawula ka juragan Pansiun teh, tuluy urang pindah ka imah urang sorangan. Piraku sugan Aminah teu sapuk kana karep kuring kitu, da yakin kuring mah, urang teh bakal hirup senang, lantaran kuring geus tangtu baris meunang pagawean anu pangasilanana picukupeun keur hirup urang duaan."
"Sukur wae ari geus boga cabak anu pangasilanana leuwih gede mah, da kapan sarerea oge kasenangan anu diteangan. Ngan bae kuring hayang nyaho, kana naon pacabakan anyar teh? Jeung ieu nyaritakeun imah-imah kitu, naha Abdul teh geus boga imah sorangan?"
"Boga, ngan kari ngeusian bae."
"Ari pacabakan anyar teh kana naon?"
"Ah aya wae." [ 82 ] "Ah embung kuring mah, moal, moal milu, sieun kaasup kana paribasa moro julang ngaleupaskeun peusing. Mun kitu onaman geus aya buktina, duka teuing .........."
"Ari eta ?" si Abdul nunjuk kana samping.
"Puguh ari eta mah ; tapi Abdul ayeuna masih keneh digawe di dieu, hartina acan prak migawe pagawean anyar tea, mangkaning ari pangasilanana mah geus aya. Rada baliwet kuring mah.
Si Abdul ngahuleng, kawas aya nu keur dipikiran.
"Matak naon mun dicaritakeun sanajan rasiah oge, kawas ka nu lian bae Abdul mah," cek bi Aminah bari ngadilak.
"Atuh engke ge dibejakeun."
"Bawa deui bae atuh eta samping teh !"
"Naha ?"
"Bawa wae !"
"Naha nyangka beunang teu puguh ?"
"Ah, lain kitu .......... teu resep bae ari teu dibawa brukbrak mah!"
"Heug atuh ari hayang nyaho mah, tapi poma ulah rea carita ka nu sejen."
"Na kuring teh budak ?"
"Tapi kudu jangji heula, yen daek di.......... kawin." omongna bari seuri koneng.
"Pok-pok wae kadinyah, bet kawas ka budak leutik."
Si Abdul ngised deui diukna, pok ngomong gegerenyeman. Bi Aminah jongjon bae ngadengekeun.
Barang geus tamat ngomong, pok bi Aminah ngomong kieu: "Tah ku kituna kuring mah nu matak tara gancang-gancang kabongbroy ku nu obroy-obroy teh. Kumaha lamun teu laksana kahayangna, meureunan dipenta deui duit anu geus dibikeun ka Abdul teh."
"Moal, ditanggung, moal nepi ka dipenta deui, da basana ge mere, ngan lamun hasil, jangjina tea bakal jadi hiji jalan pikeun kasenangan urang duaan. Anu matak kuring menta dibantuan ku Aminah."
"Taya halangan ari mangnepikeun mah, ngan teu nanggung [ 83 ]kana hasilna. Ari ieu mah samping ampihan bae heula, gampang engke mah ari geus hasil. Diteundeun di dieu mah bisi kapendak ku Enden Komariah atawa ku juragan Istri.”
”Kitu hade,” tembalna bari mungkus deui samping tea. Jung manehna nangtung, tuluy ka luar bari ngomong kieu : ”Nya kitu tea bae eta mah nya !”
Pukul 10 peuting si Abdul ka luar ti kamarna. Tuluy ka tukangeun dapur beulah kulon, kalacat mancal kana pager, Sanggeus aya di luareun pakarangan gura-giru ka jalan gede, maju ngulon. Barang nepi ka hareupeun hiji gedong anu pernahna antara Ambachtschool[2] jeung simpangan alun-alun, reg manehna eureun. Terus mengkol ka jalan leutik gigireun eta gedong beulah kenca, kuliwed mengkol ka pakarangan dapur.
”Saha eta ?” cek hiji lalaki ti tepas tukang.
”Abdi,” tembal si Abdul.
”Abdul ?”
”Sumuhun.”
”Ka dieu.”
Si Abdul nyampeurkeun.
”Kumaha, kumaha, aya beja naon ?”
Hanjakal teu kadenge, naon anú dicaritakeun ku si Abdul teh, lantaran nyaritana pohara launna.
”Tah,” Cek lalaki anu di tepas teh, ”aya jalan ayeuna mah euy. Ke atuh dagoan sakeudeung nya !” Ngomong kitu teh barí ngaleos ka jero.
Urang caturkeun heula nu di jero. Bus manehna ka kamar tulis, gek diuk dina korsi nyanghareupan mesin tulis. Terektek, terektek ngetik. Sanggeus anggeus jung dibawa ka adina nu harita keur kucas-kecos ngarenda di pangkengna.
”Na,” cenah, ”pangnandakeun heula ieu surat.”
Nu keur ngarenda teh cengkat: ”Kumaha kang ?”
”Ieu pangnandakeun heula surat.”
”Serat naon ? Model, engkang nu bade nyeratan, abdi nu kedah nandana.”
”Ah, sok rea carita, tanda bae kadinyah, naon hesena nanda.”
”Engke atuh da kedah kahartos heula, serat naon ieu teh ?”
———— [ 84 ]tembalna bari nampanan eta surat ti lanceukna.
Sanggeus dibaca, pok nanya kieu: "Teu kahartos, kumaha maksad engkang teh?"
“Nya eta kitu.”
“Jadi bade .......” ngomongna teu kebat, ngan mencrong bae ka lanceukna.
Lanceukna unggeuk bari imut.
"Pek atuh tanda bae kadinyah, rek dianteurkeun ayeuna.”
Nu dibawa nyarita ngahuleng bae meunang sajongjongan mah, teu lila pok ngajawab kieu: “Ah alim ari kitu jalanna mah........”
“Alim ? Teu nyaah Nana ka lanceuk ?”
“Nyaah, saha nu teu nyaah ka dulur sorangan, mung teu panuju upami engkang bade kikituan mah. Piraku abdi kedah nganteur kana kalakuan engkang anu awon .....”
“Lain kitu, engkang rek nanya, nyaah ka engkang, nyaah ka ditu ?”
“Engkang teu kedah mariksa kitu, tadi ge sanggem abdi saha nu teu nyaah ka dulur sorangan, nanging engkang ulah lali, ieu maksad engkang teh teu kinten awonna; upami ku engkang dilampahkeun tangtos awal ahir aya wawalesna.”
“Jadi Nana teh keukeuh moal daek nanda ?"
“Alim !" tembalna bari gigideung.
Lanceukna muncereng, pok ngomong kieu: “Moal nurut ? Tah peulpen!" bari lung ngalungkeun peulpen ka hareupeun adina. “Hayoh tanda, naon hesena nanda !"
Ku lantaran nyahoeun kana tabe'at lanceukna, upama karepna teu diturut teh sok pikasalempangeun, tret bae surat teh ditanda.
“Nanging engkang, upami aya monyet hideungna, ulah mamawa ka abdi ........."
Lanceukna teu ngajawab, jung bae nangtung bari mawa surat tea.
Si Abdul geus keplak deui-keplak deui nepakan reungit anu nyarongcongan kana sukuna.
[ 85 ]“Ku lila !” manehna gegelendeng, “naon heula cenah ! Nyana-nyana arek disiksa kieu mah najis teuing ka dieu !”
“Naon Dul?” cek pribumi, norojol ka luar.
“Ieu ......... reungit.”
“Na atuh lain di dieu didagoanana di tepas.”
“Teu sawios .....” “ Heh ieu Dul, isuk nya sanggakeun isuk-isuk.”
“Mangga.”
“Aeh kumaha samping teh enggeus dibikeun ka pamajikan ?”
“Parantos.”
“Bogoheun ?”
“Kantenan. Mani sirikna teu gugulingan bae bawaning ku atoheun.”
“Sukur atuh ari bogoheun mah.”
“Sakieu bae ?”
“Heueuh. Kade poho nya !”
“Moal,” tembalna, bari jung indit.
[ 86 ]XII. SURAT TI NENG KURNIA
Lamun nyawang Enden Komariah sawatara minggu ka tukang dibandingkeun jeung Enden Komariah ayeuna, sanggeus ditinggalkeun ku Maman, pohara bedana : budina nu bear robah jadi kucem, awakna anu ngarareusi jadi orot. Budak anu sakitu resepna ulin sukan-sukan teh ayeuna mah gawena ngan ulukutek bae di imah. Mindeng diajakan ulin ku Sukardi, tapi basana teh ngan teu parurun bae.
Mun peuting sok mindeng nyaring, ari beurang lalamunan, ingetanana kumalayang sumoreang ka nu dipiangen beurang peuting.
Upama keur huleng-jentul nyorangan, mindeng nyurucud cipanon.
Robahna kaayaan Enden Komariah tea, kanyahoan oge ku ibu-ramana. Upama ditanya: “Ku naon nu matak sok hulang-huleng bae ?” Jawabna sok pondok bae: “Teu ku nanaon,” cenah.
Poe Minggu, pukul 5 subuh, Enden Komariah geus hudang. Rap make baju perenel, tuluy ka luar, luntang-lantung di kebon kembang tukangeun imah. Hawa subuh anu sakitu tiis nyecepna teh karasana ku Enden Komariah mah asa ti beurang bae, kawasna ku lantaran keur panas pikir, dipake teuing lalamunan.
Keur waktu anjeunna naleukeum kana tihang pager, torojol si Abdul nyampeurkeun.
“Rek naon Dul?”
“Ieu nyanggakeun serat.”
"Surat ti saha ?"
"Duka teu terang nu masihanana mah. Wengi, nalika abdi nyosi lawang payun, aya pameget masihkeun ieu serat, miwarang disanggakeun ka Enden.
“Saha nya ?” wangsulna bari nampanan surat tea ti si Abdul.
“Rupina mah kenek prah-oto, da tina prah-oto.”
Surat teh dibuka ku Enden Komariah. Ku lantaran rada [ 87 ]poek keneh, aksarana ngan katembong, remeng-remeng bae, tapi beunang ari dibaca mah. Eta surat teh basa Walanda, aksarana diketik, kieu ungelna mun disalin kana basa Sunda mah :
Kahatur
pilenggah ceuceu Komariah
di Bumi.
Sareng hormat,
Ceu, abdi ayeuna nuju aya di kontrakan Maswati, parantos tilu dinten. Mios ti Cimahi dinten Rebo, malah sareng pun bapa sareng pun biang nanaon, nanging aranjeunna mah parantos marulih deui ka Cimahi dinten Jumaah kamari. Perluna mios ka Maswati teh ngalongok kang Mandor Besar, udur repot pisan ; nanging ayeuna mah parantos majeng kana sae.
Ari abdi dicaram enggal-enggal wangsul, kedah “mukim” bae di Maswati, dugi ka pun lanceuk sae pisan.
Teu kinten ngaraos sonona ka ceuceu, mani asa parantos dina panon bae. Kaleresan abdi sareng ceuk Mandor Besar nyarioskeun urang basa kapungkur ngaranjang ka Maswati, nyaeta waktos urang keur sarakola keneh tea. Pun lanceuk duanana haroyongeun pisan tepang deui sareng ceuceu.
Geura ceu, di kontrakan teh ayeuna mah parantos asa di kota bae, benten pisan sareng kapengker.
Ceu, angkat nya ka kontrakan, piraku ku ibu sareng ku rama oge teu kawidian sadinten bae mah Ku abdi diantos pisan dinten Minggu enjing-enjing, geura abdi mah gaduh nu model nu teu aya di kota.
Upami bade angkat langkung sae nganggo oplet bae supados iasa lungsur di buruan. Tambanganana mah engke dibayar ku pun lanceuk.
Ulah lepat ceu, ku abdi parantos disayagikeun........
Abdi nu sono,
Kurniasari.
"Serat naon Enden?" cek si Abdul.
"Ah teu perlu nyaho."
Si Abdul seuri koneng.
“Teu sawios da abdi ge parantos terang.”
“Ti saha?” tembal Enden Komariah.
“Ti kenek prah-oto ..........”
“Ah maneh mah," cek Enden Komariah bari imut ngagelenyu, “kenek prah-oto mah nu dipihapeanana........."
Si Abdul seuri bari miceun beungeut. Harita bi Aminah oge nyampeurkeun.
“Geus mandi bi?” cek Enden Komariah, pasemonna marahmay.
“Bujeng-bujeng mandi, sakieu tirisna.”
“Aneh, da kuring mah teu ngarasa tiris.”
“Rupina eta ku margi Enden mah nganggo raksukan kandel,” cek si Abdul.
“Enya sugan,” wangsulna bari malik ka bi Aminah, “geus mirun seuneu? Siduru-siduru atuh bi, ari tiris mah.”
“Teu acan.”
“Kumaha aksara nu geus diajarkeun teh teu paroho deui?”
“Henteu, .......... aeh duka ketah.”
“Teu sangka kuring mah, calakan bibi teh diajarna mah. Coba kuring rek nanya, teangan ku bibi mana aksara “s” ?” cek Enden Komariah bari ngasongkeun surat ti Enden Kurnia tea ka bi Aminah.
Gancang pisan nuduhkeunana teh.
“Mana “a” ?”
“Ieu.”
“Ari “i” ?”
“Ieu," tembal bi Aminah bari nuduhkeun aksara “I”.”
“Ih lain “i” eta mah, kapan “i” mah aya titikan ti luhurna.”
“Aeh yaktos, ieu. Dupi nu bieu aksara naon?”
“Acan kaajarkeun eta mah, “I” ngaranna.”
[ 89 ]“Upami parantos timu sadayana aksara mah rupina bibi oge tiasa maca serat ieu.”
“Puguh bae bisa mah, ngan moal ngarti da ieu mah basa Walanda.”
“Abdi oge hayang diajar maca, upami Enden kersa ngawulangna mah,” cek si Abdul.
“Puguh bae kudu aya kahayang, ulah eleh ku awewe.”
Enden Komariah malik deui ka bi Aminah anu keur jongjon ngilikan aksara-aksara dina surat tea.
“Ari “n” mana bi ?”
“Ieu.”
“E, nu mana ?”
“Ieu, bi Aminah nuduhkeun aksara “c”.”
“Lain “e”, “c” eta mah. Lain kitu “e” mah.”
“Euh, nu ieu.”
“Geus bae, engke deui, kuring aya perlu rek nyaba.”
“Abdi ngiring,” cek bi Aminah.
“Kapan bibi mah rea gawe, kudu ka pasar nanaon. Engke deui bae ari meneran keur salse,” cek Enden Komariah bari indit ka kamar mandi rek mandi.
“Hasil ayeuna mah,” cek si Abdul ka bi Aminah, bari nyerengeh seuri. “Isukan atawa pageto urang indit ti dieu.”
“Hasil kumaha ?”
“Ari surat nu bieu ?”
“Surat ti saha eta teh ?”
“Kapan surat ti nu bakal nyenangkeun ka urang tea.”
“Surat naon eta teh ?”
“Surat naon? ......Biasa bae meureun surat ti lalaki ka awewe.”
“Kumaha Enden Komariah ?”
“Saurna mah pohara atohna, malah meresen ka kuring ge satalen.”
“Sukur wae atuh.”
“Pake isukan mah samping teh.”
“Enya,” tembal bi Aminah bari ngaleos ka dapur, Gek diuk [ 90 ]dina dipan, ngajentul sababaraha lilana, teu inget kana pagawean.
"Na geuning ngajentul bae ?” cek si Abdul, nempo ti panto. ”Acan mirun seuneu eta teh?”
”Acan,” tembal bi Aminah.
”Na samarukna wayah kumaha ieu teh ?”
”Wayah kumaha kitu Dul ?”
”Pukul dalapan.”
”Pukul dalapan ? Astagpirullah hal adim ! Bener Dul ?”
”Coba wae ilikan jam !”
”Kumaha atuh, boa juragan nyeuseul.”
”Lain, na ari tadi naon gawe ?”
”Panyana tea isuk keneh.”’
”Na wet teu boga teuing rarasaan.”
”Beu, tada teuing bae juragan benduna.”
"Keun teuing lah, kapan urang tereh ingkah ti dieu. Kapake sukur henteu kajeun !”
”Ah, ulah kena-kena kitu, da kapan masih keneh jadi kawajiban.
”Pekpek atuh kadinyah, lain wet ngobrol!”
Gur bi Aminah mirun seuneu. Keur kitu torojol juragan Istri ka dapur, lantaran geus pukul dalapan tacan sadia naon-naon. Ari ditempo, kakara gur mirun seuneu.
"Mana Aminah, geus beres ?”
Jung bi Aminah nangtung, bari malik ka juragan Istri, pok ngawalon, sorana pegat-pegat bawaning ku sieun: ”Sadaya....... daya b ..... ba .... bae, ....puguh ..... ab abdi teh ......... ka ...... kasiangan.... ”
”Kumaha ? Kabeurangan ? Jadi acan sadia naon-naon ?”
”Teu acan ......"
”Tacan asak cai-cai acan ?”
”Teu acan ......"
”Masa Alloh ari Aminah ! Na kumaha sia teh nepi ka kitu ? Na popohoan teuing molor teh, nepi ka poho kana pagawean !”
”Sadaya-daya bae ......" [ 91 ]”Heueuh sadaya-daya, da beuteung mah moal seubeuheun ku sadaya-daya ! Jeung na maneh teh bet tara-tara ti sasari ! Kajeun teuing aing onaman, itu bae Enden rek amengan, meureun moal kaburu tuang heula.”
Bi Aminah teu ngajawab, gek bae cingogo deui, ngahurung keun seuneu. Juragan Istri ka luar bari gegelendeng, teu lila bi Aminah oge ka luar, tuluy asup ka pangkengna. Teu talangke deui rap bi Aminah dangdan. Sanggeus dangdan gesat-gesut ka luar, belenyeng ka lawang, mengkol ka kaler, leumpangna mani titatarajong.
Heuleut satengah jam ti sajungna bi Aminah minggat, juragan Istri ka dapur deui.
”Aminah ! Aminah !
Jempe. Ditempo ka pangkengna, ngan aya papakean bututna bae nambru dina dipan.
”Ka mana eta mangkeluk teh, palangsiang minggat ? Abdul ! Abdul ka dieu siah !”
Si Abdul lumpat nyampeurkeun.
”Ka mana si Aminah ?”
“Duka .....”
”Piraku make teu nyaho ?”
”Bieu mah aya di dapur.”
”Sugan, ka mana leosna ?”
”Duka, teu katingal .........."
”Ah, bangkawarah, minggat meureun tah jelema teh, sapedah tadi ku aing dicarekan. Teu sangka, ......... kitu-kitu bae !”
”Sumuhun,” tembal si Abdul bari ngaheruk.
”Dasar cacah, benerna mah mun bebeja, da moal teu diidinan, ari geus teu betah mah !” Maneh wae Abdul mirun seuneu kadinyah, ke ku aing dibantuan.” Leos anjeunna nepangan carogena nyarioskeun bi Aminah minggat.
”Dasar awak aing mah sisit kadal,” si Abdul ngomong sorangan bari ngasur-ngasur suluh. [ 92 ]XIII. BELA—PATI
Caturkeun Enden Komariah. Angkatna pairing-iring bae jeung bi Aminah, ngan anjeunna mah leuwih ti heula jeung kana oplet.
Tong dicatur di jalanna, urang caturkeun geus nepi bae ka Maswati. Henteu tumamu, teu kungsi tunyu-tanya, da enggeus bareto.
Bumi Mandor Besar, raka Neng Kurnia teh rada nenggang, ayana di landeuheun pabrik.
Disangka Neng Kurnia aya di hareup mapagkeun anjeunna, tapi harita suwung.
Jut turun, creng mayar oplet, leos ka buruan. Kawas ka bumina ku anjeun bae, kalacat Enden Komariah ka tepas , lantaran geus teu asa-asa tea, boh ka juragan Mandor Besar istri-pameget, boh ka Neng Kurnia da puguh sobat dalit ti jaman sarakola keneh.
Lalaunan pisan mukakeunana pants teh. Dina sangkaanana tangtu Neng Kurnia di pangkeng keur nungguan rakana nu teu damang. Sup anjeunna ka jero ............ gebeg, per bae ngadegdeg, lantaran aya lalaki anu nyampeurkeun ti balik panto. Ari disidik-sidik, sihoreng .......... Mas Tata !
Kareuwas Enden Komariah harita, hese digambarkeunana ku tulisan. Reup geuneuk, ray pias, awakna ngeleper, angenna ratug, da upama teu kaburu dirontok ku Mas Tata mah tangtu. labuh kapidara.
"Neng Nana ! Neng Na.......... ” Enden Komariah ngageroan Neng Kurnia, tapi dibekem manten ku Mas Tata.
”Kurnia di Cimahi .......... ” cek Mas Tata.
Rumpuyuk, leng bae Enden Komariah kapidara. Ku Mas Tata dirawu, digolerkeun dina dipan.
Sanggeus inget tina kapidarana, Enden Komariah ngomong kieu ka Mas Tata: ”Engkang, nanaonan ieu teh ?”
”Nanaonan ?” tembal Mas Tata. Naha Komariah poho deui, yen geus nampik ka engkang ? Ku engkang rek dijieun [ 93 ]pupunden dunya aherat, rek dijieun panutan lahir batin, tapi Komariah nolak. Make jalan anu matak salamet jeung matak senang ka Komariah, Komariah teu nurut ; tah kitu sababna anu matak ayeuna engkang make jalan anu sarupa kieu ..........”
”Kumaha bieu saur engkang, abdi nampik ? Iraha ?”
"Ah, entong muter-muter carita," tembal Mas Tata, "engkang ngarti, Komariah rek ngagunakeun akal peucang, sangkan lesot tina leungeun engkang. Ku sabab eta leuwih hade ayeuna mah pasrah bae."
"Pasrah kumaha ?"
"Kudu nurut kana kahayang engkang !" ngomongna kitu teh bari ngarangkul ka Enden Komariah.
“Lah, na asa gagarampang-teuing ! Kakara teuing manggih lalaki cunihin teu uyahan dibeakkeun ku sorangan !” tembal Enden Komariah bari ngarangsang. ”Pendekna, kajeun nemahan pati jeung nepi ka beunang digadabah mah !”
Enden Komariah ditongtak.
”Eh, eh, na teu gableg teuing kekenyos, make rek puksa-paksa ka nu teu suka !”
Tapi .........., sanajan sakumaha adug-aduganana oge, da puguh tanaga awewe, ngalawan tanaga lalaki anu sakitu buta tulang buta dagingna, nya teu bisa walakaya.
Enden Komariah ngarasa, yen moal pibisaeun ngabela dirina, anu matak anjogna mah pasrah bae, narimakeun milik- dirina kadar-awakna. Cipanonna teu kendat merebey bijil.
Urang tunda heula Enden Komariah anu keur pendak jeung katunggaraan, urang selang heula nyaritakeun lalampahan bi Aminah.
Ti Parapatan manehna leumpang ka setatsion, nanyakeun pukul sabaraha barangkatna kareta anu ka Purwakarta. Ku lantaran kudu ngadagoan aya jamna, clak bae kana oplet. Sanajan ongkosna ngan mahi sajalaneun, teu dipikir panjang, ingetanana kumaha engke bae balikna mah.
Kontrakan Maswati nu dijugjug ku bi Aminah teh !
Supir jeung kenek oplet nu ditumpakan ku bi Aminah [ 94 ]pohara heraneunana, lantaran pok deui-pok deui bi Aminah nyebutkeun sing gancang, padahal harita teh dilumpatkeunana geus meh 50 km.
Kitu sababna nu matak datangna oplet teh meh bareng bae jeung oplet nu ditumpakan ku Enden Komariah, ngan ari Enden Komariah mah terus ”ka nu dijugjug, ari bi Aminah nyimpang heula ka pabrik, rek nanyakeun bumina juragan Mandor Besar.
Kabeneran nu ditanya teh mandor di dinya, ari jawabna: ”Teu aya juragan Mandor Besar mah, nuju titirah di rumah sakit di Cimahi, lantaran teu damang wales.”
”Ari geureuhana ?” cek bi Aminah.
”Geureuhana oge ngiring ka Cimahi.”
”Dupi di bumina ayeuna aya saha ?”
”Teu aya sasaha, mung aya bujang bae nu kemit.”
”Peresan mana bumina teh ?”’
”Ttu di landeuh.”
"Kumaha kinten-kintenna upami abdi nyuhunkeun tulung ka juragan, hayang disarengan.”
"Mangga, mung kapan teu aya juragan Mandor Besarna oge.”
”Teu sawios, bade nepangan bujangna bae,” tembal bi Aminah, bari mukakeun panto oplet. Clak mandor teh tumpak. Teu lila geus datang ka hareupeun imah nu dijugjug.
“Ku margi nu kagungan bumi nuju teu aya, kumaha kinten-kintenna juragan moal aya kaabotan, upami abdi nyuhunkeun dianteur dugi ka bumina pisan ? Ma’lum abdi mah jalma anyar, bilih aya sangkaan awon ti nu sanes .......... ”
”Mangga,” tembal mandor teh bari jut turun, tuluy ka buruan, bi Aminah nuturkeun.
”Kalacat mandor teh unggah ka tepas.
"Mad ! Mad !” manehna nyelukan bujang Mandor Besar, bari bray mukakeun panto.
Mas Tata anu rek maksa mirusa ka Enden Komariah, lir upama beurit ninggalkeun paisan, lantaran kanyahoan ku jelema. Berebet lumpat jalanna ka dapur. [ 95 ]Bi Aminah nyelenteng nyampeurkeun ka Enden Komariah anu keur ngalempreh dina dipan bari inghak-inghakan ceurik. Dirawu bari dihudangkeun, sarta segruk bae manehna oge .......... ceurik.
Mandor nu nganteur tea ngan bengong bae nu aya.
"Bi ............," cek Enden Komariah, "meh bae bi, kuring cilaka .........."
"Henteu dikitu-kieu ?" cek bi Aminah.
"Henteu .........."
"Nuhun atuh."
"Sareng saha bibi ka dieu?"
"Bibi bae sorangan."
"Ari itu saha?"
"Nu nganteur ti dinya ti pabrik."
Mandor tea nyampeurkeun bari pok ngomong: "Ke, teu ngartos abdi mah, saha ieu teh, sareng saha lalaki nu tadi lumpat ka tukang teh ?"
Ku bi Aminah diwawab kalawan ringkes, maksudna: pang manehna datang ka kontrak teh saestuna mah rek nyusul Neng Komariah anu geus dilejokeun ku lalaki nu tadi lumpat tea. Ditungtungan ku panuhun supaya eta kajadian ulah rek digeruhkeun. Mandor jangji yen moal carita.
"Enden," cek bi Aminah, "mangga atuh ulah lami-lami di dieu bilih kumaha onam."
Enden Komariah nangtung bari menerekeun sampingna.
"Mangga atuh Enden," ceuk bi Aminah bari ngaleng ka Enden Komariah.
Clak kana oplet.
Mandor nu nganteur tea lain ngan dinuhunkeun bae ku bi Aminah, ku Enden Komariah deuih dikepeluan duit saperak. Atuh teu kira-kira bae atohieunana.
"Tong gancang teuing ayeuna mah pir," cek bi Aminah ka supir.
"Bi .......... cing pok terangkeun, teu ngarti kuring mah ......"
"Engke Enden, engke di bumi, sing sabar atuh." [ 96 ]Kareuwas jeung kasedih Enden Komariah kasilir ku kabungahan pacampur jeung kaheranan. Bungahna, lantaran lesot tina balai gede, ku sabab ditulungan ku bi Aminah; ari heranna lantaran teu sangka jeung teu ngarti ku lampah bi Aminah anu bela tumutur ka anjeunna.
"Ti mana bi Aminah nyahoeunana, yen aing indit ka Maswati? Iraha nyusulna, ongkoh tadi waktu aing indit manehna keur masak di dapur? Ti mana nyahoeunana, yen aing bakal pinanggih jeung bahya, sedeng aing sorangan teu nyaho? Jeung naha lamun geus nyahoeun mah, yen aing bakal pinanggih jeung kacilakaan, bet henteu ngabegjaan ti anggalna, ieu mah kawas nu ngahaja ditungguan kana datangna bahya anu bakal tumiba ka aing tea. Coba lamun ngabegjaan mah, meureun aing moal indit ka Maswati."
Tah kitu pertanyaan-pertanyaan anu medal tina sanubari Enden Komariah.
"Bi, cik pok terangkeun bae atuh !" Enden Komariah ngaharewos ka bi Aminah.
"Sabar eulis, sabar. Piraku eulis teu uninga, yen ka-teu-sabaran teh sok nungtun oge kana kacilakaan."
Enden Komariah seuri koneng.
Perjalanan ti Maswati ka Cimahi karasana ku Enden Komariah mah pohara lilana.
Barang geus nepi ka Parapatan, bi Aminah ngaharewos ka Enden Komariah: "Panuhun bibi mah kajadian tadi teh entong disaurkeun ka ibu sareng ka rama."
Enden Komariah teu ngajawab, da emutan anjeunna mah sanajan kumaha-kumaha oge kabela bi Aminah teh rek diunjukeun ka ibu-ramana, da lain kalakuan goreng, jeung ongkoh sugan bae bi Aminah meunang ganjaran ti ibu-ramana, anu sakira pantes dipake males budi kana kabelana tea.
Ku lantaran bi Aminah siga nu ngadago-dago jawaban, pok bae diwangsul kieu: "Kahadean bibi wajib ku kuring diunjukeun ka ibu jeung ka apa !"
"Teu langkung Enden atuh." [ 97 ]Enden Komariah kebat ka dapur, da sangkaanana tangtu ibuna aya di dapur.
"Bu, bu !" cenah, bari mukakeun panto dapur. Kasampak ibuna keur popolah.
"Na geuning geus datang deui ?"
"Sumuhun," tembalna bari gek diuk.
"Si Aminah minggat. Nurustunjung tah manusa teh!"
"Piraku ibu mah bi Aminah sakitu bageurna."
"Bageur naon, mun bageur ge moal ngaleos teu pupuguh !"
"Traha minggatna ?"
"Tadi isuk-isuk."
Keur kitu, bray bi Aminah mukakeun panto. Na ari sirintil teh juragan Istri, teu nyaho rek dikumaha boa bi Aminah teh, da make nyingsat sagala, rek najong meureun, ngan hadena bae Enden Komariah rikat nagalalangan ibuna.
Enden Komariah disuntrukeun ku ibuna, nepi ka tijongjolong. Kop kana suluh, habek-habek bi Aminah dicecer diteungeulan.
Enden Komariah ngahelas mireungeuh bi Aminah anu sakitu bumelana ka anjeunna ditandasa ku ibuna. Selenteng, gabrug ibuna dirontok deui, ditangkep salirana: "Ibu, ibu, sing emut bu, bi Aminah teu gadukeun dosa !"
"Kumaha, teu bogaeun dosa? Sakitu dosana geus tetela teh? Hayoh sia balik, montong ceurik !" Ibu Enden Komariah morongos ka bi Aminah anu keur inghak-inghakan ceurik ngarasakeun kanyeri. "Enggeus teu hayang katincak pakarangan ku sia teh! Teu nyana bet nyoo gado sia ka aing teh !"
"Bu," Enden Komariah muntangan panangan ibuna anu ngulang-ngulangkeun paneungeul rek neungeulan deui bi Aminah. "Parantos bu karunya .........."
"Manusa bangkawarah kudu dipikarunya? Hayoh sia geura indit, entong ngajedog bae, aing geus teu hayang neuleu beungeut sia !"
"Bi kaluar heula atuh!" cek Enden Komariah.
Huyungkung bi Aminah nangtung, tuluy ka luar. [ 98 ]”Na aya mangkeluk teu uyahan teuing,” cek ibuna, bari ngabalangkeun bebekan suluh urut neunggeulan bi Aminah tea ka pipir hawu. "Saha nu teu rek pusing geura, boro ngeunah-ngeunah bae ibu teh di imah, na ari ditempo .......... dapur camewek, mangkelukna geus euweuh. Keun, urang tundung we, teu resep ibu mah ka manusa anu teu nyaho di adat teh !”
”Emutan abdi mah samemeh ibu nibankeun hukuman ka bi Aminah teh, utami diparios heula bae nu paos, naon margina anu mawi dugi ka hilap kana kawajiban, apan ibu oge tingali, bi Aminah teh sakitu bageurna, sakitu nurutna. Ayeuna kajadian kitu, tiasa jadi aya hal-hal anu teu kinten pentingna.”
”Teu, teu perlu make kudu dipariksa sagala .......”
”Ulah bu, ulah ditundung, karunya.”
”Karunya ? Manusa bangkawarah kudu dipikarunya ?”
Ku Enden Komariah kapikir, upama teu diunjukkeun kabela bi Aminah ka anjeunna, tangtu ditundungna ku ibuna. Anu matak pok bae anjeunna unjukan: ”Bu abdi gaduh piunjuk saeutik.”
”Naon ?” wangsul ibuna.
”Engke wae di bumi, payuneun apa.”
”Hayu atuh urang ka apa. Tungguan seuneu Abdul !”
Enden Komariah ngiceupan ka bi Aminah, nitah ka dapur.
[ 99 ]XIV. UNJUKAN
Sanggeus ngariung di tengah imah, derekdek Enden Komariah ngadongengkeun lalampahanana ti barang nampa surat ti Neng Kurnia nepi ka balikna deui ka Parapatan.
”Hartosna, upami abdi teu dibelaan ku bi Aminah mah, duka kumaha abdi teh bu,” cek Enden Komariah.
”Heeh, karunya teuing ku si Aminah anu sakitu bumelana ka eulis, ku ibu digebugan.”
”Meureun wae ibu mah galak teuing, nembe ge jol, parantos dipapagkeun ku paneunggeul.”
”Bongan wae eulis teu buru-buru nyarita ka ibu.”
”Tong cios ditundung atuh, nya bu ?”
”Piraku gelo atuh ibu ge. Tadi mah rek ditundung soteh. panyana tea ngaleosna teh lain rek melaan eulis.”
Rama Enden Komariah ngahuleng bae meunang sajongjongan mah. Mimitina anjeunna rada cangcaya kana omongan putrana teh. Tapi ras deui anjeunna emut, putrana mah salilana oge tara wanieun ngabohong, komo ka kolot mah.
”Ke apa rek nanya heula,” saurna, ”saha lalaki nu rek maksa mirusa ka eulis teh ?”
”Mas Tata, putrana Mas Martawijaya, sudagar di Cimahi tea.”
”Mas Tata ?” ramana ngembang kadu.
”Sumuhun ......... ”
”Nepi ka kituna nya, tabe’at manusa ........ ” cek ramana bari gogodeg.
”Raka Neng Kurnia tea eulis ?” cek ibuna.
”Sumuhun, apan tadi ku abdi ge parantos disanggemkeun, abdi nampi serat teh ti Neng Kurnia. Teu nginten saeutik-eutik acan yen eta teh serat palsu, kangge ngabobodo ka abdi.
”Teu ngeunah ibu mah, kacida teu ngeunahna teh. Pendekna moal waka tibra upama si Tata cunihin acan meunang hukuman ...... ”
”Ke heula,” juragan Pansiun mah leuleuy bae sasaurana teh, ”ulah waka lumpat kana hukuman-hukuman kitu, da [ 100 ]teu gampang ngahukum jelema teh ......"
"Ah, atu da saha nu ngeunah ditincak hulu !"
"Puguh ari teu ngeunahna mah, tapi ke lanan apa rek nanya heula ka si eulis, kumaha asalna anu matak aya perhubungan jeung Mas Tata ? Jeungna deui, ingetan apa mah, Mas Tata moal boga kalakuan anu sakitu telengesna upama teu meunang kanyeri ti eulis."
"Tiasa jadi, margi manehna nyeratan ka abdi, ku abdi ...... ditampik !"
"Euh, pantes atuh ari kitu mah," tembal ramana bari unggeuk-unggeukan, "tapi naha atuh eulis teu nyarita ka apa ?"
"Da eta kaemut teu aya perluna sanaos ku abdi diunjukkeun oge, ku emutan, cekap diwaler ku abdi oge."
"Ngawalonna meureun matak nyeri ?"
"Henteu, da mung disebatkeun .......... teu acan niat gaduh salaki wungkul."
"Ke, ari si Aminah ti mana nyahoeunana yen eulis rek ka Maswati ?"
"Duka ..........utami dipariksa bae ku apa.
"Naha ku eulis tacan ditanya ?"
"Parantos, mung teu daekeun nerangkeun." Gancang bi Aminah dicalukan. Teu kungsi lila geus aneprok emok di hareupeun dununganana. Sanggeusna juragan Pansiun ngadongengkeun deui lalakon Enden Komariah kalawan ringkes, tuluy mariksa kieu ka bi Aminah : "Bener eta teh Aminah?"
"Yaktos," tembalna.
"Jadi tadi maneh ngalolos ti dieu teh rek nulungan Enden, nya ?"
"Sumuhun ........."
"Jadi hartina maneh teh geus nyaho ti anggalna keneh yen Enden nyanghareupan picilakaeun?"
"Terang tadi bae enjing-enjing saparantosna Enden angkat."
"Nyaho ti saha?"
"Tadi enjing-enjing Enden sasauran ka abdi yen anjeunna bade angkat ka Maswati nepangan Neng Kurnia anu nuju natamu di rakana." [ 101 ]”Heueuh bener, eta mah urang ge nyaho, tapi eta nu teu kaharti teh, ti mana maneh nyaho yen Enden nyanghareupan picilakaeun ?”
”Enden nyaurkeun nampi serat ti Neng Kurnia .........”
”Heueuh, eta mah geus nyaho urang oge !”
”Namung tadi enjing-enjing Neng Kurnia ka dieu .........”
”Ka dieu ka mana ?”
”Ka abdi, ka dapur.”
”Wayah kumaha ?”
”Teu lami saparantos Enden angkat.”
”Rek naon cenah ?”
”Mariksakeun Enden.”
”Dibejakeun ka mana ku maneh ?”
”Sanggem abdi teh, ongkoh diseratan ku Eneng ?”
”Kumaha jawabna ?”
”Na da teu nyuratan, saurna.”
”Sanggeus kitu kumaha ?”
”Saparantos kitu mah lajeng bae anjeunna mulih, saurna mah bade nyusul Enden. Ku margi Neng Kurnia nyaurkeun yen henteu nyeratan ka Enden, abdi gaduh sangkaan, parantos teu lepat deui tangtos serat anu katampi ku Enden teh serat palsu. Kitu margina anu mawi tadi enjing-enjing abdi hilap kana naon-naon, lajeng bae mios bade nyusul Enden ka Maswati, bok manawi anjeunna pendak sareng pakewuh. Kabuktian, teu mencog tina sangkaan, yaktos bae Enden teh dilejokeun ku Mas Tata, mung saena bae kabujeng kaperego ku abdi, atuh becir bae manehna lumpat.”
”Euh kitu ?” cek juragan Pansiun bari unggeuk-unggeukan, ”kaharti atuh ari kitu mah. Sukur Minah, maneh geus boga kanyaah ka Enden.”
”Mung eta bae, tadi abdi teh gaduh dosa, teu kabujeng unjukan heula nalika bade mios teh .........”
”Kajeun, tong dipake pikir, dihampura sakitu-kitu bae mah.”
”Puguh bae dihampura mah Minah,” cek juragan Istri, [ 102 ]"malah sabalikna kami kudu dihampura ku maneh, tadi geus nyarekan jeung neunggeulan."
"Perkawis eta mah katampi pisan, margi abdi rumaos gaduh lepat tea. Dupi kalepatan atanapi dosa teh tinangtos kedah aya hukumanana."
"Heueuh, sukur atuh ari boga pikiran kitu mah," cek juragan Pansiun, "jig bae ayeuna mah ka dapur deui, teruskeun pagawean."
Jung bi Aminah nangtung, leos indit.
Sanggeus bi Aminah indit, anjeunna sasauran kieu ka putrana, "Tah eulis, eta teh picontoeun ka hareupna, sing ati-ati mawa awak teh. Ulah rasa maneh aya keneh kolot, ulah rasa maneh ludeung ari lumaku teh, bisi kajadian deui saperti tadi, Untung bi Aminah sakitu bela-patina, coba upama teu kitu mah meureun ayeuna teh eulis geus jadi wadal manusa anu sakitu telengesna. Apa pepeling, ti semet ayeuna ka hareup mah ulah sok sumaba sosoranganan. Ari teu dianteur ku ibu atawa ku kang Sukardi mah ulah rek wani-wani calangcang-celengceng sosoranganan. Jeung sing ngarti deuih, ari asih teh bangbalikanana cua. Lamun lalaki micinta, miasih ka eulis, heg ku eulis teu dilayanan, kapan eta teh geus tangtu nimbulkeun kacua jeung kaceuceub dina sanubarina. Asal asih teh jadi ngewa ka urang."
"Ari abdi mah anjeunna," cek garwana, "keukeuh hayang males ka si Tata, da eta ku asa ditincak hulu !"
"Puguh ari rek nurutkeun napsu mah, memang bisa upama ku urang didawakeun ka hakim, tapi ari apa mah teu mupakat kikituan teh, saperkara geus teu resep kana peperkaraan teh, katurug-turug ieu mah ngan ukur rek males kanyeri, upama males kanyeri tea mah, anu beunang disebutkeun teu aya untungna ka urang; kaduana ku asa ngaboretekun taeun di pasar, da di lain-lain oge teh wiwirang urang."
"Nya atuh ari kitu mah, ngiringan abdi mah."
Enden Komariah unjukan ka ibuna rek ka cai. Memeh mandi, nepungan bi Aminah heula ka dapur, Gek diuk dina [ 103 ]dipan, pok mariksa ka bi Aminah: ”Lain bi, ka dieu sakeudeung, aya nu rek ditanyakeun ka bibi teh.”
”Naon Enden ?”
”Tadi di payuneun ibu jeung apa, bibi unjukan pajah bibi meunang beja ti kuring, yen kuring rek nganjang ka Neng Kurnia di Maswati. Padahal kuring inget bener. Yen kuring teh teu nyarita kitu ka bibi.”
”Ah Enden mah, geuning tadi enjing-enjing sasauran ka bibi .........”
”Henteu bi, asa teu kungsi nyaritakeun hal eta.”
”Bibi terang ti mana atuh upami sanes ti Enden mah.”
”Kajeun atuh bi, kitu nya kitu, da puguh euweuh saksina.”
”Kapan tadi aya pun Abdul.”
”Enya, keun engke urang tanyakeun ka si Abdul,” tembal Enden Komariah bari seuri, Leos anjeunna ka kamar mandi.
Heuleut saminggu ti saentas aya kajadian nu diterangkeun di luhur, bi Aminah unjukan ka dununganana, menta supaya si Abdul dilepas tina pagaweanana. Upama juragan Pansiun beurat ka si Abdul, manehna sorangan rek menta kaluar. Ku juragan Pansiun dipariksa naon sababna nu matak kitu, tapi bi Aminah teu daekeun nerangkeun alesanana.
Isukna si Abdul dilepas tina pagaweanana.
[ 104 ]XV. KABUNGBULENGAN
Lir upama kembang eros layu kapoe, nya kitu pisan katembongna Enden Komariah, reup peuting bray beurang teh beuki taya kaberagan. Awakna anu tadina ngeusi, beuki lila beuki orot. Pasemonna alum, beungeut pias taya getihan.
Ibu-ramana, nya kitu deui Sukardi, ngan bati bingung bae nu aya. Upama ditanya naon ditanya naon nu karasa, jawabna taya nu karasa, ngan lalesu lalungse bae, taya tangan pangawasa.
Mindeng ku ibu-ramana dibangbrangkeun dibawa ka nu anggang, tapi sigana teh kalah beuki layu mun kembang mah.
Estu matak karunya ku Enden Komariah !
Geus diubaran ku rupa-rupa ubar, tapi panyakitna dengdeng bae. Beuki katembong ripuhna sanggeusna cul kana dahar. Sakitu bi Aminah nyadiakeun kadaharan anu pohara ngareunahna, tapi taya nu asup, kajaba ti cai, kitu oge kalan-kalan pisan.
Nilik anu jadi anak geus sakitu sare'atna, geus teu bisa ingkah tina ranjang, nu jadi ibu-ramana geus samar kaloyoh bae. Ngala dokter geus sababaraha urang, tapi panyakit Enden Komariah dengdeng bae, malah kalah beuki ripuh. Meakkeun kapanasaran, ngala specialist panyakit bayah ti Bandung. Tapi ieu oge nya kitu bae, sakabeh ihtiarna geus dijalankeun, taya nu nulung. Ngan ukur bisa nerangkeun, cenah Enden Komariah teh panyakitna "nguluwut pikir."
Awak Enden Komariah ngan kari tulang jeung kulit teh saestuna, iga ragas kawas gambang. Ari gawena sapopoe teh ngan ceurik. Upama ditanya naon nu dipake kasedih teh, tara puguh jawabna.
Sukardi, mireungeuh buah-hatena geus kitu sare'atna, geus samar polah bae. Upama geus datang ti kantor sarta geus dadaharan, sok tuluy bae ka kamar Enden Komariah nungguan nepi ka burit.
"Engkang," cek Enden Komariah dina hiji poe waktu paduduaan di pangkeng.
"Naon ?" tembal Sukardi bari ngadeukeutan. [ 105 ]’’Panuhun abdi entong ngare repot teuing anjeun, mangga bae sing raos-raos kulem. Teu sawios abdi mah teu kedah dikemitan.’’
’’Buah ati engkang,’’ tembal Sukardi, ’’ulah kagungan emutan kitu. Peupeuriheun enjing-enjing engkang tara tiasa nyarengan, atuh ayeuna sonten, etang-etang nyelangan ibu sareng apa.’’
’’Eta wae ku nyesahkeun geuning abdi teh.’’
’’Henteu,henteu nyesahkeun, panutan. Naon-naon anu dilampahkeun ku engkang, estu medal tina hate anu suci bersih. geusan kasalametan Enden. Kabela engkang ka Enden, sanes bae kajurung ku kamanusaan, sanes bae kahudang ku kabarayaan, nanging kageuing oge ku rasa cinta asih engkang ka Enden.
Ti barang Enden brek teu damang, kenging disebatkeun engkang teh teu raos neda teu raos mondok, tina hariwang Enden kateterasan. Emh, pisakumahaeun teuing pitunggaraeunana hate engkang ? ............
Cing atuh jungjunan, sing geura, damang. Saur apa kamari, upami Enden paran tos damang, urang teh bakal buru-buru dirangkepkeun. Tada teuing bae resepna upami lalamunan urang parantos tinekanan ...............’’
’’Engkang,’’ saur Enden Komariah, ’’tebih teuing eta lalamunan teh ! Hiji lalamunan anu moal kalaksanakeun !’’
’’Eta Enden mah sok pondok pangharepan kitu. Sanajan Enden parantos sakieu sare'atna oge, kapan Gusti Allah mah sipat rahmah rahim, teu mustahil Enden bakal waluya deui sapertos bihara-bihari. Sing percanten ka engkang, insya Allah moal kateterasan !’’
’’Sanes, engkang, sanes ku margi kitu, namung sanggem abdi lalamunan engkang teh moal tiasa kalaksanakeun. Engkang mugi tingali, abdi teh nyaah, asih ka engkang, deui, kanyaah sareng kabela engkang ka abdi ku abdi ditarimakeun pisan, mugi-mugi bae Gusti Allah males kana kasaean engkang tea anu sakitu totomplokanana, ............. namung engkang .............. mugi engkang uninga, .......... abdi teh henteu ari cinta mah ka engkang !’’ [ 106 ]Sukardi ngembang kadu. Sajongjongan mah ngahuleng bae teu lemek teu nyarek.
"Tiasa jadi omongan abdi bieu teu raos kadanguna ku engkang," Enden Komariah neruskeun caritana, "nanging kumaha atuh, ku jalaran abdi ngaraos perlu nerangkeun kumaha kaayaan pangeusi sanubari abdi nyanghareupan ka engkang. Nanging kade lepat ngartos, sanes nampik abdi teh da ku engkang oge kantenan karaos: abdi teh nyaah, asih, deudeuh ka engkang, mung ......... teu cinta !
Dupi margina kieu : kantenan engkang oge tingali, cinta teh mung hiji. Cinta abdi anu suci parantos cumantel ka nu sanes, sarta pamohalan tiasa dipindahkeun ka engkang. Sayak tosna abdi teh parantos seep ihtiar hayang tiasa micinta ka engkang, namung teu tiasa bae.
Tina perkawis ieu kantenan ku abdi teu kedah paos dipiunjuk, margi abdi percanten ka engkang, hiji pameget anu berbudi sareng mulya manah, kantenan kersa ngama'lum ............."
Enden Komariah eureun ny aritana, ret ngalieuk ka Sukardi anu keur ngehuk bari nyusutan cipanon ku carecet. Mireungeuh Sukardi ceurik teh Enden Komariah oge nyurucud cipanonna, ngalembereh kana pipi.
"Enden," cek Sukardi ngomongan dareuda, "kacida teu sangkana teh Enden bakal ngedalkeun omongan anu bener-bener matak ngaraheutan hate engkang. Satadina, engkang ngabogaan kapercayaan anu gembleng, yen katineung engkang teh dibales ku Enden. Nanging ayeuna kalayan terus terang Enden nyebatkeun kitu."
"Rupina bae engkang lepat nampina," tembal Enden Komariah" tina sanubari abdi medalna kaasih sareng kanyaah, namung ku engkang disangka kacintaan. Abdi sorangan ngaraos heran Sareng reuwas nalika tadi engkang nyaurkeun cinta ka abdi, dugi ka parantos badanten sagala sareng apa tina perkawis laki rabi urang. Waktos engkang sasauran kitu teh ku abdi ujug-ujug kahartos bae, yen engkang teh lepat nampina. Upami warna tea mah ti abdina bodas, katampina ku engkang hejo." [ 107 ]“Enden,” cek Sukardi bari nutupan beungeutna ku carecet, ”naha teu karunya ka engkang ?”
“Sedih engkang abdi teh tina teu tiasa males cinta ka engkang. Tadi Sanggem abdi, abdi teh parantos ihtiar hayang tiasa micinta ka engkang, namung teu tiasa bae. Dipaksakeun kantenan tiasa, Mamung tangtos sanes cinta sajati, nanging ”cinta paksaan.” Abdi percanten, engkang moal kersa mihukum istri anu teu cinta ka engkang.
Ku margi kitu, wayahna bae engkang, wayahna, da sanes teu hawatos abdi teh, namung kumaha atuh ?” .......... Enden Komariah ngomongna kitu teh bari nyusutan cipanon. ”Sarengna deui, ku emutan, teu kedah dianggo alit manah sapedah cinta engkang nogencang, margi ku engkang oge kantenan katingali, abdi teh parantos sakieu sare’atna, boa enjing boa pageto ngantunkeun engkang kangge salalamina ..........”
”Ku ningal sare’at Enden kieu, engkang beuki sedih, Sedih, ku lantaran Enden anu ku engkang dipideudeuh dipicinta, kenging dodoja anu sakieu abotna. Engkang cinta ka Enden, hal ieu ku Enden parantos kauninga. Sanajan kumaha bae oge kaayaan Enden, cinta engkang ka Enden moal luntur. Moal luntur sapedah engkang bogoh nogencang, moal luntur sapedah sare’at Enden kieu buktina, moal luntur sapedah Enden bakal kapimilik ku nu sanes, hartosna cinta engkang ka Enden ka pameget anu sanes tea, teu tiasa dipindahkeun ka engkang.”
Enden Komariah teu ngajawab deui, ngan cipanonna bae nyurucud, lantaran kacida sedihna, kagagas ku omongan Sukardi anu nyuat-nyuat kana pikirna. Nya kitu deui Sukardi, ngaheruk bae, teu lemek-teu nyarek.
Rupana bae cape entas nyarita, nu gering teh reup bae peureum, tuluy malik, nyangigir ka kenca, nukangan Sukardi.
Handapeun anggel Sukardi mireungeuh potret sapotong, nu sapotong deui mah katindihan ku anggel. Paar bae dicokot, lalaunan pisan nyokotna teh. Ari sihoreng, ......... potret Enden Komariah jeung Maman tea, mani geus kotor.
”Emh, paingan atuh ari kitu mah,” cek Sukardi dina jero [ 108 ]hatena. "Pantes Maman nyaritana ka aing pok deui-pok deui nyebutkeun teu boga dosa. Tangtu pang manehna wani nepungan Enden Komariah teh geus meunang paidin heula, sakurang-kurangna geus badami ti anggalna. Paingan Komariah kagegeringan upama kieu mah. Kalawan teu dihaja, tali cintana ku aing dipegatkeun! Ayeuna kieu buktina .........."
Eta potret ku Sukardi disusupkeun deui kana handapeun anggel. Teu kungsi lila bi Aminah asup ka kamar mawa bubur jeung cisusu.
Sukardi nangtung bari ngomong kieu: "Bi, tungguan nya, kuring rek mandi heula ........"
Waktu Enden Komariah ngalilir, bi Aminah nyampeurkeun bari ngomong kieu: "Enden, itu bubur raosan, meungpeung haneut keneh."
"Keun wae bi, can hayang; diuk anggur di dinya dina korsi. Ka mana ari kang Sukardi ?"
"Siram," tembal bi Aminah bari gek diuk.
"Ibu ?"
"Rupina kulem keneh."
"Palayeun meureun nya bi, da sapeuting tadi henteu kulem pisan."
"Keun atuh, engke mah bibi ngarencangan," cek bi Aminah, "hawatos ku ibu."
Waktu ibu ramana sarumping ka pangkeng putrana, bi Aminah unjukan yen peuting eta rek ngemitan.
Kira pukul 8 peuting keur waktu bi Aminah ngajentul diuk dina dipan, dicalukan ku Enden Komariah, dititah diuk dina korsi deukeut ranjang. Bi Aminah nyampeurkeun.
"Bi," cek Enden Komariah.
"Kumaha Enden ?"
"Kitu sihoreng nya, ari robah-robahna kaayaan di dunya ?"
"Naha kumaha kitu ?" tembal bi Aminah.
"Enya, .......... saperti kaayaan awak kuring, kuring sorangan henteu nyangka bakal pinanggih jeung katunggaraan hate anu peurih pisan karasana, anu nungtun atawa ngalantarankeun [ 109 ]kana ruksakna jasad nepi ka kieu buktina.
Mun teu salah ti sainget kuring mah acan ngarasa gering. Pang kitu teh ku kuring sorangan kaharti, lantaran hirup kuring salilana make aturan; dahar, sare, mandi aya waktuna sarta aji-aji pangraksa kasehatan tara dilalaworakeun. Ari ayeuna, ...... kuring gering anu sakieu ripuhna, anu bisa jadi ngalantarankeun kana pondokna umur. Lain kuring sieun paeh, tapi ....... aduh bi .......’’ Enden Komariah eureun nyaritana bari meungpeunan beungeut ku leungeunna.
Sanggeus ngumbar cipanon, pok deui Enden Komariah nyambung caritana: ’’Ari panyana teh bareto mah bi, kasenangan kumelendang di alam dunya teh cukup ku rea duit wungkul, ngeunah dahar ngeunah make, sagala kahayang kasorang. Sihoreng henteu kitu .......... sarta ayeuna ku kuring sorangan karasa, yen dunya barana teh dina hiji waktu taya gunana sama sakali. Karereaanana jelema nyangka, yen dunya barana teh bisa dipake tumbal pikeun ngalaksanakeun sagala rupa kahayang. Ibu jeung apa ku anjeun geus ngagunakeun eta tumbal supaya panyakit kuring tereh cageur, ku ngayakeun pangbibita, saurna upama kuring cageur rek dipangmeulikeun kongkorong, suweng jeung rea-rea deui.
Padahal bi naon gunana kongkorong atawa suweng keur kuring, naon gunana kamulyaan jeung kagindingan upama .......... Maman anu ku kuring dipikanyaah, hirupna kadungsang-dungsang.
Kuring bisa hirup henteu jeung dunya barana, kuring bisa hirup henteu jeung kamulyaan, tapi kuring henteu bisa hirup upama henteu jeung Maman!
Emh, Maman, karunya teuing ditundung teu boga dosa! Teungteuingeun ibu, teungteuingeun apa, teungteuingeun kang Sukardi !’’
’’Enden,’’ cek bi Aminah,’’ ulah kitu Enden, sanajan di pengkereun oge teu kenging kitu ka sepuh mah.”
’’Henteu bi, kuring henteu mikangewa ka ibu nya kitu deui ka apa, tapi kuring mah ngewa soteh kana talajak aranjeunna anu telenges, tega nundung ka kang Maman, anu teu tuah teu dosa.’’ [ 110 ]Beuki lila kuring beuki ngarasa, hirup teh euweuh nu mikanyaah; anu matak kahayang mah geura pundut bae umur kuring ku Nu Kagungan ..........’’
’’Eulis, sing emut eulis, istigpar anggur, ulah sok sasauran anu teu pararuguh. Moal enya make teu aya nu mikanyaah, kapan ibu sareng rama sakitu dagdag-degdegna, eulis teu damang teh. Ngala dokter parantos sababaraha urang, pang sakitu teh teu aya sanes mung supados eulis tereh damang.’’
’’Mun nyaaheun ge tangtu kahayang kuring dilaksanakeun !’’
’’Palay naon eulis teh ?’’
’’Minggu tukang kuring geus nyarita ka ibu jeung ka apa, hayang dipangneangankeun Maman, tapi aranjeunna kalah bendu ka kuring ...........’’
’’Ku emutan, upami ayeuna eulis unjukan deui, tiasa jadi kapalay eulis tea dilaksanakeun ku ibu rama.’’
’’Ah, keun bae bi .......... isin.’’
’’Kenging upami ku bibi bae diunjukkeun ?’’
’’Teu perlu bi, da sanajan diunjukkeun oge jauh pangharepan kana bisa papanggih deui. Puguh ari kahayang mah, memeh paeh teh hayang papanggih heula sakeudeung mah, tapi kawasna moal bisa. Ngan muga-muga bae di aherat bisa patepung ..........’’
Bi Aminah ngalimba ngadenge Enden Komariah kapati-pati ku buah-hatena. Duka naon lantaranana, da ngan ka bi Aminah bae Enden Komariah mah tara asa-asa nyaritakeun pangeusi sanubarina teh.
Upama ngingetkeun kana kabelana bi Aminah nu enggeus-enggeus, henteu matak heran upama ayeuna, dina waktu Enden Komariah gering, pohara dagdag-degdegna, kawas indung ka anak bae.
’’Bi, geura sare; bisi geus tunduh.’’
’’Teu sawios ...........’’
Enden Komariah geringna beuki parna bae. Ibu-ramana geus beak dengkak ihtiar, tapi taya hasilna. [ 111 ]XVI. BUDI
"Ti mana Cep ?" cek juragan Pansiun.
"Wangsul ti kantor pos," tembalna bari gek diuk dina korsi.
"Tas naon?" ceuk juragan Istri.
"Wangsul ngabantun artos ti Postspaarbank."
"Na duit keur naon?"
"Kanggo ongkos nyaba ......"
"Nyaba? Nyaba ka mana?"
"Sakalian bae atuh bade unjukan," tembal Sukardi. "Upami teu aya wagelan, dinten enjing abdi bade nyaba."
"Ke, ke, na asa teu gugur teu angin teuing, aya perlu naon jeung rek ka mana nyaba teh?"
"Hayang ngajajah tanah Pasundan, malah upami katimbang perlu bade teras ka Jawa-Tengah atanapi Jawa-Wetan."
"Jadi duit ti pos-separbang teh rek dipake ongkos nyaba ?"
"Sumuhun, manawi cekap."
"Na ari Didi sok anu lain-lain lalampahan teh. Kapan kudu digawe jeung Komariah gering sakitu parnana. Piraku tega ninggalkeun ?"
"Perkawis padamelan, tadi enjing-enjing abdi parantos perlop ........ Dupi margina nu mawi hayang nyaba, ku jalaran abdi teu kaduga ningal Komariah. Jadi sayaktoşna abdi mios teh teu aya sanes mung kangge kapentingan Komariah, mudah-mudahan tiasa katulungan."
"Jadi maksud Didi teh rek neangan tamba ?"
"Kenging oge disebatkeun kitu. Nanging saayeuna teu acan tiasa nangtoskeun kitu-kieuna, teu acan tiasa nangtoskeun ka mana-manana, bade nuturkeun indung suku bae."
"Enya, tapi ari indit-inditan mah kudu aya nu diseja jeung kudu aya nu dimaksud."
"Anu dimaksad tadi ku abdi parantos disanggemkeun wungkul kangge kapentingan Komariah. Hartosna abdi bade lumaku teh ku margi hayang ngabelaan Komariah, mudah-mudahan tiasa kabelaan. Ihtiar naon anu ku abdi bade dilampahkeun, teu acan [ 112 ]tiasa nangtoskeun, da mung nembe karaos perluna bae, numutkeun wirasat, abdi teh kedah ihtiar.’’
’’Sukur atuh kasep ari kitu mah, heg didoakeun ku embi sing hasil pamaksudan. Da embi teh ku nenjo sare’at si Nyai geus pantar kitu, dokter-dokter taya nu bisa nulungan, geus kumaha mah! Iraha rek indit ?’’
’’Enjing upami teu aya wagelan mah.’’
’’Heug kasep didoakeun ku embi.’’
’’Nyuhunkeun hibarna bae.’’
Subuh keneh Sukardi geus hudang. Papakeanana bawaeun nyaba geus ti kamari keneh dikana-koperkeun.
’’Sabada dangdan, nyelang heula nepungan Enden Komariah.
’’Enden,’’ cenah, ’’doakeun engkang rek nyaba.’’
’’Bade angkat ka mana?’’
’’Ka mana bae dikersakeunana ku Pangeran.’’
’’Pan abdi udur keneh .........’’
’’Engkang nyaba teh wungkul keur kapentingan Enden.’’
’’Nuhun atuh upami kitu mah, mugi-mugi bae tinekanan sapamaksadan engkang .........’’
’’Mangga atuh Enden, engkang bade mios meungpeung enjing keneh.’’ Sukardi ngasongkeun leungeunna, ngajak salasaman.
’’Wilujeng angkat,’’ tembal Enden Komariah.
Bray Sukardi mukakeun panto, ngalieuk heula sakeudeung ka nu gering, leos indit. Sanggeus pamitan ka juragan Pansiun istri-pameget, clak kana motor.
’’Dido’akeun ku embi sing pinanggih jeung karahayuan,’’ cek juragan Pansiun istri, cumalimba.
’’Weleh engkang mah teu ngarti,’’ cek carogena, ’’na rek naon cenah Didi teh?’’
’’Urang antos-antos bae,’’ tembal geureuhana.
Caturkeun anu keur lumaku.
Memeh ka mana-mana, nepungan heula ibu-ramana ka Tasik. Ti Tasik terus ka Ciamis. Ti dieu ka Sumedang, kebat ka Cirebon.
Cindekna, meh unggal tempat bae dieureunan. Malah di kota-kota nae galede mah sok ngahaja nganjrek, aya sapeuting aya dua peuting, kumaha perluna bae. [ 113 ]Neangan naon?
Teu aya lian ngan rek neangan ’’ubar’’ anu matih anu bisa nyageurkeun kana panyakitna Enden Komariah.
Sukardi geus nyahoeun yen Enden Komariah teh geringna lantaran kabungbulengan ku Maman, buah-hatena.
Sukardi ngabogaan kapercayaan, Enden Komariah teh picageureunana kudu ’’diubaran’’ ku Maman, da ku dokter mah geuning kalah beuki parna bae.
Kitu sababna anu matak Sukardi indit ti Cimahi, ngalalana ngajajah tanah Pasundan, maksudna taya lian ngan rek neangan Maman!
Sukardi ngarasa dosa, lantaran geus megatkeun tali-cintana dua nonoman anu keur silih asih, geus megatkeun duriat Enden Komariah ka Maman anu memang teu beunang dipegatkeun !
Sukardi teh puguh bae ari cinta mah ka Enden Komariah, tapi sanggeusna ngadenge ti Enden Komariah sorangan, yen Enden Komariah teu cinta ka manehna lantaran duriatna geus tamplok ka nu sajen, manehna ngaragap angen sorangan, hatena ngaleketey teu tega nenjo Enden Komariah anu boa nepi ka hanteuna, lantaran kabungbulengan ku Maman!
Ras deui manehna inget ka Maman anu geus teu indung teu bapa, ditundung tina jero kasenangan, lantaran dipitenahkeun ku manehna, sanajan geus menta dihampura sarta jangji moal deui-deui.
Ku Sukardi kacipta, ari ku ditundung kitu, bisa jadi ku Maman teu sakumaha dipake sedihna, tapi paturay jeung buah-hatena anu tangtu beurat. Malah boa kaayaanana oge moal beda ti Enden Komariah.
Upama ninggang di lalaki sejen, bisa jadi kieu ingetanana teh: "Ka aing geus nampik, mangsa bodo teuing ..........’’
Memang henteu mustahil, malah boa karereanana kitu upama ditampik teh, sok malik ngewa malik ceuceub. Tapi Sukardi mah henteu kitu, lantaran mulya tur jembar hatena.
Manehna henteu ngewa ka Enden Komariah sapedah cintana henteu dilayanan, nya kitu deui henteu ngewa atawa sirik ka [ 114 ]Maman sapedah dipicinta ku Enden Komariah.
Tadina Sukardi nyaah, asih, deudeuh ka Enden Komariah teh ku perbawana duriat jeung kabarayaan.
Ari ayeuna nyaah, asih, deudeuh ka Enden Komariah, lantaran duriatna ka Maman teu bisa kalaksanakeun !
Kitu sababna anu matak poho kana pagawean, poho kana ka cape teu ngingetkeun gede ongkosna, manehna indit apruk-aprukan neangan Maman. Tapi .......... weleh teu kapanggih.
Sa-Pasundan geus meh kaider !
Di unggal-unggal kota anu galede, anu aya surat kabar, sok ngamuatkeun bewara, susuganan aya nu manggihan Maman, malah potretna oge sok sakalian dimuatkeun. Keur ka Maman sorangan sok nulis kieu dina surat kabar:
- Maman!
Akang ayeuna aya di ..... Geus sababaraha poe apruk-aprukan neangan Maman. Di mana Maman teh ? Buru-buru nyuratan ka akang, engke ku akang dipapagkeun.
Kom gering, saban poe saban peuting euweuh deui nu dipicangcam ngan Maman. Basana memeh ninggalkeun teh hayang papanggih heula jeung Maman.
Akang S. adres......
Ku urang tangtu kama'lum, henteu saeutik Sukardi ngawur-ngawur duit,. nya dipake ongkos nyaba, nya dipake mayar bewara dina surat-surat kabar. Tapi weleh bae Maman acan kapanggih.
Sukardi nyangka bisa jadi Maman teh geus sah ti dunya. Tapi ingetanana acan cukup keneh bae, Meakkeun kapanasaran, ku manehna rek diasruk ka lembur-lembur anu singkur.
Paingan aya babasan kolot: Lamun temen tinemenan, maksud tinekanan. Lila-lila mah Maman kapanggih, kieu mimitina:
Waktu Sukardi neruskeun lalampahanana ka Pagelaran, di sisi jalan eureun heula ngareureuhkeun kacape. Manehna ngiuhan handapeun tangkal johar bari nyawang kebon enteh anu [ 115 ]kakara dipangkas. Di beh kiduleun kebon enteh tea aya nu keur ngagecruk bae macul di kebon. Tuluy ku manehna dideukeutan, bari ditanya kieu: "Ku getol kang macul teh, rek melak naon ?”
"Kumaha engke bae," tembal nu macul teh bari jongjon bae ngulangkeun doran.
"Kang,” cek Sukardi, "coba ka dieu sakeudeung rek aya nu ditanyakeun !”
”Ti dinya wae atuh, da kakuping !”
”Ka dieu sakeudeung !”
”Upama kuring anu boga kaperluan, tangtu kuring datang ka anjeun !”
”Sakeudeung wae kang, moal lila, aya nu rek ditanyakeun ! Sing ngaraskeun bae atuh, kapan jeblog !”
"Ulah rurumpaheun ka kebon atuh upama sieun ku jeblog mah !”
”Na jelema bedegong-bedegong teuing,” cek Sukardi dina jero hatena, "asana bangsa aing mah tara aya nu bedegong kitu.” Kapaksa Sukardi nyampeurkeun ka nu macul tea, sapatuna bebelesekan kana tai pacul.
Nu macul teh eureun. Barang geus deukeut ngan gabrug bae dirontok ku Sukardi: "Maman, Maman,” omongna, "teu sangka, silaing teh geuning aya di dieu !”
Maman jongjon bae teu lemek teu nyarek. Katembong siga teu reuwas atawa heran.
"Man,” Sukardi neruskeun caritana, “kacida teu sangkana silaing aya di dieu, keur macul di kebon anu sakieu legana, jauh ka ditu jauh ka dieu. Dewek geus ka mana-mana neangan, tapi weleh teu kapanggih. Ayeuna ku pangersana Pangeran bisa diamprokkeun jeung silaing di dieu, di tengah kebon. Kacida teu sangkana teh ! Emh, Man, karunya teuing, milik silaing teh nepi ka kieuna ?”
"Di,” Maman nembal. ”Silaing teu kudu mangkarunyakeun ka dewek, ari lantaranana hirup dewek ayeuna Jeuwih senang ti batan hirup bareto, waktu babarengan jeung silaing ........." [ 116 ]’’Ah, teu bisa jadi !’’
’’Rek percaya rek hanteu, mangsa bodo, da ku dewek mah karasa bedana !’’
’’Sukur lamun enya mah kitu, tapi dewek kacida ngarasa sedihna, nenjo kaayaan silaing ayeuna.
’’Sedih lain dina tempatna !’’
’’Lantaran ?’’
’’Lantaran silaing nyangka, hirup dewek ayeuna leuwih sangsara, leuwih cilaka ti batan bareto waktu reureujeungan jeung ilaing, tur saenyana mah sabalikna pisan ti sangkaan silaing tea. Benerna silaing kudu milu atoh, lantaran hirup dewek jeung doran pacul leuwih senang ti batan jeung gagang kalam.’’
’’Enya, tapi ........ ku nenjo sare’at silaing kieu oge, awak hideung kapoe, kesang luutleet lantaran digawe beurat, geus mere bukti yen silaing teh lain aya dina tempat kasenangan.’’
Silaing anu tacan ngarasakeun hirup kieu, tangtu ngabogaan sangkaan yen hirup senang teh ku lantaran cicing di gedong, papakean beresih, dasi ngambay, suku disapatuan, unggal peuting lalajo bioskop, momotoran momobilan. Tapi dewek anu geus ngarasakeun bedana, henteu bisa nyébutkeun yen hirup kawas ayeuna teh leuwih hina atawa leuwih teu senang ti batan hirup dewek bareto. Sare’at, teu beunang dipake ukuran ; upamana bae : hiji bupati anu katembongna hurung nangtung siang leumpang, cicingna di gedong anu ngajengleng agreng, dipunjung-punjung disembah-sembah, acan tangtu leuwih senang hirupna ti batan hiji marhaen anu papakeanana rubat-rabet, imahna butut, anu daharna paling untung jeung beuleum peda.’’
’’Bisa jadi kitu, tapi naha atuh rea marhaen anu kabita ku kamulyaanana menak, rea cacah anu hayang jeneng, mana kitu oge tangtu anu kasebut pandeuri leuwih mulya, leuwih senang hirupna ti batan marhaen tea.’’
’’Ah eta mah lain hiji bukti anu netelakeun yen kitu, tapi kajurung ku napsu jeung kabiasaan manusa, sok kabitaan ku milik batur, sedeng milikna sorangan teu ditarimakeun. Ku dewek geus karasa, kani’matan jeung kasugeman teh timbulna ku [ 117 ]tumarima. Geura bae upama urang dahar, sanajan rea deungeunna, tapi lamun teu ditarimakeun, moal pinanggih jeung kani’matan. Henteu cara ari ditarimakeun, sangu beureum karo uyah oge, pohara ni’mitna teh !’’
’’Ah, silaing mah bet kateterusan, tembal Sukardi, Naha katerangan silaing bieu teh henteu nyulayaan tina buktina ?’’
’’Sulaya ? Teu bisa jadi !’’ cek Maman:’’dewek ngarasa sungkan nyorang deui hirup saperti katukang-tukang, waktu dewek cicing di juragan Pansiun, waktu hirup ’’hurung nangtung’’ diurus ku batur. Ayeuna kakara dewek bisa ngarasakeun kasugemaan hirup, senang ngahenang-ngahening, anggang tina rupa-rupa kasusah. Balik digawe ti kebon, mandi, bada mandi dahar sangu beureum karo sambel oge pohara ni’matna teh. Sare, dina samak saheulay, karasana leuwih tibra batan dina kasur make kulambu. Silaing bisa jadi teu percaya, tapi ku dewek mah karasa.’’
’’Sukur lamun silaing pinanggih jeung karugemaan mah. tapi sanajan kitu, silaing ayeuna kudu balik jeung dewek ka Cimahi.’’
’’Balik?’’
’’Enya balik. Dewek indit ti Cimahi geus aya puluhan poe, cul kana naon-naon, poho di kacape, neangan silaing ............’’
’’Neangan dewek ? Asa mararodel teuing, naha kurang puas keneh ?’’
’’Cing Man, ulah susungkunan kitu. Kalawan asmana kamanusaan, ayeuna silaing kudu bareng jeung dewek balik ka Cimahi.’’
’’Kudu ? Silaing tangtu ngarti Di, saha-saha oge euweuh anu bisa maksa ka dewek. Tadi ku dewek geus diterangkeun ka silaing, yen dewek di dieu teh keur aya dina kasugemaan » jadi silaing ulah boga sangkaan, yen dewek bakal atoh diajak balik ka Cimahi. Babakuna anu ku dewek dipake beurat teh nya eta : hirup kumbuh di kampung. Urang kampung hirupna sauyunan, sapapait samamanis, taya luhur taya handap, tara silih pikangewa, tara hiri dengki jail kaniaya ka papada kaula. Mun boga rejeki silih kirim, dina aya kasusah silih belaan. [ 118 ]Panghina ti papada jelema langka kajadian. Di kota, urang mindeng ngadenge rupa-rupa pitenah, tapi di kampung mah beunang disebutkeun teu aya sama sakali.
Jadi ku sabab kitu, sanajan kumaha oge alesanana, dewek moal milu ka silaing ! Pangaku, tangtu ku dewek ditarimakeun ..............’’
’’Talajak dewek bareto ku silaing dianggap hiji pitenah, taya halangan naon-naon, tapi kalawan asmana kamanusaan, dewek menta kalayan sanget, muga silaing ngalaksanakeun kana pamenta dewek tea.’’
’’Meunang silaing nyebutkeun kalayan asmana kamanusaan atawa kalayan asma naon bae oge, tapi dewek dina waktu-waktu ieu acan ngarasa perlu ingkah ti dieu, lamun taya hal anu maksa atawa hal anu kacida pentingna, Babakuna mah dewek teh embung nincak deui tempat-tempat anu rea pitenah .........’’
’’Man, silaing mah siga anu masih keneh kanyenyerian bae.’’
’’Kanyenyerian ? Henteu Di, euweuh nu jadi lantaran kanyenyerian. Silaing sorangan nyaho, sanajan dewek boga gawe tapi dewek teh beunang disebut ngamangandeuh di juragan Pansiun. Jadi dewek ditundung teh taya bahanna pikeun nyeri atawa sedih, malah muji sukur, lahirna ka juragan Pansiun, batinna ka Gusti Nu Mahasuci, lantaran dina sakitu taun geus diurus ku anjeunna, Katurug-turug dewek mah ditundung soteh, lantaran tamaha sorangan ..........’’
’’Enya, tapi dewek ayeuna nyaho, silaing teu boga dosa.’’
’’Perkara dewek boga dosa atawa henteu, ku dewek teu dipikir panjang, sabab dewek inget, yen jalma mah ngan darma wawayangan. Jadi sanajan dewek nyaho, yen silaing nya kitu deui juragan Pansiun uningaeun dewek teu boga dosa, henteu matak ngajadikeun kabungahan ka dewek sarta moal matak jadi panarik ka dewek pikeun balik deui ka Cimahi. Naon perluna ? Unggal jelema kasenangan nu diteangan. Dewek hirup di dieu leuwih senang, leuwih sugema, leuwih lugina, leuwih tiis ceuli herang mata ti batan jaman hirup ’’memenakan.’’
Ku Sukardi kaerong, bisa jadi Maman moal daekeun diajak [ 119 ]deui balik. Dipaksa tangtu moal bisa, da lain budak. Tidinya pok deui manehna nyambung carita: "Kajeun Man ari embung mah, moal maksa, tapi piraku sugan silaing teu bisa ngalaksanakeun pamenta dewek .........."
"Pamenta nu mana?"
"Kahayang dewek, luhurna 3 poe, handapna sapoe, silaing milu ka dewek, engke ku dewek dianteurkeun deui ka dieu."
"Na aya urusan naon, nu matak keukeuh-keukeuh teuing?"
"Dewek teh boga adi anu nyawana meh paturay jeung raga."
"Adi silaing nu mana?"
"Anu di Tasik tea, ayeuna aya di Cimahi."
"Kumaha patalina jeung dewek?"
"Manehna gering payah........."
"Naha teu manggil dokter, kapan dokter rea."
"Ngala dokter mah geus sababaraha urang, tapi taya nu bisa nyageurkeun. Dewek percaya, sanajan silaing masih keneh ambek ka dewek ku lantaran perkara anu geus kaliwat tea, tangtu silaing moal sungkan nulungan atawa ngabelaan adi dewek anu saeutik pisan pangharepan kana bisa senyat deui."
"Teu ngarti dewek mah," tembal Maman bari gogodeg. "Di, silaing nyaho dewek lain dokter. Urusan ngubaran nu gering lain bagian dewek. Silaing nyaho, kabisa dewek mah ngan ukur ngulangkeun pacul, Kahayang dewek, silaing ulah ngaheureuykeun ka dewek, kena-kena dewek geus pantar kieu."
"Man, dewek nyarita lain lulucon."
"Lamun lain ngaheureuykeun, naon perluna nyarita kitu, eta mah sarua bae jeung nitah nyieun surat ka nu teu bisaeun nulis."
"Dengekeun geura Man: dina hiji waktu dewek meunang pituduh, cenah anu pibiaseun nyageurkeun adi dewek teh nya silaing pisan. Dewek nyaho, memang silaing lain dokter, tapi sanajan kitu, piraku silaing teu ngalaksanakeun kana pameredih dewek sakitu. Hanas cageur henteuna, eta mah gumantung kana pangersa Pangeran."
"Atuh upama kitu mah pasrahkeun bae ka Pangeran." [ 120 ]"Enya ari ku kitu tea mah, tapi urang teh kapan kudu ihtiar. Dewek teh keur ihtiar, anu matak ayeuna apruk-aprukan oge. Moal panasaran ari geus beak ihtiar mah. Tah ayeuna minangka ihtiar panungtungan. Ku sabab kitu, cing Man tulungan, pangnempo-nempokeun .........."
Maman ngahuleng, teu lila pok manehna ngajawab kieu: "Heug Di ari keukeuh-keukeuh teuing mah, tapi nya kitu, moal bisa lila, lantaran ku silaing kanyahoan, ieu pigaweeun anu sakieu legana, acan kapigawe tengah-tengahna acan. Panglilana oge ngan bisa sapeuting, isukan kudu geus balik deui."
"Sukur Man, sukur, sugan bae jadi lantaran kana cageurna adi dewek tea. Hayu atuh geura sasadiaan, di mana imah silaing teh?"
"Ditu di beh kidul," tembalna bari leumpang manggul pacul. Clak tarumpak motor. Maman diukna dina gandengan bari nyekelan doran pacul. Henteu kungsi 5 menit geus datang ka imah Maman. Saenyana lain imah Maman, nya eta imah anu dipatuhan ku Maman. Imahna rada jolok ti jalan, atuh kapaksa kudu laleumpang. Ari motor mah ditunda bae di jalan.
Urang caturkeun gancangna bae, sanggeus mandi rap Maman dangdan, make samping pelekat, baju jas tutup bodas, dikerepus buludru. Ku Sukardi dititah make papakeanana, da mawa sababaraha setel, tapi teu daekeun basana: "Patani mah sakieu oge geus ginding teuing."
Sanggeus pamitan, jung arindit. Clak kana motor, belesat motorna dilumpatkeun tarik pisan, nuju ka Cibeber ............... [ 121 ]XVII. ’’KANG MAMAN ..........’’
Ku lantaran aya karuksakan mesin, pukul 7 peuting kakara daratang ka Cimahi.
Maman dibawa heula ka papilyun. Kacida ngahelasna waktu manehna nenjo urut kamarna anu kaayaanana tacan sakumaha robahna ti sajungna ditinggalkeun ngalalana, malah buku-buku mah masih keneh bae numpuk dina meja beunang meungekut.
Sanggeus ngampihkeun motor, kakara Sukardi nepungan juragan Pansiun. Maman mah dititah ngareureuh heula di papilyun. Ti luar keneh Sukardi ngadenge nu ceurik. Manehna jalan ka tukang, da tangtu keur araya di pangkengna Enden Komariah. Memeh mukakeun panto kamar, geus teu puguh rarasaan, lantaran ngadenge anu keur careurik tea, moal boa keur nyeungceurikan Enden Komariah.
Bray manehna muka panto lalaunan pisan, Sihoreng juragan Pansiun istri jeung bi Aminah anu keur careurik teh. Juragan Pansiun pameget keur galuntreg bae sasauran jeung dokter ti Bandung.
’’Didi,’’ cek juragan Pansiun, ’’tah diuk di dinya dina korsi !’’
Sukardi munjungan ka pamanna, nya kitu deui ka dokter tea.
’’Tah geuning Didi datang,’’ cek juragan Pansiun istri. ’’Kumaha kasep, geura itu bireungeuh si Eulis .......... geus pantar kitu ..........’’
Sukardi nyampeurkeun ka nu gering. Nenjo kaayaan Enden Komariah anu keur ngalempreh teu usik teu malik beungeutna sepa, panonna celong, teu kaampeuh deui, curucud bae cipanonna bijil.
’’Nden, Nden,’’ cek Sukardi ngomongna lalaunan, ditompokeun ka nu gering. Tapi Enden Komariah mah jongjon bae peureum.
Gek deui manehna diuk dina korsi.
’’Kumaha pamendak juragan ?’’ cek Sukardi ka dokter, ngomongna ku basa Walanda.
’’Ulah dikantunkeun bae dina wengi ieu mah. Kasawatna [ 122 ]parantos teu kinten repotna. Pribados parantos seep ihtiar, sagala tarekah parantos dijalankeun, namung teu aya tulungna. Kasawatna teh dilantarankeun ku nguluwut manah, malah tiasa oge disebut kalelehan ............."
"Teu nyangka puguh emang oge," cek juragan Pansiun, cumalimba, "ari nu Kapicangcam teh taya deui ngan Maman. Emang geus nitahan ka sababaraha urang, nitah dipangneangankeun Maman, tapi taya hasilna."
"Ari Didi meunang naon ti panyabaan teh?" cek juragan Pansiun istri, "teu papanggih jeung Maman?"
"Maman, ........ kang Maman, abdi antosan ........" Enden Komariah sasambat. "Bu, mana kang Maman teh parantos sumping?"
"Acan eulis, ke sakedap deui oge sumping," tembal ibuna.
"Panuhun ka sadayana," cek Sukardi, "mugi kersa angkat heula ti dieu, kantunkeun bae nu udur mah. Abdi keningg landong, mudah-mudahan bae tiasa nulungan. Mangga dikantunkeun bae, margi numutkeun nu masihan pituahna dilandongkeunana teh kedah paduduaan."
Sanggeus nu gering pada ninggalkeun, Sukardi lumpat ka papilyun neang Maman.
"Di," cek Maman, "naha apan ieu mah kamar ceu Komariah?"
"Enya, kapan di dieu nu gering teh."
"Tapi Di, na kumaha ngubaranna, da dewek mah teu bisa."
"Ah, sok rea carita, dicabak-cabak," tembalna bari mukakeun panto.
Bus arabus ka kamar.
"Geuning siga ........?" Maman ngarandeg, beungeutna pias, bawaning ku reuwas.
"Kang Maman ........ abdi antosan ........" Enden Komariah sasambat deui bari nyuuh kana anggel. "Bu, mana kang Maman teh parantos sumping?"
"Man," cek Sukardi, geuwat buru, "da ngan silaing sorangan nu bisa nyageurkeun teh!" Leos bae manehna mah ka luar, tuluy ka papilyun. [ 123 ]Maman sajongjongan mah, ngahuleng bae bari nangkeup harigu. Tidinya kalawan teger, tuluy manehna ngadeukeutan ka nu gering, gek diuk sidengdang dina kasur. Nu gering teh dipelong bae meunang sajongjongan mah. Manehna teu nyangka Enden Komariah buah hatena, awakna jadi sakitu ruksakna. Leungeunna dicekel lalaunan, karasana kacida tiisna, mani camewek.
’’Bu, mana kang Maman teh ?’’ samarukna nu nyekel leungeunna teh ibuna.
Maman diukna ngised ka tengah bari dongko ngadeukeutan nu gering.
’’Jungjunan, Komariah, buah hate engkang, apan ieu engkang teh ..........’’
Enden Komariah malik, bray beunta, breh Maman anu kapicangcam teh katembong bungkeuleukanana geus aya di hareupeun.
’’Engkang ...........’’
"Enya engkang ..........’’ tembal Maman bari ngarangkulan ka nu gering, dek biwirna diadu.
"Engkang, panyana teh moal tepang deui ..........’’ cek Enden Komariah bari sumegruk ceurik.
Maman nembalanana bari ceurik.
’’Anu geulis jantung ati, pupunden dunya aherat, deudeuh teuing buah hate, teu nyana teuing teu nyana, bakal kieu temahna, kaduhung teuing dikantun, ku engkang henteu dibawa.
Anu geulis jantung ati, mun terang bakal kieu mah, belaan kumaha bae, tangtu ku engkang diajak, kajeun teuing sangsara, kaduhung teuing kaduhung, hanjakal indit nyorangan.
Anu geulis jantung ati, duh deudeuh teuing panutan, da lain tega engkang teh, indit lantaran kapaksa, rama taya hampura, engkang ngadadak ditundung, estu taya tempo pisan.
Anu geulis jantung ati, sihoreg gede duriat, panyana teh engkang bae, boro engkang kajongjonan, mun terang henteu damang, tangtu engkang enggal wangsul, isin-isin ge wayahna.
Anu geulis jantung ati, deudeuh teuing nyawa engkang, [ 124 ]eulis geura damang bae, da jeung engkang geus patepang, ulah kateuasan, hawartos ka rama ibu, kilangbara ka engkang mah.’’
’’Ulah ngantunkeun deui atuh ka abdi.’’
’’Piraku panutan, da kapengker oge ngantunkeun soteh kapaksa.’’
’’Parantos tepang sareng apa ?’’
’’Teu acan.’’
’’Saha nu milari ka engkang ?’’
’’Kapan kang Sukardi.’’
’’Ka mana ayeuna ?’’
’’Bieu ti dieu, ka papilyun manawi.’’
’’Emh, ku sae manah ..........’’
Lir upama kembang anu geus layu seger deui, nya kitu pisan kaayaanana Enden Komariah sanggeus datang Maman. Beungeutna getihan deui, panonna cekas, paromanna marahmay ngomong capetang, da cacakan awakna henteu begang mah, cek saha bae gering.
’’Engkang teh angkat ka mana, apa mani parantos weleh milari ?’’
’’Sakaparan-paran bae eulis ...........’’
’’Tepang di mana sareng kang Sukardi ?’’
’’Di Pagelaran. Keun, engke deui bae ari salse urang dongengkeun lalampahan engkang ........’’
’’Dug atuh kulem bilih parantos palay mah,’’ cek Enden Komariah bari muntangan ka Maman.
Henteu hese, goleah bae Maman kana anggel, malar hatena nu gering senangeun.
’’Parantos sabaraha dinten teu damang teh ?’’
’’Sabaraha dinten? Ti barang engkang angkat ........’’
’’Deudeuh teuing .........’’
’’Engkang bae harianeun, angkat henteu ngawartosan heula.’’
’’Ari nu matak teu ngabejaan heula tea mah lantaran engkang nyaah ka eulis .........’’
’’Aya andar nyaah ninggalkeun.’’
’’Eulis uninga, engkang mios ti dieu teh ditundung ku apa, [ 125 ] jadi kenging disebatkeun kacilakaan kangge engkang. Upami eulis ngiring ka engkang, hartosna eulis oge cilaka, cilaka kababawa ku engkang ............’’
’’Nanging upami abdi ngiring ka engkang, teu acan tangtos kieu.’’
’’Boa langkung cilaka eulis ......... Parantos bae entong ngemut-ngemut nu parantos kalangkung, da ayeuna mah kapan parantos tepang deui sareng engkang.’’
Maman cengkat lantaran di luar ngedenge aya nu cacarita.
’’Teu sawios engkang da moal kitu-kieu apa ge.’’
Teu lila ibu-rama Enden Komariah arasup.
’’Bu, dongkap kang Maman teh,’’ cek Enden Komariah, tembong paromanna marahmay.
’’Sukur eulis, geura cageur atuh ayeuna mah, da kang Maman geus sumping.’’
Maman munjungan ka juragan Pansiun istri pameget.
’’Kumaha cageur ?’’ cek juragan Pansiun.
’’Aya hibar,’’ tembalna bari tungkul.
’’Heug geulis, geura cageur ayeuna mah,’’ cek ramana semu kacida bungahna, ningali putrana beungeutna geus getihan deui. Pasemonna marahmay, ngomongna tetela.
Juragan Pansiun istri mencet bel, teu kungsi lila bi Aminah nyampeurkeun.
’’Nyadiakeun tuangeun keur Gan Maman, bawa ka dieu bae, di dieu masangna dina meja.’’
’’Di ditu bae dina ranjang, baturan Komariah,’’ cek juragan Pansiun pameget, barang anjeunna ningali Maman rek pindah kana dipan.
Juragan Pansiun istri-pameget arangkat ka luar.
Sanggeus sadia dahareun, Maman jeung Enden Komariah dahar. Anu sasarina pangreana ngan tilu sendok, ayeuna mah mani meh beak sapiring. Maman oge ponyo pisan daharna teh.
Neng, ..... neng, ....., neng, ..... jam disada sapuluh kali ! [ 126 ]XVIII. GEULANG RANTAY
Tilu bulan ti harita ...............
Ku ihtiarna juragan Pansiun, Maman bisa deui meunang pagawean di salah sahiji kantor di Bandung. Bener oge pangasilanana henteu rea, tapi upama bisa ngeureut miceunna mah bisa oge dipake hirup duaaneun.
Waktu rek dikawinkeun ka Enden Komariah, mimitina mah nolak, basana: mati-mati kawin oge hayang boga heula imah tur pangala geus rada gede meueusan. Tapi cek juragan Pansiun, imah mah tong teuing nyewa atawa meuli, lantaran moal mahi ku duit saeutik, gedong bae eusian, kajeun kolot ngelehan maneh, ngeusian papilyun.
Bubuhan budak nurut, dipetakeun kieu dipetakeun kitu teh henteu mungpang.
Ari prok teh diamprokkeun jeung Enden Komariah, lulus runtut pisan laki-rabina teh, matak ngeunah nenjo anu jadi kolot.
Ka mana ari Sukardi ?
Sukardi mah pindah ka rakana, guru Schakelschool di Bandung, anu anyar dipindahkeun ti Cirebon.
Waktu Maman kawin, daratang jeung rakana ka Cimahi, malah nganteur ka kaum sagala.
Dina waktu pere, Maman jeung Enden Komariah merlukeun nganjang ka Mang Madtarip di Pagelaran, bapa pulung Maman anu mikanyaah, waktu manehna kadungsang-dungsang tea. Geusan pamulang tarima ka bapa pulungna, anakna nu geus umur 14 taun dibawa ka Cimahi, rek diurus. Tadina mah hayang nu leutik keneh, ngan hanjakal teu bogaeun budak leutik.
Dasar budak anu ti leuleutik geus diwarah kana gawe kasar, malah mindeng mantuan macul ka Maman oge, atuh ari dibawa teh ka Cimahi, kacida singerna kana gawe.
Bi Aminah beuki kacida dipikanyaahna lantaran katembong beuki suhud kumawulana.
Hiji sore, bada magrib, Enden Komariah nepungan bi Aminah [ 127 ]Ka dapur. Duka naon sababna, da ari aya kaperluan naon-naon teh tara nyalukan, tapi sok anjeunna ku anjeun nepungan. Kasampak bi Aminah keur ngahayeukan buku anu, kandel.
’’Buku naon eta teh bi ?’’
’’Duka da ti pun Midi, kenging meser sanggemna ti tukang loak. Resep ieu bae bibi mah ningalan gambarna.’’
’’Coba kuring ngilikan.’’
Eta buku dibikeun ka Enden Komariah.
’’Buku naon eta teh Enden ?’’
’’Teu nyaho kuring oge, da basa Inggris.’’
’’Na Enden teu iasa basa Inggris ?’’
’’Henteu, da di sakola Walanda mah teu diajar. Mun kang Maman mah iasaeun,’’ tembalna bari dibukaan diilikan gambarna. ’’Kuring ge rek diajar ari geus sempet mah, lantaran mun aya umur hayang nyaba jeung kang Maman ka Jepang.’’
’’Atoh temen upami bibi dicandak.’’
’’Diajar heula atuh basa Inggrisna,’’ tembal Enden Komariah bari seuri, jung nangtung, ’’Bi di arimah jeung si Midi, kuring rek kondangan heula. Jeung ieu buku diinjeum sakeudeung, nya ?’’
’’Mangga, keur naon bibi mah da teu ngartos.’’
Pukul 8, Maman, Enden Komariah jeung ibu-ramana budal ka Cimahi, kana ondangan.
...................................................................................................................................................................
Isukna, isuk-isuk, waktu Enden Komariah mukakeun lomari papakean, kanyahoan, barang-barang perhiasaanana, emas inten kayaning: kongkorong, suweng, ali, panitih, musna tina tempatna. Eta barang-barang nu leungit teh kabeh anu sore teu dipake ka ondangan. Dihantem dikotektak bisi poho neundeun, weleh teu kapanggih. Hal eta gancang, diunjukkeun ka ibu-ramana. Dihantem diteangan ku tiluan, tapi taya hasilna.
Tetela aya nu maling, waktu ka ondangan tea, da ari nu dipake ka ondangan mah aya, padahal neundeunna teu jauh tina tempat barang-barang nu leungit tea.
’’Tetela eulis aya nu maling,’’ cek ramana. ’’Upama bisa kang [ 128 ]Maman kudu buru-buru bejaan.’’
’’Sae ditelepon bae kitu, pa ?’’
’’Coba we sugan bisaeun permisi sakeudeung.’’
Teu talangke, tuluy bae Enden Komariah ka kamar hareup, rek nelepon ka carogena.
Heuleut satengah jam Maman datang jeung hiji nonoman. Ari eta nonoman teh, Raden Ahmad, Pulisi di Bandung.
Papariksaan mimiti dijalankeun. Saperti biasa bae, memeh ka luar teh mariksa di jero heula kalawan telik. Ku Enden Komariah diterangkeun, kawasna bae asupna bangsat teh antara pukul 8 jeung pukul 12, waktu kondangan tea.
’’Saha nu tunggu bumi nalika arangkat ka ondangan ?’’ cek R. Ahmad.
’’Koki sareng bujang,’’ tembal Maman.
’’Di mana matuhna ?’’
’’Sadayana oge di dieu. Kamarna di dapur. Nanging ari wengi mah di dieu di lebet marondokna teh.’’
’’Cobi urang parios.’’
’’Ah, teu kedah,’’ cek Enden Komariah, ’’abdi percanten sanes manehna.’’
’’Dina perkawis anu sarupi kieu, papariosan anu tetela teu kinten perluna. Jadi teu cekap ku kapercantenan wungkul.’’
’’Kantenan kahartos, namung ku emutan, diparios oge matak nyeepkeun waktos bae.’’
’’Kumaha timbangan juragan ?’’ cek R. Ahmad ka Maman. ’’Upami abdi teu tiasa marios kalayan laluasa, kantenan saeutik pisan pangharepan kana kenging katerangan anu tetela.
’’Teu aya kaabotanana,’’ tembal Maman.
’’Kumaha dupi timbangan juragan ?’’ cek R. Ahmad ka juragan Pansiun.
’’Mangga, naon anu ku Agan katimbang perlu diparios, sumangga parios bae.’’
’’Henteu, teu kedah,’’ cek Enden Komariah ka ramana. ’’Je lemah anu sakitu bumelana ka abdi, mustahil wantun maling barang dunungan!’’ [ 129 ] ’’Namung juragan, kangge ngabereskeun jalanna papariosan, ieu teu kinten perluna. Upami abdi henteu dipasihan kalonggaran kangge ngayakeun papariosan anu lalausa, abdi teu sanggem neraskeun ngusud ieu perkawis.’’
’’Teu langkung atuh,’’ tembal Enden Komariah, bari ngabalieur.
Gancangna papariksaan diteruskeun. Mimiti mariksa kamar si Midi, tidinya terus ka kamar bi Aminah.
Kasampak bi Aminah suwung di kamarna, lantaran keur masak di dapur. Ngadenge nu ribut-ribut, manehna nempo ka luar.
’’Coba ka dieu bi,’’ cek Maman.
Bi Aminah nyampeurkeun, kacida reuwaseunana, tina tara-tara ti sasari, ngabrul-ngabrul ka dapur.
’’Ieu ?’’ cek R. Ahmad.
’’Sumuhun,’’ tembal Maman.
’’Bi,’’ cek R. Ahmad, "waktu juragan arangkat ka ondangan, di mana bibi tunggu ?’’
’’Di bumi, kamar nu pengker.’’
’’Jeung saha ?’’
’’Sareng pun Midi.’’
’’Waktu juragan arangkat panto disosikeun kabeh ku bibi ?’’
’’Kantenan.’’
’’Kumaha jandela ?’’
’’Duka jandela mah, henteu diparios, margi pun Midi anu biasa nutup-nutupkeun jandela mah.’’
’’Basa bibi keur tunggu, si Midi teu ka mana-mana ?’’
’’Henteu, da teras bae ngobrol sareng abdi dugi ka juragan sarumping.’’
’’Jadi bibi jeung si Midi henteu sarare ?’’
’’Henteu.’’
’’Henteu ngadenge nu ngareket mukakeun jandela atawa panto ?’’
’’Teu nguping.’’
’’Waktu juragan sarumping, saha nu mukakeun panto ?’’ [ 130 ]’’Abdi.’’
’’Nyosi keneh ?’’
’’Kantenan.’’
’’Jandela euweuh nu muka ?’’
’’Duka, da teu ditingal.’’
’’Sugan bibi nyaho, si Midi bogaeun kawawuhan urang luar ?’’
’’Duka da teu nitenan.’’
’’Bibi meureun geus nyaho, waktu juragan arangkat ka ondangan, perhiasan juragan Istri aya nu maling tina lomari. Jadi upama lain jelema luar, tangtu anu boga dosa teh bibi atawa si Midi !’’
Bi Aminah olohok bae sajonjoningan mah. Teu lila pok manehna ngomong kieu: ’’Jadi juragan teh nuding ka abdi ?’’
’’Enya,’’ tembal R. Ahmad, ’’saha deui atuh ?’’ Panto jandela disosi, sedeng nu di imah bibi jeung si Midi.’’
’’Jadi juragan teh nyangka abdi nu ngabantunna ?’’
’’Bisa jadi lain bibi nu nyokotna mah, tapi tangtu bibi mere jalan ka jelema sejen pikeun maling eta perhiasan.’’
’’Kenging juragan nyangka kitu, nanging engke kantenan juragan ngaraos hanjakal, reh parantos nyangka ka abdi nu teu gaduh dosa.’’
R. Ahmad seuri ngadenge jawaban bi Aminah teh, lantaran ari keur pulisi mah boh bener boh nyalahan sangkaanana, teu matak hanjakal.
’’Kuring hayang mariksa heula kamar bibi. Cobi itu heula koper buka, hayang nyaho eusina.’’
’’Juragan teu aya hak mariksa koper abdi, sanajan eusina mung ukur papakean butut.’’
’’Tapi lamun bibi bener teu boga dosa, tangtu bibi ngidinan ka kuring pikeun mariksa eta koper, ambeh kuring nyaho eusina, keur ngabuktikeun yen bibi teu boga dosa.’’
’’Sanajan kumaha bae oge, abdi moal ngidinan ...............’’ tembal bi Aminah beungeutna pias.
’’Lamun kitu, tetela bibi nu boga dosa.’’ [ 131 ] ’’Juragan teh pulisi, kantenan uninga, yen kangge netepkeun kalepatan teh kedah sidik bukti-buktina atanapi katerangan-katerangan anu aya saksina.’’
’’Enya anu matak hayang ngabuktikeun tea oge,’’ R. Ahmad beungeutna marahmay, lantaran enggeus cop bae tangtu nu boga dosa teh bi Aminah, sarta anjeunna nyangka tangtu barang-barang nu leungit teh aya dina koperna.
Keur kitu Enden. Komariah nyampeurkeun.
Bi Aminah ngarontok kana suku Enden Komariah bari ceurik: ’’Enden, .......... bibi tulungan, da mung Enden anu nyaah ka bibi teh.’’
’’Ku naon ?’’
’’Enden,’’ omongna lengas-lengis, ’’bibi dituding maling sareng maksa bade muka koper ............’’
’’Keun wae bi nu nuding mah, da kuring mah sagede buuk dibeulah tujuh ge teu percaya, yen bibi nu boga dosa.’’
’’Enden, cing atuh bibi tulungan supados koper bibi ulah aya nu muka.’’ Enden Komariah ngahuleng sakeudeung, teu lila pok ngomong kieu: ’’Nganggo alesan kamanusaan sareng tawis males asih, abdi panuhun kalayan sanget, supados panuhunna bi Aminah dikabul.’’
’’Upami juragan teu ngawidian ngayakeun papariosan, anu cekap,’’ cek R. Ahmad, pasemonna katembong siga rada pusing, ’’kapaksa abdi nunda ieu papariosan dugi ka dieu bae.’’
’’Ieuh, Komariah,’’ cek Maman, ’’engkang teu ngarti, naon sababna anu matak ngahalang-halang jalanna ieu papariksaan ? Bi Aminah nyaram muka koperna, eta geus nimbulkeun hiji sangkaan, yen di jero koperna aya naon-naon anu dirasiahkeun.’’
’’Abdi teu panuju kana talajak nu kumaha bae oge anu sakinten matak ngajaheutkeun hatena bi Aminah. Kilangbara males budi teh kana kabelana, atuh panuhun-panuhunna sakitu-kitu bae mah, dilaksanakeun. Engkang uninga kana kabelana bi Aminah ka abdi anu teu kinten ageungna, dugi ka sesah malesna ..........’’ [ 132 ] ’’Memang bener kitu, tapi dina lebah dieu urang kudu bisa ngabedakeun: urusan papariksaan pulisi jeung urusan budi kamanusaan tea. Papariksaan tara pandang jelema, teu pandang sobat, teu pandang baraya atawa dulur, naon anu katimbang perlu dipariksa kudu dipariksa. Nya kitu deui ka bi Aminah pulisi perlu ngayakeun papariksaan, urang teu kudu ngahalang-halang, komo deui ieu mah da keur kapentingan urang pisan ....................’’
’’Hanjakal dina leresan ieu engkang teu sapamendak atanapi sahate sareng abdi.
’’Engkang oge ngarasa hanjakal. Komariah sarupa anu rek ngahalang-halang kana jalanna kaadilan.’’
’’Nya eta nu mawi abdi panuhun kitu oge, ku margi hayang ngabela kaadilan, Naha kalebet talajak anu adil, upami urang ngajaheutkeun hatena bi Aminah anu parantos kanyahoan belapatina ka abdi ?’’
Maman malik ka R. Ahmad bari ngomong kieu: ’’Mangga bae buka. Panghulag ti pun bojo, tanggelan abdi !’’
Gancangna, R. Ahmad muka koper bi Aminah. Bi Aminah ceurik bari nyuuh, awakna ngadegdeg.
Aya naon di jero koper teh ?
Mimitina R. Ahmad ngaluarkeun papakean hiji-hiji. Dihandapeun papakean aya satumpuk buku. Ieu oge ku-R. Ahmad dikaluarkeun hiji-hiji bari dibukaan, bisi aya nu diselapkeun meureun.
’’Koki juragan rupina terpelajar,’’ cek R. Ahmad ka Maman, ngomongna ku basa Walanda. ’’Ieu buku-bukuna sadayana buku kaweruh basa Walanda sareng basa Inggris.’’
R. Ahmad beuki curiga, sarta beuki gilig sangkaanana teu salah deui, tangtu bi Aminah bangsatna.
Enden Komariah mireungeuh buku-buku anu kacida aralusna tina koper bi Aminah, ngan bengong bae nu aya. Panasaran, anjeunna oge milu mukaan, lain curiga bisi aya barang nu leungit disumputkeun, ngan hayang terang buku naon hiji-hijina. Eta buku kabeh di luarna dicap ku aksara cap, anu unina: Siti Salamah, nu sawareh deui: Suparman. [ 133 ] R. Ahmad nyokot deui hiji dus. Barang dibuka, dieusi parabot ngarenda. Di juru koper beulah kenca, aya dus leutik alus, ti luarna aya marek S. & S., tuluy dibuka.
Naon eusina ?
Geulang rantay, sabeulah !
Eta geulang dicokot ku R. Ahmad, tuluy diasongkeun ka Enden Komariah bari ngomong kieu: ’’Cobi ieu tingali, sanes kagungan nu ical tea ?’’
Eta geulang ditampanan ku Enden Komariah sarta diilikan capna, tetela S.S.
’’Yaktos ieu geulang sarupi sareng gaduh abdi, namung abdi henteu percanten manehna nu gaduh dosa.’’
’’Nanging juragan, .......... ieu hiji bukti !’’
Enden Komariah teu ngawangsul, da puguh sidik eta geulang nu anjeunna.
’’Coba cengkat bi, kuring rek nanya,’’ cek R. Ahmad. Bi Aminah cengkat, panonna rambisak, bari ngomong kieu : ’’Emh, tega Enden mah ka bibi ............’’
Enden Komariah teu ngajawab, ngan cipanonna bae nyalangkrung.
’’Ieu geulang kagungan juragan Istri nu leungit tea, jadi sanajan bibi rek mungkir oge, tangtu moal bisa mungkir, da sidik buktina. Ngan kuring rek nanya, dikamanakeun sawareh deui ?’’
Bi Aminah ngabetem bae bari inghak-inghakan ceurik.
’’Cek ingetan kuring leuwih hade bibi ngaku, sangkan jadi kaentengan kana dosa bibi.’’
Bi Aminah ngabigeug keneh bae, ceurikna beuki tarik.
’’Bibi bareto sakola di mana ?’’ cek R. Ahmad.
’’Henteu sakola ..........’’
’’Bisa maca ?’’
’’Tiasa saeutik-eutikeun.’’
’’Di mana diajar ?’’
’’Diwulang ku Enden.’’
’’Leres ?’’ R. Ahmad malik ka Enden Komariah. [ 134 ] ’’Sumuhun ku abdi dipapatahan.’’
’’Ari itu buku-buku saha ?’’
Ngabigeug deui.
R. Ahmad ngomong ka Maman ku basa Walanda: ’’Emutan abdi, Suparman anu gaduhna eta buku-buku tea, ngayakeun perhubungan sareng ieu koki, sangkan aya jalan kangge ngalaksanakeun kajahatanana. Eta buku-buku rupina dihaja dipihapekeun ka ieu koki. Nanging tiasa jadi ari ngaranna nu leres mah sanes Suparman. Jadi parantos teu lepat deui ieu koki teh parantos ditipu ku si bangsat tea. Manehna ngahaja masrahkeun buku-buku kanggo nyesahkeun jalanna papariosan pulisi ..........’’
Maman ngahuleng bae, tina teu ngarti kana maksudna omongan R. Ahmad tea.
’’Bi,’’ R. Ahmad malik ka bi Aminah, ’’sanajan mungkir kumaha bae oge, bibi moal bisa lesot tina hukuman. Ieu hiji bukti yen bibi nu boga dosa. Ku sabab kitu, ingetan kuring mah leuwih hade buru-buru bae pulangkeun barang-barang nu sejen-sejenna, sangkan ngajadikeun kaentengan kana hukuman bibi.
’’Juragan,’’ R. Ahmad malik ka Enden Komariah, ’’ieu hiji bukti anu teu kenging dibantah deui.’’
Enden Komariah teu ngajawab, tuluy bae nyampeurkeun ka bi Aminah, brek cingogo muntang kana taktak bi Aminah anu keur inghak-inghakan ceurik. ’’Bi,’’ cenah, ’’kuring ngarasa hanjakal, sarehna kudu ngaku kana eta geulang, tapi kuring mah teu percaya, yen bibi anu boga dosa.’’
’’Komariah,’’ cek rakana, "naha teu era deudeukeutan jeung bangsat ?’’
’’Na engkang .......... telenges teuing ..........’’
’’Hayoh ku sia aku !’’ juragan Pansiun istri nambalang, rupana geus teu kuat nahan amarah, ’’awas lamun teu dipulangkeun deui kabeh !’’
’’Naon gamparan anu ku abdi kedah diwangsulkeun deui teh ?’’
’’Naon ? Barang perhiasan Enden anu dipaling ku sia peuting tadi !’’ [ 135 ] Bi Aminah ngabigeug deui, kawas kacida beuratna rek ngaku teh.
’’Bibi,’’ cek R. Ahmad, ’’sakali deui kuring mere inget ka bibi, leuwih hade bibi ngaku bae, da sanajan bibi mungkir oge moal matak jadi kasalametan ka bibi, lantaran ieu bukti anu netelakeun yen bibi anu boga dosana. Lamun bibi ngaku sarta barang-barang anu dipaling ku bibi tea gancang dipulangkeun deui, kuring percaya, hukuman anu bakal ditibankeun ka bibi moal sabaraha beuratna, terkadang bibi dibebaskeun.’’
Bi Aminah ngabigeug keneh bae.
’’Hayoh buru-buru aku !’’ cek juragan Pansiun istri.
’’Su .......... su .......... muhunnn ..........’’ tembal bi Aminah bari meungpeunan beungeutna ku leungeun.
’’Sumuhun teh sumuhun naon ?’’
’’Sumuhun ......... abdi nu ngabantunna ..........’’
’’Tah kitu .......... mun ti tadi sia ngaku teh, ulah musingkeun! Mana barangna sawareh deui ?’’
’’Barang naon ?’’
’’Pek pek, rek ngangles deui bae nya ?’’
Bi Aminah teu daekeun nerangkeun di mana barang-barang nu sejen-sejenna. Digaradah di kamarna, weleh teu kapanggih.
Harita keneh bi Aminah dibawa ku R. Ahmad ka Bandung. [ 136 ]XIX. SEMAH
’’Punten ............’’
’’Tamu engkang,’’ cek Enden Komariah ka rakana, anu harita keur ngawarangkong.
’’Masya Allah,’’ cek Maman, bari jung nangtung; ’’mang Kiai ? Mangga linggih. Tabuh sabaraha ti ditu ?’’
’’Tadi bae enjing-enjing.’’
’’Saena bae nya, henteu sasab. Ka saha mariksakeun ?’’
’’Nanyakeun ka tukang sado bae di setatsion, kaleresan ka nu terangeun.’’
Maman jeung Enden Komariah marunjungan.
’’Mangga linggih,’’ cek Enden Komariah.
’’Mangga,’’ tembalna. ’’Mugi teu jadi bendu bae, pun emang teh dongkap tumorojog kieu, henteu tiasa ngawartosan heula ti anggalna.’’
’’Teu jadi pambengan, Nuhun disumpingan. Puguh diarep-arep pisan emang teh, da eta kapengker aya saur bade sumping tea ka dieu.’’
’’Nya eta anu mawi pun emang ngadeuheus tea oge, saperkawis emut kana jangji, kalih perkawis, hayang jarah bae, ma'lum pun emang mah jelema kurung batok.’’
’’Pun bojo mah rupina hilapeun deui mang.’’
’’Na da teu acan tepang, upami teu lepat mah,’’ cek Enden Komariah.
’’Kapan anu dina album kang Sukardi tea,’’
’’Euh, anu ku engkang disebat Kiai modern ?’’
Maman ingguk, bari seuri. Semah oge imut disebut Kiai Modern teh.
’’Dupi Den Sukardi di mana ?’’
’’Di Bandung di rakana. Parantos aya bae manawi 5 sasih mah ngalihna ti dieu.’’
’’Pun emang teh nyanggakeun bebendu bae, sarehna nalika nampi serat ngawartosan bade nikah tea, teu tiasa dongkap, mung tiasa nyambungan ku pangdu’a bae ti katebihan .............’’ [ 137 ]’’Nuhun mang, da mung pangdu'a para sepuh nu diajeng-ajeng teh,’’ cek Enden Komariah bari tuluy ka jero rek nyayagikeun leueuteun. Teu lila geus torojol deui nanggeuy baki.
’’Bujang ditahan di bui,’’ cek Maman, ’’atuh sagala rupi teh kapaksa kedah prak ku maneh bae.’’
’’Ku naon margina nu mawi ditahan ?’’ tembal semah.
Tina perkara kapalingan tea, kalawan ringkes diterangkeun ku Maman ka semah.
’’Tah ieu mang,’’ cek Enden Komariah ka semah, ’’mung ieu-ieuna bae nu kapendak teh.’’
’’Cobi emang ningalan,’’ cek semah.
Enden Komariah ngalaan geulangna, tuluy dibikeun ka semah.
’’Ku sae geuning. Dupi. nu sapalihna deui teu kapendak ?’’
’’Henteu.’’
’’Manawi emang uninga ka wasta Suparman ?’’
’’Henteu,’’ tembal semah, ’’naha kitu ?’’
’’Tina koper koki tea kapendak aya sawatawis buku basa Walanda sareng basa Inggris anu nganggo cap Suparman sareng Siti Salamah. Rupina eta buku-buku teh kenging maling. Ari numutkeun sangkaan Pulisi mah anu maling barang perhiasan pun bojo teh nya Suparman tea. Namung ari abdi mah ngaraos baliwet ngupingkeun katerangan Pulisi teh. Anu mawi bade ngantos-ngantos kekengingan usudanana bae.’’
’’Moal kitu gaduhna sorangan mah eta buku-buku teh ?’’ cek semah.
’’Teu tiasa jadi, margi tiasa maca oge saeutik-eutikeun-dipapatahan ku pun bojo.’’
’’Siga kumaha rupina ?’’ semah nanya deui.
’’Itu potretna,’’ tembal Enden Komariah bari jung nangtung, nyokot potret tina bilik, tuluy diasongkeun ka semah. ’’Tah nu ieu mang,’’ Enden Komariah nunjuk kana lebah potret bi Aminah.
’’Geuning ngora keneh,’’ cek semah. ’’Dupi nu ieu saha?’’
’’Ieu pun bapa, nu ieu pun biang. Nu ieu bujang, nanging [ 138 ]parantos liren. Nu tiluan deui mah kenal manawi emang ge.’’
’’Riiiiiiingngng ..........’’
Enden Komariah kana telepon.
’’Yaaaa,’’ cek Enden Komariah. ’’Saha ieu teh .......... Euh, juragan Ahmad ? ..... Aya wartos naon ? ..... Kenging ? Nuhun ..... Saha wastana ? ..... Si Abdul tilas bujang abdi tea kitu ? ..... Kumaha dupi barang-barangna ? .......... Dupi geulang ? ....... Aya ? ....... Iraha ka rorompok ?....... Mangga diantos !’’
’’Tah kitu engkang,’’ cek Enden Komariah ka rakana, ’’anu mawi sanggem abdi bi Aminah teu gaduh dosa tea oge, bieu sanggem juragan Ahmad, sadayana oge kapendak deui.’’
’’Geulang ?’’
’’Geulang oge aya.’’
’’Ari eta geulang saha ?’’
’’Geulang bi Aminah manawi.’’
’’Baliwet ien urusan teh. Kapan bi Aminah ngaku sorangan yen manehna anu maling.’’
’’Karunya ku bi Aminah bae abdi mah, nyerieun temen hatena.’’
’’Iraha cenah juragan Ahmad ka dieu ?’’
’’Engke sonten, tabuh 7.’’
Jadi ayeuna aya sapasang geulang. Nu sabeulah nu urang, nu sabeulah deui nu bi Aminah. Ceples taya bedana.’’
’’Tiasa jadi memang papasanganana, nu sabeulah digaleuh ku ibu, nu sabeulah deui dipeser ku bi Aminah.’’
’’Ngan eta anehna teh ku ngaku bi Aminah teh.’’
Pukul 7 panceg, bi Aminah datang diiringkeun ku Raden Ahmad.
Waktu R. Ahmad jeung bi Aminah arasup, jung Kiai Sungkawa nangtung, reup beungeutna geuneuk, ray pias, awakna ngadegdeg, tuluy nyampeurkeun ka nu anyar datang. Panonna molotot mani teu ngiceup-ngiceup neuteup beungeut bi Aminah. Tapi bi Aminah mah tungkul bae.
’’Salamah, ......’’ cek Kiai Sungkawa ka bi Aminah.
Bi Aminah ngarenjag tuluy cengkat, mencrong ka Kiai [ 139 ]Sungkawa, beungeutna pias.
’’Cing sidik-sidik, ....... teu poho ka kaka ?’’
Bi Aminah ngeleper.
’’Kaka, ..........’’ cenah, ’’ya Ilahi Rabiiiiii, ..........’’ leng bae manehna kapiuhan. Upama teu kaburu dirontok ku Kiai Sungkawa mah, tangtu labuh.
’’Salamah, .......... duh Salamah, .......... jungjunan hate, .....kutan aya didieu? Cek Kiai Sungkawa bari ngarangkulan ka bi Aminah. Siga geus leungit kaera, nu keur kapiuhan teh dihantem bae digalentor diciuman.
’’Enden,’’ cek Kiai Sungkawa ka Enden Komariah, ’’cobi nyuhunkeun minyak kolonyo.’’
Enden Komariah lumpat ka jero. Ngan sakeudeung pisan geus jol deui mawa botol minyak kolonyo, tuluy dikocrot-kocrotkeun kana sirah bi Aminah.
Heuleut sawatara menit bray bi Aminah beunta.
’’Kaka,’’ omongna, ’’abdi terang, kaka teh pameget nu sae manah. Abdi cinta ka kaka sarta meh unggal sekon unggal menit emut ka kaka teu aya kendatna; salamina kaka gumawang dina ciciptan. Nanging kaka, da ayeuna mah abdi teh parantos sakieu buktina, teu sawios enggal kantunkeun bae abdi mah.’’
’’Moal panutan, moal dikantunkeun,........... piraku gelo kaka oge ...............’’
’’Nanging kaka, moal pendak sareng kaluginaan sasarengan sareng abdi mah .........’’
’’Sabalikna panutan. Sakitu lilana urang paturay dina sakitu lilana teh kaka teu pisan pinanggih jeung kaluginaan. Kacida teu sangkana sarta kacida ngarasa untungna kaka bisa papanggih deui jeung Am di dieu ...........’’
Bi Aminah ngareret ka Enden Komariah.
’’Enden,’’ cenah, ’’di mana ieu bibi teh ?’’
’’Di dieu bi, di imah urang.’’
’’Kaka, di mana ieu urang teh ?’’
’’Di dieu di bumi juragan.’’
’’Sot atuh ieu ontong kieu, isin.’’ Bi Aminah morosot tina sangkehan Kiai Sungkawa, gek diuk di handap. [ 140 ]’’Eta ulah di handap diukna bi,’’ cek Enden Komariah, ’’itu di luhur dina korsi !’’
’’Teu sawios Enden,’’ tembalna bari tungkul.
’’Sajongjongan mah jep jempe nu araya di dinya teh. Teu lila pok Kiai Sungkawa ngomong kieu: ’’Mugi sadaya para juragan kersa ngahapunten, sarehna abdi parantos ngariweuh-riweuh, ku jalaran teu kiat nahan kasonoan, papendak deui sareng pun bojo anu parantos mangtaun-taun paturay.’’
Nu ngadarengekeun, ngan bengong bae nu aya.
’’Hiji kajadian anu teu disangka-sangka,’’ Kiai Sungkawa neruskeun caritana, ’’sarehna abdi tiasa patepang deui sareng pun bojo di dieu. Kitu sihoreng ari kamurahan Pangeran. Tadi enjing-enjing abdi teh merenyeng bae hayang ka dieu, dupi maksad mah bade nepangan ieu juragan Maman, ari dongkap ka dieu ditambihan deui kabingahan teh ku ditepangkeun deui sareng bojo anu disangka parantos teu aya di kieuna.’’
’’Atuh da jelema mah sanes gunung sareng lebak, nu tara paamprok tea,’’ cek R. Ahmad.
’’Yaktos, teu lepat ............’’
’’Aneh ieu mah,’’ cek juragan Pansiun istri, ’’jadi pun Aminah teh geureuha aji ?’’
’’Sumuhun upami teu acan gaduheun deui salaki mah, margi parantos aya puluhna taun paturay teh ...........’’
’’Ontong nyaritakeun lalakon urang !’’
’’Na make ulah dicaritakeun, da lain perkara kagorengan,’’ tembal Kiai Sungkawa. ’’Nanging samemehna, abdi bade tumaros heula, naha kinten-kintenna moal jadi pambengan, upami abdi ngadadarkeun ringkesna lalakon abdi sareng pun bojo ?’’
’’Mangga, mangga,’’ tembal juragan Pansiun istri, bangun anu pohara palayeunana uninga teh.
’’Ti jaman sasarengan sakola di H.I.S. teras ka Mulo, abdi sareng koki juragan teh parantos pada-pada neundeun katineung. Barang parantos kaluar ti Mulo abdi unjukan ka pun bapa sareng pun biang, hayang gaduh bojo. Nanging duka naon margina, sepuh teh teu doaeun. Ku tina pada ageung duriat [ 141 ]tea, dugi ka wantun ngarempak panghulag sepuh, abdi maksa kawin nganggo jalan wali hakim.
Saparantos ngarangkep, kenging disebatkeun teu papendak sareng kasugemaan laki rabi teh, ku jalaran salamina kenging gangguan ti sepuh, boh anu tumiba ka abdi boh ka pun bojo.
Hiji waktos, nalika abdi teu aya di rorompok, rupina bae pun bojo teh kenging kateungeunah anu ngalangkungan wates ti pun biang, nya dugi ka luas ngantunkeun abdi. Ka abdi ngantunan serat, nyarioskeun teu kiat nandangan rupi-rupi kanyeri ti mitoha. Teras ku abdi disusul ka sepuhna, nanging. teu kasondong. Eta sedihna teh deuih, ku margi nalika miosna teh nuju kakandungan.
Saparantos pun bojo minggat, abdi dipaksa bade dikawinkeun ka hiji budak parawan anak nu beunghar, kadoa sepuh, nanging abdi nolak.
Salamina aya di lembur teu weleh kasuat-suat emut ka pun bojo. Kangge ngabangbrangkeun kasesah, teras abdi unjukan ka sepuh, hayang ingkah ti lembur. Lami-lami kenging katetepan: abdi dibantun ka Mekah ku pun bapa, teras mukim di tanah suci kenging 9 taun.
Ku jalaran teu petot-petot emut ka pun bojo, sanajan dijujurung gaduh deui oge, abdi teh nolak bae.
Ari ayeuna ku Pangeran dikersakeun tiasa tepang deui di dieu ................’’
Nu ngadarengekeun ngembang kadu.
’’Aeh,’’ cek Kiai Sungkawa ka bi Aminah, ’’di mana ari budak ?’’ ’’Maot,’’ tembal bi Aminah bari tungkul.
’’Saha nu maot teh ayi ?" cek juragan Pansiun istri ka Kiai Sungkawa.
’’Pun anak," tembalna. "Awewe lalaki budak teh ?" Nanya deui ka pamajikanana.
’’Lalaki ............’’
’’Umur sabaraha taun maotna ?’’
’’Orok keneh ..........’’ [ 142 ]Sajongjongan mah sepi bae taya nu nyarita. Teu lila pok R. Ahmad ngomong kieu: ’’Pangapunten bae bade nyelang heula, ieu bade nyanggakeun kagungan nu ical tea.’’
’’Kapendak sadayana Aden ?’’
’’Kapendak, malah pinggel oge aya.’’
’’Ari nu kapendak ti bi Aminah, nu saha ?’’
’’Rupina gaduhna bae.’’
’’Yaktos gaduhna, margi ............’’
’’Entong nyaritakeun eta !’’ cek bi Aminah.
’’Margi abdi nu mangmeserkeunana oge," cek Kiai Sungkawa, teu malire kana panyaram bi Aminah.
’’Eta wae ku sarupi.’’
’’Tiasa jadi awitna mah sapasang,’’ cek Maman, ’’nu sabeulah digaleuh ku mang Kiai, nu sabeulah deui ku ibu.’’
Di antara nu araya di dinya, kawasna ngan Enden Komariah nu pohara heranna. Dina pikiranana timbul rupa-rupa ingetan jeung pertanyaan anu tacan bisa kajawab.
’’Nuhun Aden,’’ cek juragan Pansiun istri ka R. Ahmad, ’’dupi bangsatna di mana ?’’
’’Parantos ditahan,’’ tembalna, ’’yaktos tilas rencang di dieu tea.’’
Sanggeus mulangkeun barang-barang perhiasan, R. Ahmad pamitan mulang.
Bi Aminah, ayeuna mah geus lain bi Aminah koki, tapi Siti Salamah bojo Kiai Sungkawa.
Tadina mah rek keukeuh bae mondok di dapur, tapi tangtu bae teu diidinan ku Enden Komariah jeung Maman, sarta dipaksa sina mondok dikamar hareup jeung Kiai Sungkawa, salakina. [ 143 ]XX. SOSONOAN
Paturay geus aya welasna taun, papisah jaman keur ngora, pisah lantaran kapaksa, ayeuna patepung deui, enggeus pada tengah tuwuh. Lamun laki-rabina henteu keuna ku gogoda mah, sabatae geus reuay anak.
Sihoreng sanajan paanggang mangalam-alam, ari tali duriat mah teu weleh nganteng, teu daekeun pegat-pegat. Itu ieu oge henteu robah katineungna, duriat taya lunturna. Henteu beunang disisilihan ku nu lian, buktina kajeun lelengohan bae.
Siti Salamah mah bubuhan awewe, geusan nyingkahan rupa-rupa gogoda teh, dibelaan robah adat robah kalakuan, mapandekeun maneh jeung awewe kampung manyang-munjung, cacah rucah atah warah.
"Kaka," cek Siti Salamah ka salakina, "kantenan kaka kersa ngahapunten kana sagala rupi kalepatan abdi, sarehna abdi parantos kumawantun ngantunkeun."
"Dihampura pisan, da ku kaka ge kama'lum, pangna Am tega ninggalkeun ka kaka teh ku sabab teu kuat nandangan paneung teuinganan ibu bae."
"Teu sangka urang teh bet ngajodo deui pakokolot......"
"Tah ieu nu disebut kamurahan Pangeran teh Am, ganjaran ku nu sabar tawekal."
"Kumaha dupi sepuh-sepuh di lembur jarumeneng keneh ?"
"Puguh bae, ngan ibu geus pupus rupana bae kaleleban ku Am."
"Hawatos ........." Siti Salamah cumalimba, cipanonna nyalangkrung. "Entong lami-lami teuing di dieu teh nya ka, enjing atanapi elat-elatna pageto urang mulih."
"Pageto sugan, isukan urang ka Bandung heula nepungan Den Sukardi, lantaran kaka geus jangji rek nganjang."
"Hayang abdi ge ngajajah Bandung. Ti barang urang kaluar ti sakola tug ka kiwari, nembe dua kali, kitu oge henteu kantos ngajajah, nu sakali ningal bioskop ngomong, nu sakali deui ka pasar peuting sareng Enden Komariah." [ 144 ]"Coba kaka ngadengekeun, kumaha lalakon Am ti barang ninggalkeun kaka nepi ka ayeuna. Jeung dikumaha ku ibu anu matak nepi ka luas ninggalkeun ka kaka ?"
"Perkawis eta ku abdi teu kedah diterangkeun, da moal aya hasilna, mung tiasa nerangkeun putusanana bae : kajadian harita sareng anu parantos-parantos teh, katimbang ku abdi, langkung sae abdi ngejat, tinimbang kedah nandangan kaprihatinan salalamina. Ku kaka kantenan kauninga, abdi mios teh mung ngabantun koper kulit sareng papakean saperluna. Mung perhiasan anu dibantun sadayana teh, kangge perjagian bilih pinanggih sareng bobor karahayuan di satengahing jalan. Sareng tina meja ngabantun sawatawis buku anu katimbang sae kanggo bacaeun di jalan.
Enggal abdi mios ka Bandung. Dina kareta api abdi nguping panumpang-panumpang nyararioskeun enteh naek, malah buruhan kuli-kuli di kontrakan oge ditaekkeun. Tadina abdi bade ngilari padamelan di Bandung, nanging cek emutan, eta mah masih keneh sugan. Henteu diemut panjang, lajeng bae ngiring ka anu bade ka kontrakan tea.
Di hiji kontrakan di pagunungan tanah Bandung kidul, abdi kenging padamelan kana metik. Pangasilanana, ari kangge neda mah nya cekap bae.
Kaka uninga, nalika abdi mios teh nuju kakandungan. Saparantos kenging, opat sasih didamel di kontrakan tea, dina hiji wengi, nuju caang bulan, abdi ngalahirkeun di bedeng. Budakna kasep ngala ka bapa, mung hanjakal pondok umurna. Di kontrakan henteu lami jalaran kabujeng teu betah, ari anu jadi margi ......... rupina ku abdi teu kedah dicarioskeun.
Dina hiji wengi, kinten tabuh dua, abdi minggat ti kontrakan, budak diais ............"
"Har," cek salakina, "kapan tadi cenah budak mah maot?"
"Aeh, sanes budak, koper."
"Terus?"
"Lajeng abdi ka Cianjur, ngabujeng ka hiji haji di lembur Rancabali. Keur betah-betah, aya bae gogoda teh. Hiji [ 145 ]waktos nalika bojo haji tea teu aya, haji nyampeurkeun ka abdi bari alangah-elengeh pok nyarita maksadna .......... nanya ka abdi daek-henteuna dijieun bojona anu kaopat. Kantenan bae ku abdi ditolak sapadamayan.
Buntutna panampik tea, abdi ditundung. Ku telengestelengesna eta haji tea, abdi diteunggeulan, pajahkeun teh abdi maling artos. Anu pohara matak watirna mah, nu sakali neunggeulna teh keuna ka budak ........"
"Tah, geus pok deui bae nyaritakeun budak," salakina megat kalimah, "jadi hartina budak teh hirup sarta dibabawa."
Siti Salamah mencrong ka salakina bari ngegel biwir, nyeh imut. "Ih, ngan kacaletot bae," cenah.
"Jadi hartina budak teh hirup ?"
"Hirup .........."
"Di mana ayeuna ?"
"Engke atuh heula !"
"Geus gede meureun nya?"
"Parantos parawan......."
"Nu bener atuh nyarita teh, bet kawas ka nu sejen bae ! Awewe lalaki budak teh ?"
"Awewe ........."
"Terusna kumaha ?"
"Paneunggeul teh keuna kana leungeunna, dugi ka baloboran getih, da neunggeulna ku bebekan suluh, mangkaning budak orok beureum keneh.
Ti Rancabali abdi ngabujeng ka Sukabumi. Kaka ........ di Sukabumi kapaksa abdi paturay sareng budak. Dupi margina kieu : Eta budak ku abdi dibantun atrok-atrokan, dibantun papanasan popoekan, teu kinten bae hawatosna teh. Kariduan ku abdi henteu dipake ngarasula, da sato oge geuning aya nu sok ngababantun anak. Nu dianggo sedih teh eta ku dibantun sangsara. Parantos puguh abdi niah sangsara salalamina, hayang teh budak mah ulah. Kalihna ti eta, upami dibabantun ku abdi, upami hirup tea mah, kantenan mung saukur hirup, moal jadi jelema utama. [ 146 ]Gilig hate abdi, budak teh bade ditunda bae di Sukabumi. Wengi, di warung pangrereban, abdi nyerat, maksadna mah mere budak ngaran nyi Nurwulan. Ari anu mawi dingaranan kitu jalaran dilahirkeunana nuju caang bulan. Eta serat dianggo mungkus geulang rantay kenging ngagaleuh kaka tea. Malah dina seratna ge disebatkeun: upami parantos gede supados dipakekeun.’’
’’Duanana dibahankeun?’’
’’Henteu, mung sabeulah. Nu sabeulah deui mah disimpen bae ku abdi.’’
’’Ayeuna nu sabeulah deui aya di geureuha Den Maman.’’
’’Abdi oge teu ngartos naon margina anu mawi aya di Enden Komariah. Duka memang sakarupi bae duka leres pasanganana. Saparantos kitu,’’ Siti Salamah neruskeun caritana, "kinten tabuh 3 wengi abdi mios ti pangrereban. Sajajalan abdi ningalan rorompok anu sakinten rada sae, namung milihan rorompok bangsa urang. Ret abdi ningal merek unina Rd. Sastraatmaja, dina tihang hiji rorompok anu kaetang sae oge. Teras bae abdi mengkol ka buruanana, sok budak kenging nyimbutan teh digolerkeun di tepas. Kasedih abdi harita kantenan ku kaka oge kama’lum ..........’’ Siti Salamah eureun nyaritana diselang heula nyusutan cipanon.
’’Terus kumaha ?’’ cek salakina.
’’Kebat abdi ka Batawi !
Rupina di sakolong langit, nembe abdi bae sorangan hiji awewe kaluaran Mulo nu ngalaman jadi tukang nyeuseuh.’’
’’Ah, eta mah salah Am sorangan, da piraku sugan upama pangarti Am dipake mah nepi ka kitu.’’
’’Di Batawi abdi nyewa petak Rp.1,50. Ah kaka, moal aya bae sugan kasangsaraan anu sapertos harita mah. Anu jadi gangguan kana katetepan hirup di hiji-hiji tempat teu aya sanes mung .......... rupa. Sanes abdi umangkeuh ku kageulisan, da teu geulis, mung eta bae, .......... deui-deui gogoda teh jolna ti pihak lalaki anu mikahayang ka abdi.
Kinten tabuh 8 wengi, nalika abdi nuju ngerodan samping, teu kanyahoan deui parantos aya hiji lalaki anu ngabedega di [ 147 ]hareupeun. Duka kumaha kajadianana upami kirang-kirang ngalelemuna mah. Ku abdi didongengan, upami mikahayang ka abdi mah kedah nganggo jalan anu sah, hartosna kedah kawin. Upami bade maksa mirusa, kajeun teuing nemahan pati.
Eta lalaki, bang Amat wastana, jangji bade ngawin sarta menta tempo 3 dinten. Kangge nyingkiran ieu gogoda, enjingna abdi mios. Ku jalaran teu gaduh ongkos, ngagadekeun heula panitih di Mester. Harita keneh teras bae ka setatsion, meser karcis ka Bandung. Enjingna kaleresan kenging padamelan, jadi babu di hiji Komis di Sukajadi. Tah di dieu mah kaetang rada lami oge didamel teh. Keur betah-betah, dunungan teh dilepas tina padamelanana, atuh kapaksa abdi oge liren. Rupina bae ku margi karunyaeun ka abdi, memeh marulih teh, mangmilarikeun heula padamelan ka abdi. Tiasa oge hasil, abdi jadi koki deui di Mas Tata, sudagar batik di Pasar Baru. Dunungan anyar, budak ngora, masih keneh bubujangan. Milik diri abdi sapertos anu parantos-parantos bae, malah di Mas Tata mah teu kenging sasasih-sasasih acan, teras bae abdi minggat deui nyingkahan jahanam anu taya rasrasan. Awak abdi asa ajur disiksa, nalika napsu jahanamna ku abdi ditolak.
Ti Bandung abdi leumpang ka Cimahi. Di payuneun gedong ieu pisan abdi liren, kapendak ku Enden Komariah sarta dianggo babu di dieu dugi ka ayeuna.
Lami-lami ku abdi kanyahoan, sihoreng Komariah teh anak urang kaka !"
Kiai Sungkawa olohok bae sajongjongan mah.
"Bener ?"
"Sumuhun."
"Naha henteu nyarita ti tatadi?"
"Kapan ayeuna diunjukkeun."
"Kumaha Komariah geus nyahoeun, yen indungna ?"
"Terangeun ti mana?"
"Nepi ka ayeuna acan nyahoeun ?"
"Teu acan."
"Teu nyaah ka nu jadi anak?"
"Nya eta ku margi nyaah." [ 148 ]’’Teu kaharti, geus nyaho eta teh anak sorangan, teu ngabejakeun maneh.’’
’’Naon perluna ?’’
’’Perluna mah supaya nyahoeun bae indungna nu bener.’’
’’Ku abdi dijagi pisan supados ulah dugi ka terangeun, dupi margina kieu Saperkawis, Komariah henteu terangeun yen manehna anak pulung juragan Pansiun. Naon perluna abdi hiji koki, jelema hina, nerangkeun maneh yen abdi indungna, anu ngandung hartos ngarebut deui Komariah anu ku abdi parantos dibikeun mutlak, sanajan henteu nyuhunkeun heula paidin ka nu jadi bapana oge. Teu raoseun temen ibu-ramana upami kajadian kitu. Deui, kangge Komariah oge teu acan kantenan atoheun upami abdi nerangkeun maneh yen abdi indungna, da puguh abdi mah kieu sare'atna. Malah boa moal percayaeun.
Kalih perkawis, upami abdi ngabejakeun maneh teh, sami bae sareng teu nyaah ka nu jadi anak, margi upami Komariah dugi ka terangeun yen abdi indungna, sanes bae bakal ngaraos darajatna atanapi kahormatanana jadi turun - ku kaka oge kantenan kama'lum, putra wadana pansiun, benten deui sareng anak koki hina -- namung tiasa oge ngirangan kanyaah ibu-rama-pulungna ka anak urang.
Katilu perkawisna : tiasa jadi Komariah kandel kamanusaanana, dugi ka pikirna tibalik, tamplok kanyaahna ka abdi, miindung ka indung teges, ngapilainkeun ka indung-pulung sareng ka bapa-pulungna, anu ngurus manehna, mikanyaah manehna ti leuleutik, anu mikanyaahna teh kawas ka anak teges bae.
Upami kajadian kitu, bade kumaha abdi ? Naha nyaah ari kitu ka nu jadi anak? Anak urang parantos aya dina kamulyaan, hirupna diajenan ku sasama kaula, naon perluna ku abdi diutik-utik, naon paedahna diaku deui anak, anu ngandung hartos nurunkeun darajatna, kahormatanana sareng kamulyaanana.
Ku ningal anak pinanggih sareng kasenangan oge, parantos [ 149 ]bingah anu taya babandinganana. Kitu margina anu mawi nalika geulangna leungit sarta nalika abdi digaradah kapendak papasanganana, ku abdi diaku bae yen yaktos abdi nu malingna, kangge ngajagi supados rasiah abdi ulah dugi ka kaboker, margi upami diterangkeun mah kumaha sarsilahna, ngandung hartos abdi ngabejakeun maneh yen abdi indungna. Sedeng eta teh ku abdi dijagi pisan, nya eta ku margi nyaah tea, hayang ngajagi kahormatanana. Anu mawi sawios abdi bae nandangan hukuman tinimbang anu jadi anak pinanggih sareng katugenahan.
Tah kitu margina, anu mawi satadina mah bapana oge moal diwartosan yen Komariah teh anak urang. Nanging da ayeuna mah parantos uninga, kantun nyanggakeun panuhun bae ka kaka, mugi kaka kersa nyimpen ieu rasiah, ulah dugi ka terangeun yen urang teh indung-bapana."
"Emh, teu sangka teuing," cek salakina bari unggeuk-unggeukan, "kitu geuning ari kamurahan Pangeran. Sihoreng kaka merenyeng hayang ka dieu teh, rek ditepungkeun jeung anak pamajikan ...........
Kumaha mimitina Am nyaho, yen Komariah anak urang ?"
"Ngawitanana abdi dibawa lalajo, bioskop. Harita geulang rantayna dipake. Ku pamenta Den Sukardi, geulang teh dilaan, hayang ngilikan cenah. Abdi oge kantos ningalan. Ujug-ujug teg bae sangkaan teh, margi ningal geulang sidik anu ku abdi dibahankeun ka orok tea.
Katerangan nu sanes, nya eta jenengan ramana teh Sastraatmaja. Komariah sorangan sok nyarita kungsi ngumbara di Sukabumi, malah dilahirkeun mah di Sukabumi cenah.
Deui, ku abdi sering katingal ari tas mandi aya ceda dina leungeunna, tapak paneunggeul haji edan tea di Rancabali.
Kalihna ti eta, manehna sok nerangkeun, yen ngaranna keur leutik teh Nurwulan, tapi ku lantaran timbangan ibu-ramana alus teuing, nya digentos ku: Komariah.
Bukti nu sanesna kangge ngayakinkeun yen anak urang. Komariah...... sarimbag pisan sareng bapana, mani kawas terong dibeulah dua .........." [ 150 ]Nepi ka dieu Siti Salamah eureun nyaritana. Meunang sajong-jongan mah paheneng-heneng bae.
Keur kitu, trok- trok- trok, aya nu ngetrokan panto. Bray panto teh muka, da teu disosikeun. Sihoreng Enden Komariah. anu geus lila ngintip di luar ngadengekeun dongengna Siti Salamah. Selenteng, gabrug bae ngarontok ka ibu-ramana dina ranjang.
’’Ibu ......... apa, ....... ieu abdi .....’’
Ngadenge Enden Komariah sumambat bari nyuuh kana lahunan, segruk bae Siti Salamah ceurik mani kapati-pati.
’’Aduh eulis jiwaningwang, Komariah jantung ati, deudeuh teuing tungtung nyawa, nu bageur nu suci ati, panutan lahir batin, teu sangka sacongo buuk, bakal kieu temahna, kersaning Gusti Yang Widi, dikadarkeun jeung eulis bisa patepang.
Enggeus sakitu lawasna, babarengan reujeung eulis, ibu henteu terus-terang, lain ibu henteu asih, tangtu eulis ge ngarti, hal eta kudu dima'lum, nyaah taya hinggana, da puguh anak pribadi, najan eulis sare'atna mah dunungan.
Ibu teh geus ti baheula, hayang ngarangkul ka eulis, hate mah geus kekejotan, ngan kahalangan ku risi, risi inggis ku bisi, bisi matak jaheut kalbu, jaheut ka ibu-rama, anu mideudeuh miasih, bisi pajar ibu teh ngarebut anak.
Enggeus eulis tungtung nyawa, repeh eulis ontong nangis, geura munjungan ka apa, apa sonoeun ka eulis, najan sare'at laip, ieu teh bapa nu estu, nu jeung urang paturay harita eulis can lahir, masih keneh eulis aya ’na kandungan ...........’’
Enden Komariah dirangkul bari diciuman ku ibu-ramana. [ 151 ]XXI. PANUTUP
Sanajan dibuni-buni oge ku juragan Pansiun istri pameget, sangkan putra pulungna ulah nepi ka nyahoeun yen tadina budak timu, tapi ari geus kitu mah teu bisa kumaha.
Waktu Kiai Sungkawa jeung bojona, Siti Salamah, marulang ka Tasikmalaya, Enden Komariah jeung Maman, nya kitu deui juragan Pansiun istri pameget, jarajap.
Di Tasikmalaya meunang saminggu.
Heuleut tilu bulan Kiai Sungkawa oge pindah ka Cimahi, lantaran Enden Komariah geus jol deui-jol deui nyuratan nitah pindah, basana hayang riung mungpulung.
Kiai Sungkawa meuli imah anu pernahna teu jauh ti bumi juragan Pansiun sarta neruskeun ngawuruk ngaji nepi ka ayeuna.
Siti Salamah ngandeg, heula pandeuri bae ngandegna teh jeung Enden Komariah.
Ari Sukardi, nepi ka ieu carita ditulis, can boga pamajikan keneh bae.
Saminggu sakali sok ka Cimahi ngadon diajar ngaji ka Kiai Sungkawa, bareng jeung Maman, nya kitu deui Enden Komariah.
Sukardi sok ditanya ku Enden Komariah naon sababna nu matak henteu buru-buru boga pamajikan, jawaban teh sok pondok bae: ”Saayeuna engkang tacan bisa micinta awewe sejen.”
T A M A T